Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Kekhawatiran Reynand


__ADS_3

Reynand duduk dengan gelisah. Asisten sekaligus sahabatnya itu harus mengingatkan dirinya berulang kali, sebab Reynand sering tidak fokus pada jalannya rapat. Lelaki itu sebentar-sebentar menatap layar ponsel yang mati.


"Bro, fokus. Kita lagi rapat penting, nih," bisik Jonathan yang duduk di samping Reynand.


Jo sudah lama bekerja dengan Reynand, terlebih hubungan persahabatan mereka yang sudah terjalin sejak di bangku kuliah, membuat status atasan dan bawahan yang terlihat santai. Keduanya tidak terlalu mempermasalahkan status itu. Terbukti dari sikap santai dan panggilan yang non formal di antara keduanya.


Reynand bergumam lirih. Ia menghela napas panjang, dan menautkan kedua tangannya di atas meja. Di seberang sana Tuan Ramond, yang menjadi tamunya hari ini sedang menjelaskan sesuatu.


Kerja sama ini sudah lama dinantikan oleh Reynand. Tidak seharusnya dirinya justru mengabaikan lelaki itu. Ia pun membalik ponselnya agar pikirannya bisa fokus.


'Sebentar lagi,' bisik Reynand di dalam hati, memberi kekuatan pada diri sendiri.


Akhirnya, setelah berkutat selama tiga jam, Reynand dan Tuan Ramond mengkahiri pertemuan mereka dengan saling berjabat tangan dan melempar senyum. Kesepakatan yang diharapkan pun bisa didapatkan. Selanjutnya, Reynand dan beberapa karyawannya mengantarkan kepergian sang tamu sampai lobi kantor.


Setelah para tamu masuk ke mobil, lalu kendaraan roda empat itu meluncur meninggalkan gedung itu, barulah Reynand kembali menuju ruangannya. Ia sudah tidak sabar untuk segera pulang.


Sesampainya di ruangan, betapa terkejutnya Reynand ketika mendapatkan laporan bahwa makanan yang ia kirimkan lewat anak buahnya justru kembali ke kantor. Itu artinya Azalea tidak menerima pesanannya.


"Jo, gue pulang duluan ya. Urusan yang lain lo atur aja, entar laporan ke gue." Reynand memeriksa ponselnya, betapa kecewanya saat tidak menemukan notifikasi apa pun dari sang istri.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan istri kecil lo itu? Lo bilang bakalan nahan diri untuk enggak nyentuh dia sampai lulus, ini, kok--"


"Lo apa-apaan, sih? Ngaco aja kalau ngomong!" sela Reynand cepat dengan raut kesal.


"Lha, jadi karena apa, dong?" Jo bertanya dengan raut serius. Dan itu, semakin menambah kekesalan Reynand.


"Ah, sudahlah. Lo enggak bakalan ngerti." Reynand berujar ketus. Lantas, ia segera mengambil tas kerjanya dari atas meja, lalu melangkah keluar dari ruangan.


"Lo udah jatuh cinta beneran ternyata." Gumaman Jonathan masih bisa didengar Reynand.


Sepeninggal atasannya, Jo langsung menghubungi sopir pribadi sahabatnya itu. Ia tahu kalau Reynand sedang tidak fokus.


Sementara itu, di lobi kantor Reynand cukup terkejut karena mobilnya sudah siap di depan pintu. Sang sopir pun sudah berdiri di samping mobil, bersiap membukakan pintu untuknya.

__ADS_1


"Jonathan yang menghubungi Bapak ya?" tebak Reynand dan langsung mendapatkan anggukan dari laki-laki yang rambutnya sudah memutih tersebut.


Reynand masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku belakang. Ia membuka ponsel, lalu mengetik pesan untuk sahabat sekaligus asistennya itu.


"Lumayan juga gue memperkerjakan lo. Enggak sia-sia."


Reynand mengirim pesan sambil tersenyum. Beberapa detik kemudian, pesannya telah terbaca. Jonathan mengirimkan balasan untuknya.


"Lo ngeremehin gue?"


"Pekerjaan mudah begitu, satpam pun bisa. Enggak harus menjabat sebagai asisten seorang Reynand Adanu Emery."


Reynand tertawa lebar. Ia bisa membayangkan ekspresi marah Jonathan. Ia memilih untuk tidak menanggapi pesan itu. Reynand memasukkan benda pipih itu ke saku celana. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, matanya terpejam. Reynand menunggu mobilnya melaju membelah jalanan dengan perasaan gelisah.


Sesampainya di depan apartemen, Reynand langsung melompat keluar dari mobil. Tanpa menutup pintu, lelaki itu berlari menuju lift. Perasaan gelisah karena khawatirnya tidak bisa disepelekan begitu saja.


Selama di dalam lift, Reynand mencoba menghubungi nomor Azalea. Namun, lagi-lagi panggilannya diabaikan, tidak mendapatkan jawaban.


Reynand berlari keluar dari lift yang pintunya terbuka. Ia berbelok ke lorong tempat unitnya berada. Dengan tidak sabaran ia menekan digit-digit password pada pintu. Reynand menutup pintu apartemen menggunakan kaki, lalu lempar tas kerjanya ke sofa begitu tubuhnya. Satu tujuannya sekarang yaitu kamar Azalea.


Rupanya pintu kamar gadis itu dikunci. Reynand masuk ke kamarnya sendiri, mencari kunci cadangan. Saat melewati ruang tengah, ia mendapati ponsel milik Azalea tergeletak di atas meja. Pantas saja panggilannya tidak membuahkan jawaban. Sang pemilik ponsel dan benda itu terpisah jauh.


Reynand berhasil membuka pintu kamar Azalea. Ia melangkah cepat dengan napas ngos-ngosan. Kegelisahan di dalam hatinya membuatnya berkeringat.


Reynand mendapati Azalea berbaring di ranjang. Mata istri kecilnya itu memejam. Ia melangkah lambat mendekati ranjang, lalu duduk di samping gadis yang tidak terusik dengan kedatangannya.


Reynand tatap wajah Azalea yang tertidur. Napas gadis itu teratur. Ia berjingkat, lalu turun dari ranjang saat tubuh Azalea menggeliat. Kaki kanan Azalea keluar dari selimut, gaunnya tersingkap memperlihatkan kaki mulusnya. Namun, ada sesuatu yang membuat Reynand mendelik. Lutut gadis itu tampak memar.


Reynand mengitari ranjang, berdiri membungkuk untuk melihat lebih jelas memar di kaki Azalea.


"Apa yang terjadi?" lirih Reynand berbicara. Lantas, ia pun segera keluar dari kamar itu menuju tempat penyimpanan kotak obat-obatan. Ia mengambil salep dan kembali ke kamar Azalea.


Reynand duduk di pinggir ranjang. Ia angkat kaki Azalea dan diletakkannya ke pangkuan. Reynand mengoles salep ke lutut Azalea sembari meniup-niup. Kepalanya penuh oleh pertanyaan kejadian apa yang telah menimpa gadis itu. Reynand menunggu dengan sabar sampai Azalea bangun.

__ADS_1


Reynand tidak menunjukkan ekspresi kala mata Azalea mengerjap terbuka. Gadis itu mengucek mata, lalu duduk bersandar kepala ranjang. Azalea mengambil bantal, diletakkannya ke pangkuan dengan kaki yang diluruskan.


"Kamu udah pulang?" tanya Azalea dengan suara serak khas bangun tidur.


Reynand menjawab dengan gumaman pelan dan anggukan kepala. Lantas, matanya tertuju pada kaki Azalea yang tertutup selimut.


"Apa itu masih sakit?" tanya Reynand khawatir. Lantas, ia menatap lekat pada Azalea yang kini menyelipkan anakan rambut ke belakang telinga. Wajah gadis itu memerah. Kali ini, Reynand sulit mengartikan ekspresi itu.


Azalea sedang malu-malu atau marah padanya?


Jujur saja, beberapa bulan tinggal bersama, Reynand belum pernah melihat Azalea marah. Hanya pernah ngambek saat merasa cemburu saja. Itu pun bisa diselesaikan dengan baik.


"Kamu sudah siap-siap, ya?" tanya Reynand lagi. "Aku minta maaf karena rencana kita hari ini harus ditunda." Reynand cukup bingung menghadapi cewek yang marah. Apa yang harus dilakukannya?


"Apa kita harus ke dokter?"


Pertanyaan-pertanyaan yang Reynand ajukan tidak ada satu pun yang mendapatkan jawaban.


"Kamu juga belum makan, kan? Selama rapat aku enggak bisa konsentrasi. Aku memikirkan kamu. Makanan yang aku kirim bahkan tidak kamu terima dan balik lagi ke kantor. "


"Kamu mengirim aku makanan?" tanya Azalea pada akhirnya.


"Iya." Reynand mengangguk berulang kali.


"Aku mau menjenguk Mona." Mata Azalea berkaca-kaca.


"Maaf, kesibukanku hari ini di luar rencana--"


"Kalau enggak bisa nepati janji, jangan membuat janji," sela Azalea cepat.


Perkataan itu seperti tamparan telak bagi Reynand.


"Oke. Akan aku ingat."

__ADS_1


__ADS_2