Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Liburan Istimewa


__ADS_3

Azalea tidak pernah menyangka sebelumnya jika dirinya akan naik pesawat pribadi seperti sekarang ini.


Memang, Azalea bukanlah dari anak keluarga yang tidak bekercukupan. Keluarganya tergolong sangatlah mampu. Dan, ia juga bukan seseorang yang asing dengan jalan-jalan ke luar negeri, naik pesawat dan resort. Namun, keluarganya belum sekaya itu untuk memiliki si besi terbang. Dalam mimpinya pun Azalea belum pernah mengalami.


Sekarang, Azalea merasa sedang bermimpi sangat indah. Rasanya, ia tidak ingin bangun lagi. Gadis itu dengan rela hati jika harus tertidur selamanya sekarang ini.


Saat si burung besi itu mendarat, Azalea seakan limbung. Ia bahkan harus dipegangi oleh Reynand agar tidak jatuh ke lantai.


Reynand melakukan aksi heroik dengan menggendong Azalea keluar dari bandara menuju mobil jemputan. Ia tidak perlu repot membawa koper mereka karena ada petugas yang membawakannya.


"Malu, tahu, Rey." Walaupun Azalea menepuk berulang kali dada bidang sang suami, tetapi wajahnya tidak menunjukkan raut kebertan. Justru, pipinya merona dengan senyum tekulum.

__ADS_1


"Enggak masalah. Kita, kan, masih pengantin baru. Biar terlihat romantis dan ada laporan baik ke Kakek nanti." Reynand terkekeh pelan dengan mata terus menatap ke depan.


Sampai di depan lobi bandara, mobil jemputan mereka telah menunggu. Reynand meletakkan sang istri dengan hati-hati. Kemudian, ia pun duduk di samping gadis itu. Sang petugas menutup pintu mobil. Setelahnya, mobil pun melaju ke tempat tujuan mereka.


Azalea tertidur dengan nyaman selama perjalanan yang cukup panjang. Reynand mengelus kepala sang istri yang bersandar di dadanya. Sebaik mungkin ia menjaga agar gadisnya itu tidak terusik dan tetap nyaman sampai ke tempat tujuan.


Reynand sengaja tidak membangunkan Azalea ketika mereka tiba. Ia sengaja melakukannya untuk memberikan kejutan.


Reynand bopong tubuh Azalea secara perlahan dan hati-hati. Sesampainya di kamar, ia pun membaringkan gadis yang masih pulas itu dengan hati-hati. Sebelum ikut berbaring, ia lepaskan dulu sepatu Azalea.


Azalea menggeliat. Ia merasakan cacing di perutnya itu sudah memberontak tidak keruan. Gadis itu memang sudah sangat kelaparan. Alasan itu pula yang membuatnya bangun sekarang ini. Azalea ingin segera makan.

__ADS_1


Akan tetapi, melihat dirinya terbangun di tempat yang berbeda membuatnya menatap sekeliling. Azalea bukan di mobil, melainkan di atas ranjang empuk dengan dominasi warna serba putih. Di sampingnya, Reynand masih memejamkan mata. Lelaki itu tampak kelelahan.


Azalea mencondongkan wajah, memperhatikan seraut wajah tampan yang terlelap di sampingnya. Ia pun tersenyum.


"Ternyata begini rupa wajahmu jika terlelap. Lucu. Seperti bayi bangkong." Azalea berucap lirih serupa bisikan, lalu tertawa.


Mendapati Reynand yang menggeliat, Azalea cepat-cepat turun dari ranjang. Tanpa alas kaki, ia menuju jendela. Ia buka tirai lebar di sana. Dan, betapa terkejutnya Azalea kala mendapati pemandangan yang terbentang di depan matanya.


"Wow! Indah sekali!" Azalea berseru riang sambil melompat kegirangan. Seolah, ia telah lupa dengan rasa laparnya, juga melupakan seseorang yang terbaring di ranjang yang sama dengannya, kini tengah tersenyum.


Reynand akhirnya turun dari ranjang. Dengan mata yang masih berat, ia berjalan mendekati Azalea. Ia peluk gadis itu dari belakang. Reynand bisa merasakan bagaimana tubuh dalam pelukannya itu menegang kaku. Namun, ia tidak peduli.

__ADS_1


Reynand melingkarkan kedua tangan di pinggang dengan erat, lalu meletakkan dagu di ceruk leher Azalea. Aroma wangi yang dihirupnya kini mampu membuat matanya terbuka sempurna.


Gawat!


__ADS_2