Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Obrolan Santai


__ADS_3

"Jadi, kamu udah tahu dari kapan tentang siapa pelaku sebenarnya?" Azalea bertanya dengan raut serius. Ia meletakkan tangannya ke dagu, meninggalkan buku pelajaran yang tergeletak di atas meja.


Malam ini, keduanya memutuskan untuk tidak langsung masuk ke kamar masing-masing setelah makan malam. Mereka memilih untuk mengobrol sebentar, di samping membahas pelajaran yang akan diujiankan besok. Reynand membantu Azalea memahami mata pelajaran yang belum dimengerti.


"Selesaikan dulu belajarnya, baru bahas masalah di sekolah tadi pagi." Reynand berkata tegas, dan tentu saja berhasil memancing wajah cemberut Azalea.


"Aku, tuh, penasaran tauk. Tadi setelah pulang kamu malah pergi, kan. Aku ditinggal gitu aja di apartemen. Rasa penasarannya udah sampai ubun-ubun." Azalea bersikeras untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan. Pasalnya, Reynand baru pulang saat waktu makan malam tiba. Untung saja lelaki itu berinisiatif membeli makan malam, kalau tidak Azalea pasti sudah sangat kelaparan.


"Selesaikan dulu belajarnya, baru aku ceritakan." Reynand tersenyum tipis, tangannya terulur untuk mengelus lembut kepala Azalea. Seketika itu juga, kedua bibir gadis itu pun terkatup rapat. Lantas, Azalea kembali menghadap buku di atas meja, mengambilnya dan meletakkan di atas pangkuan.


"Udah belajar rajin pun enggak pinter-pinter. Biasa aja." Azalea menggerutu pelan.


Di sekolah, Azalea memang bukan termasuk murid yang meraih peringkat tertinggi di kelas. Namun, ia tidak pernah turun dari peringkat sepuluh besar. Cukup lumayan untuk siswa yang katanya malas belajar. Jika diasah lebih lanjut, bisa jadi Azalea akan meraih juara.


"Belajar itu bukan untuk pintar atau enggak pintar. Belajar itu adalah tanggung jawab seorang pelajar. Kamu pelajar, jadi tugas kamu adalah belajar. Kalau kau pekerja, tugas kamu pastilah bekerja." Jawaban yang diberikan Reynand justru menambah suasana hati Azalea semakin buruk.


"Oke. Aku belajar, lima belas menit lagi ya," kata Azalea pada akhirnya.


"Kalau nilai kamu naik dari semester sebelumnya kamu mau hadiah?" tanya Reynand memberikan penawaran.


Kepala Azalea kontan menoleh. Matanya berbinar seakan bintang yang berkelip di langit malam kini berpindah ke matanya. Hal itu tentu saja memancing keterpesonaan seorang Reynand terhadapnya. Reynand mengerjap pelan, memandang keindahan di hadapan.

__ADS_1


"Kalau liburan?" tanya Azalea antusias. Matanya mengerjap lucu membuat wajahnya tampak imut nan menggemaskan.


"Liburan ke mana pun kalau kamu dapat juara tiga besar. Oke. Deal." Reynand berkata lembut. Sebelum Azalea membantah atau memiliki penawaran lain, ia sudah memajukan wajahnya memgunci janjinya kepada Azalea lewat tautan bibir mereka.


"Kita sudah saling berjanji. Kamu harus belajar dengan giat agar dapat juara tiga besar," kata Reynand dengan napas tersengal. Ia tersenyum tipis kala melihat wajah Azalea yang berubah merah, seperti kepiting rebus.


"Sekarang lanjutkan belajarmu. Waktunya lima belas menit lagi. Aku akan buatkan susu hangat untukmu." Reynand berdiri begitu saja dari sofa, lalu melangkah lebar menuju dapur meninggalkan Azalea yang ternganga.


"Sudah lima belas menit," kata Azalea ketika alarm di ponselnya berbunyi. Ia memang sengaja menyetel alaram saat Reynand pergi tadi agar tidak terlewat waktu lima belas menitnya. Lantas, ia pun menandaskan susu hangat yang telah dibuatkan sang suami, merapikan peralatan belajarnya kemudian duduk bersila di ataa sofa dengan tubuh lurus menghadap Reynand.


Reynand tersenyum. Ia mengangkat satu kakinya, bertumpu dengan kaki yang lain kemudian tubuhnya miring menghadap Azalea.


"Ya, aku sudah mengumpulkan bukti-bukti dibantu oleh siswa dan guru. Makanya pekerjaanku cepat diselesaikan dengan baik." Reynand membalas tatapan Azalea.


"Sudah diamankan. Kalau mereka belum berani sekolah, mereka akan ujian di rumah masing-masing. Nanti tim guru yang akan datang ke rumah mereka--"


"Kalau Mona?" Azalea menyela cepat.


"Mona bukan termasuk korban. Dia saksi. Orang yang melaporkan kasus itu ke guru, tapi cepat ketahuan oleh Rion. Akhirnya, Rion mengancam Mona. Mona mengalami kecelakaan makanya dirawat di rumah sakit." Reynand menjelaskan panjang lebar.


"Apa dia terluka parah?" Air mata Azalea mengalir begitu saja. Kesedihan menyelimuti hatinya mendengar kabar tragis dari sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sempat koma. Tapi sekarang sudah membaik. Untuk sementara dia dan keluarganya akan pindah rumah sampai rasa trauma Mona teratasi. Sebab, kecelakaan yang terjadi bukanlah murni kecelakaan ...." Perkataan Reynand menggantung di udara. Azalea bisa menebak kelanjutan kalimat itu.


"Dia dicelakai oleh Rion itu, kan?" tanya Azalea memastikan. Dan, anggukan kepala Reynand membuatnya semakin menangis.


Detik berikutnya, Reynand menarik tubuh Azalea ke dalam pelukan. Lelaki itu begitu sabar menenangkan sang istri menumpahkan kesedihan di dadanya.


Cukup lama Azalea manangis, sampai tertidur di pelukan Reynand. Lelaki itu pun membopong tubuh istri kecilnya menuju kamar. Ia menurunkan dengan hati-hati, menarik selimut sampai menutupi dada Azalea. Reynand mematikan lampu, dan menyalakan lampu tidur. Sebelum keluar, ia mengecup kening Azalea lama.


***


Pagi itu, kelas begitu hening karena ujian tengah berlangsung. Tidak lagi ada kasak-kusuk ataupun gosip seputar yang pernah terjadi sebelumnya. Semuanya, seolah telah dimulai dari awal. Para murid fokus pada kertas ujian di meja mereka masing-masing.


Seperti mendapatkan wahyu, Azalea mengisi lembar ujiannya dengan capat dan lancar. Ia tidak menyangka apa yang dipelajarinya di rumah akan keluar semua. Ujiannya pun bisa dilewati dengan mudah. Azalea bertekad akan mengucapkan terima kasih yang banyak kepada sang suami karena telah membantuny belajar.


Sementara itu, sebelum sekolah menemukan pengganti kepala sekolah yang tepat, Reynand lah yang bertanggung jawab sampai kandidat ditemukan. Untuk itu, pekerjaan yang diembannya pun semakin banyak. Selain pekerjaan di sekolah, ia juga harus menyelesaikan pekerjaan di kantor. Setiap hari Reynand harus pulang malam. Ia cukup sibuk.


Malam itu, Reynand mendapati Azalea meringkuk di sofa depan televisi. Beberapa hari ini ia memang tidak bisa membantu Azalea belajar. Lelaki itu cukup menyesal atas apa yang terjadi sekarang ini. Secara perlahan, ia angkat tubuh sangat istri untuk dipindahkan ke kamar. Belum sampai di kamar, gadis itu menggeliat dan membuka mata.


"Kamu sudah pulang? Udah makan apa belum? Semingguan ini kita tidak pernah makan malam bersama." Azalea beetanya, kedua tangannya masih melingkar erat di leher Reynand.


"Hmm. Maafkan aku. Tadi aku sudah makan di kantor. Ini sudah jam sepuluh malam. Apa kamu belum makan?" Reynand berkata sambil terus berjalan menuju ranjang. Ia menurunkan Azalea secara perlahan dan hati-hati seperti porselin yang sangat berharga.

__ADS_1


"Aku juga udah makan. Enggak tahan nungguin orang sibuk pulang kerja." Azalea terkekeh pelan yang dibalas dengan ringisan oleh Reynand.


"Sekarang tidurlah. Besok hari libur, kita ke rumah orang tua kamu." Reynand mengelua kepala Azalea kemudian mendaratkan kecupan di kening, dan berpamitan untuk beristirahat.


__ADS_2