Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Sikap Canggung


__ADS_3

Hari berikutnya, Azalea kelihatan sekali jika menghindari dari Reynand. Walaupun mereka berdua tidur bersama dalam satu ranjang, tetapi gadis itu jelas-jelas meletakkan guling di tengah mereka sebagai pantas. Lantas, Azalea pun tidur di pinggir ranjang yang dengan satu dorongan saja ia pasti akan jatuh ke lantai yang dingin.


Sementara itu, di pagi hari Azalea akan bangun saat dirinya telah memastikan jika Reynand telah keluar dari kamar. Reynand memang rajin lari pagi, baik saat berada di rumah atau di saat liburan seperti ini.


Jika beberapa saat lalu, Azalea sempat menemani lelaki itu lari pagi. Sekerang, setelah mengetahui apa yang dilakukan Reynand terhadapnya, Azalea tidak berniat sama sekali untuk lari lagi bersama.


Begitu bangun, Azalea bergegas membersihkan diri, berganti pakaian dan menghabiskan sarapannya. Ia harus segera pergi sebelum Reynand kembali. Tidak masalah jika dirinya menikmati liburan dengan sendirian, daripada harus disantap oleh singa yang kelaparan.


Azalea menyusuri pinggiran pantai yang cukup jauh dari tempatnya menginap. Ia menenteng sandal yang dipakai agar tekstur dari pasir bisa dirasakan langsung oleh kulitnya.


Azalea menoleh kala mendengar suara gelak tawa seorang anak yang kira-kira berusia empat tahun. Gadis kecil itu berlari ke sana kemari dengan seorang lelaki dewasa yang mengejar. Azalea pikir lelaki tersebut adalah ayah sang anak. Tanpa sadar, senyumnya terbit. Pemandangan itu terlihat sangat membahagiakan.


Ketika si gadis kecil tiba-tiba saja berlari ke arahnya, Azalea seketika berjongkok dan menyambut kedatangan sang gadis. Ia begitu saja memeluk gadis kecil itu, lalu membawa dalam gendongan.


"Hei, siapa nama kamu?" tanya Azalea antusias. Ia merasakan kebahagiaan terkembang di dalam hati, melupakan kekesalan yang dirasakan beberapa hari ini.

__ADS_1


"Malia," ucap gadis berkuncir dua itu dengan khas cedalnya.


Azalea mengernyit bingung, tidak mengerti apa yang dikatakan gadis dalam gendongannya tersebut.


"Namanya Maria, Aunty." Lelaki berkaus hitam dengan stelan celana jins selutut berjalan mendekat, tangannya terulur mengelus kepala sang putri.


Kemudian lelaki itu mengulurkan tangan ke hadapan Azalea. Ia memperkenalkan diri.


"Arkan," katanya dengan senyum ramah.


"Azalea," ujarnya sopan. Lantas, ia mencium pipi gembil Maria dengan gemas.


Azalea cukup beruntung bertemu gadis itu, sebab dengan begitu dua hari terakhir liburannya dirinya akan memiliki teman. Mereka langsung saja akrab, seperti dua orang yang telah lama kenal.


Kali ini, Azalea yang gantian berlari mengejar Maria yang berlari kencang. Di belakang mereka, Arkan berjalan cepat mengawasi gerak gerik keduanya. Mereka bertiga layaknya pemandangan keluarga yang bahagia.

__ADS_1


Tanpa terasa, hari pun menjelang siang. Maria yang kelelahan merengek meminta makan. Arkan mengajak sang putri untuk makan di restoran terdekat, tidak lupa ia juga meminta Azalea agar turut serta.


Azalea ingin sekali menyuapi Maria. Namun, gadis kecil itu tidak mau disuapi. Maria ingin makan sendiri. Dan, kemandirian sang gadis cukup membuat Azalea takjub.


Makan siang itu diiringi dengan obrolan ringan seputar kegiatan dan berapa lama mereka di sini.


"Jadi, kamu sama siapa di sini?" tanya Arka sambil mengelap mulut Maria yang belepotan.


"Sama seseorang, sih, tapi aku lagi ingin jalan-jalam sendiri. Beruntung sekali karena ketemu kalian. Aku bisa menghabiskan waktu liburanku dengan sangat menyenangkan," kata Azalea menjelaskan tanpa memberi tahu siapa seseorang yang dimaksud.


"Beneran besok kamu akan pulang?" Pertanyaan itu dibalas anggukan Azalea, seketika senyum lebar terkembang di wajah Arkan. "Berarti kita barengan, dong!" lanjut Arkan lagi dengan antusias.


Lagi asyiknya mengobrol, tiba-tiba saja suara dehaman keras menginterupsi perbincangan mereka.


Azalea menoleh dan terkejut saat mendapati Reynand yang berdiri kaku di samping tempat duduknya.

__ADS_1


__ADS_2