
Pagi itu, Azalea bangun dengan ceria. Energinya terasa terisi penuh. Ia sarapan dengan gembira. Perjalanan menuju sekolah yang dilakui dengan beejalan kaki, seolah tidak berasa sama sekali. Tidak seperti hari biasanya yang terasa berat. Hari ini, semua begitu ringan dijalani.
Azalea tengah berganti seragam dengan pakaian olah raga saat teman satu kelasnya mengajak berbicara.
"Lea, lu beneran belum tahu kabar Mona?"
Seketika, Azalea pun menghentikan gerakannya yang sedang merapikan kaus olahraganya. Ia menoleh, lalu menggeleng lemah. Harusnya, Azalea ingat untuk menanyakan masalah Mona kepada Reynand. Bukankah lelaki itu adalah guru di sekolahnya? Seperti ada sebuah lampu terang di kepala, Azalea pun memukul kepalanya.
Kenapa baru kepikiran sekarang setelah berhari-hari ia kehilangan jejak sahabatnya itu?
Azalea bergegas memakai seragamnya, lalu berlalu pergi meninggalkan temannya yang melongo. Ia ingin cepat sampai di lapangan. Azalea sudah tidak sabar menakhiri setiap jam pelajaran hari ini.
Jalan Azalea kontan melambat saat melihat siapa yang berada di lapangan. Jangan katakan kalau Reynand telah menjelma menjadi guru olahraga juga setelah kemarin jadi guru matematika, bahasa inggris dan mata pelajaran lainnya. Apa lelaki itu telah mengambil alih semua mata pelajaran?
"Lea, cepetan!"
Seruan dari teman sekelasnya membuat Azalea kembali melanjutkan langkah. Ia berlari agar cepat sampai.
"Semoga aja Pak Reynand beneran jadi guru olahraga ya, gantiin Pak Hadi."
Suara bisik-bisik tetangga cukup mengganggunya. Azalea menatap tajam pada lelaki yang kini sedang memegang bola basket sambil menjelaskan pelajaran hari ini.
Ya, Azalea mengakui jika Reynand memang memiliki paras yang sangat tampan. Di sekolah ini, tidak ada yang menandingi ketampanan lelaki itu. Azalea merasa bangga akan hal itu. Sampai, tanpa sadar senyum pun terbit di wajahnya.
"Kamu maju ke depan!"
Perkataan itu mengentak kesadaran Azalea. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan kepada siapa Reynand berbicara. Namun, semua tatapan para murid justru tertuju kepadanya. Ia meringis malu, lalu menatap ke depan. Tatapan Reynand masih lurus kepadanya.
Dengan perasaan ragu, Azalea melangkah maju. Ia melangkah dengan gerakan lambat.
"Kamu belum sarapan?" tanya Reynand dengan tatapan menelisik.
__ADS_1
"Sudah, Pak." Azalea pun berlari kecil, mendekat pada Reynand yang telah menunggu.
"Baik. Akan saya contohkan bagaimana cara memegang bola yang benar." Reynand memberikan bola basket kepada Azalea. "Ini hukuman kamu karena banyak melamun di pelajaran saya," ujarnya sambil membenarkan kedua tangan Azalea yang memegang bola.
Lantas, Reynand menoleh kepada siswa yang memperhatikannya. "Siapa yang mau kena hukuman lagi?" Ia bertanya iseng.
"Saya!" seru para siswa perempuan secara bersamaan dengan telunjuk mengacung ke udara.
Sementara itu, para siswa laki-laki justru tersenyum kecut. Di antara mereka tidak ada satu orang pun yang sanggup mengalahkan pesona seorang Reynand.
"Wah, saya senang sekali. Ternyata kalian dengan suka rela mau dihukum. Tunggu setelah gerakan Azalea benar." Reynand berujar santai.
Selanjutnya, Reynand sibuk menjelaskan sambil memperagakan langsung kepada Azalea. Sesaat, ia merasa bahwa waktu berhenti sejenak. Ia bahkan lupa kalau sedang berada di tengah lapangan dengan perhatian seluruh siswa satu kelas. Sampai, ketika bola yang Azalea pegang tiba-tiba menggelinding keluar lapangan.
"Udah paham, Pak." Azalea berbicara keras dengan ekspresi kikuk. Sekuat tenaga ia menutupi debaran jantungnya. Gadis itu tidak ingin gelagat mereka dicurigai oleh teman-temannya.
"Oh iya." Reynand berlari kamudian menangkap bola yang diambil oleh salah satu siswa laki-laki. Lantas, sambil memutar bola di tangan, Reynand melanjutkan kalimatnya, "Saatnya memberi hukuman kepada kalian."
Saat tatapannya beralih ke lapangan, Azalea tertawa lepas. Di lapangan, para siswa perempuan sedang berlari. Mereka bersungut-sungut, mengatakan bahwa guru olahraganya tidak adil dalam memberikan hukuman.
Sementara itu, para siswa laki-laki tampak asyik bermain basket. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi pada siswa perempuan.
"Makanya jangan ganjen jadi cewek," celetuk salah satu siswa laki-laki yang duduk di samping Azalea. Lelaki itu beristirahat untuk minum.
***
"Reynand, aku mau bertanya serius?" Azalea menatap seraut wajah tampan yang sedang menyantap hidangan makan malam.
Tadi, Reynand memesan makanan saat mereka sampai di apartemen. Hari ini, energi lelaki itu cukup terkuras. Mengajar pelajaran olehraga cukup menghabiskan tenaga mengingat beberapa pekan ini ia jarang melakukan aktifitas mengolah fisik itu.
"Mau tanya apa?" Reynand menelan kunyahan ke mulutnya, lalu minum segelas air putih di dalam gelas.
__ADS_1
Keduanya bertatapan dalam diam. Reynand menunggu pertanyaan yang akan diajukan gadis di hadapannya, sedangkan gadis itu justru tengah menimbang-nimbang kalimat apa yang tepat. Azalea memang tengah kebingungan sekarang.
"Katakan saja. Aku akan menjawab semua pertanyaan yang kamu ajukan, Azalea," lanjut Reynand mengucapkan kalimat yang cukup meyakinkan Azalea.
"Apa ... apa kamu sudah dapat kabar tentang pelecehan seksual di sekolah? Ini sudah satu bulan sejak kamu ditugaskan kakek, kan?" Azalea bertanya dengan hati-hati.
Reynand mengangguk mengiakan perkataan Azalea sambil bergumam pelan. "Salah satu korban sedang mengasingkan diri. Dia masih ketakutan dan sulit ditemui."
Entah mengapa, jantung Azalea berdentam hebat. Ia tidak ingin pikirannya itu benar, tetapi tidak kuasa menghalau pikiran buruk itu.
Dengan suara bergetar, Azalea bertanya, "Apakah ... apakah salah satu korban itu adalah Mona?" Mata Azalea telah dipenuhi kaca-kaca bening yang mengaburkan pandangan. "Mona sahabatku ...."
Azalea merintih sedih, dan ... detik itu juga air matanya mengalir deras. Tangannya terkepal di atas meja.
"Aku akan mengungkap semuanya. Percaya padaku." Reynand berkata yakin. Ia menggenggam tangan Azalea yang terkepal erat.
Reynand bisa merasakan kesedihan yang dirasakan Azalea. Ia pun bertekad untuk segera mengunpulkan bukti lebih banyak lagi agar kasus ini segera terselesaikan.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku ingin membantu." Suara Azalea serak, tetapi ada keyakinan di dalamnya. Ia menyambut genggaman yang diberikan Reynand. Genggaman tangan yang berhasil menguatkan jiwanya.
"Kamu hanya perlu berhati-hati. Harus berjaga diri. Kalau ada sesuatu yang mencurigakan segera hubungi aku." Reynand menangkup tangan Azalea dengan dua tangannya. Demi Tuhan! Ia tidak ingin sesuatu terjadi pada gadis kecilnya ini.
"Aku ingin melakukan lebih dari itu." Azalea mengusap kasar jejak basah di wajahnya. Ia pun menarik tangannya dari genggaman Reynand. Namun, lelaki itu tidak membiarkan tangannya terlepas.
"Oke. Kamu bantu aku melihat sekecil apa pun yang terjadi dengan teman sekelas kamu--"
"Tapi--"
"Lingkupnya memang dari yang kecil dulu. Pastikan jika teman sekelas kamu tidak jadi korban selanjutnya. Kamu mau, kan?" ujar Reynand memastikan.
"Baiklah. Aku setuju. Aku pastikan akan memperhatikan setiap detail yang terjadi di dalam kelas dan melaporkannya kepadamu." Azalea mengangguk mantap.
__ADS_1
Seketika itu juga, senyum terbit di wajah Reynand. Ia pikir, gadis di hadapannya itu tidak memiliki keberanina. Rupanya, di balik sikap pemalu yang dimiliki, Azalea adalah sosok pemberani.