
Azalea menyambut pagi dengan semangat. Semalam ia sudah packing. Ada dua koper yang disiapkannya.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Azalea keluar dari kamar dengan bersenandung riang. Ia memang sudah tidak sabar menunggu hari ini. Digeretnya dua koper itu menuju ruang tamu, lalu ia melangkah menuju pantry. Perutnya terasa sudah kenyang. Azalea hanya ingin segera berangkat sekarang juga. Rasanya, waktu satu menitnya amatlah berharga.
Pada akhirnya, Azalea hanya minum segelas air putih. Kemudian, melewati kamar Reynand dan berhenti di depan pintu. Azalea menempelkan telinga di pintu, mencuri dengan pergerakan di dalam sana. Nihil. Tidak ada suara apa pun.
"Apa Reynand belum bangun?" tanya Azalea sembari menarik handel pintu kamar Reynand. Tentu saja pintu itu dikunci.
Azalea memanggil-manggil, tidak ada sahutan. Tidak sabar menunggu lelaki itu, ia pun mengetuk pintu berulang kali.
"Reynand!" panggilnya lagi. Namun, tetap saja tidak ada sahutan dari dalam.
Menunggu beberapa menit tidak juga ada sahutan dan pintu tidak juga dibuka, Azalea pun berjalan mondar-mandir di depan pintu kamar. Ia sudah tidak sabar, tetapi tidak bisa berbuat apa pun selain menunggu lelaki itu keluar dari kamar.
"Oh iya." Azalea mendesis pelan. Ia menghentikan aktivatasnya di depan kamar Reynand, kemudian mengambil ponsel dari dalam tas.
"Lebih baik aku telepon aja langsung," katanya pada diri sendiri sembari mengutak atik ponsel, dan melakukan panggilan.
__ADS_1
Satu kali, dia kali sampai panggilan kelima barulah suara Reynand terdengar.
"Ada apa?" tanya lelaki itu dengan suara berat, khas orang baru bangun dari tidur.
"Apa kamu belum bangun? Jam berapa kita akan berangkat? Ini sudah siang, nanti kita ketinggalan pesawat," cecar Azalea dengan geram. Rasanya, ia ingin memggeret lelaki itu agar segera keluar dari kamar dan pergi dari apartemen ini.
"Aku baru bangun. Ini mau mandi dulu. Kamu sarapan aja dulu, Azalea. Kita berangkat masih jam 10- an. Ini bahkan masih jam 7 pagi. Masih ada waktu 2 jam sebelum berangkat ke bandara." Reynand menjelaskan dengan suara pelan dan santai. Tidak terdengar ada nada kemarahan dari lelaki itu.
"Ya, tapi ... nanti kita akan terlambat kalau kamu masih lama, Rey." Azalea mengajukan protes.
"Oh, baiklah. Aku tutup teleponnya. Cepetan mandinya ya. Lima menit," ujar Azalea penuh penekanan.
Tidak ada balasan dari Reynand. Lelaki itu bahkan langsung memutuskan sambungan telepon mereka. Azalea mendelik pada layar ponsel yang telah menggelap.
Demi mengusir kebosanan karena menunggu Reynand keluar dari kamar, Azalea pun memilih menonton dari aplikasi di ponsel.
"Kamu enggak sarapan?"
__ADS_1
Suara lelaki itu terdengar, membuat Azalea kontan mendongak.
"Ayo kita berangkat!" Azalea menutup aplikasi yang ia tonton, lalu mengambil alih koper dari tangan Reynand menuju ruang tamu.
"Kenapa koper kamu kecil sekali? Apa kamu enggak bawa baju?" tanya Azalea dengan heran.
Reynand tercengang melihat dua koper besar yang ada di ruang tamu unit mereka.
"Kamu mau liburan apa pindah rumah?" tanya lelaki itu tidak percaya.
"Aku bingung baju mana yang harus aku bawa. Jadi aku bawa aja baju yang aku pikirkan, jadilah dua koper itu." Azalea menjelaskan dengan malu-malu.
Reynand hanya geleng kepala, tetapi tidak lagi mengutarakan tanggapan. Ia memutuskan untuk segera keluar dari tempat ini daripada mendengar ajakan Azalea yang tidak ada lelahnya itu.
Reynand memutuskan untuk sarapan di bandara saja. Lebih baik mereka menunggu di sana. Dan, saat waktu keberangkatan tiba, Azalea heran karena tidak menggunakan pesawat komersil melainkan pesawat pribadi.
"Kita naik ini?" tanya Azalea heran. Di dalam kabin hanya ada dua penumpang, dirinya dan Reynand seorang. Tentu pilot dan petugas lain tidak dihitungnya.
__ADS_1