Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Pembicaraan Rahasia


__ADS_3

"Kalau begitu ... ayo kita pulang bersama saja!" ajak Reynand kemudian. Dua wanita yang berada di dalam ruangan itu menatapnya dengan ekspresi yang berbeda. Jasmine dengan tersenyum dan ekspresi mengangguk, sedangkan Azalea justru melongo.


Reynand mendorong kursinya ke belekang, kemudian memastikan bahwa barang-barang penting di atas meja sudah dibereskan, barulah ia beranjak dari sana melangkah keluar ruangan disusul oleh Jasmine.


Sebelum menutup pintu, Reynand mendapati Azalea yang masih berdiri di tempatnya. Gadis itu mengerjap berulang kali dengan ekspresi bingung.


"Ayo!" ajaknya lagi. Lantas, barulah Azalea bergerak menyusul langkahnya.


"Kita mau ke mana?" tanya Azalea ketika sudah bisa menyusul langkah kakak dan suaminya itu.


"Mau jalan-jalan. Kita akan melihat-lihat kantor Raynand, terus makan bersama. Ya, kan, Rey?" Yasmin menjawab dengan ceria. Ia menoleh pada Reynand, meminta dukungan.


"Iya. Sehari ini aku akan menemani ke mana pun kalian pergi." Reynand menjawab mantap.


"Tapi, kan ...." Azalea menoleh sekitat. Suasana sekolah sudah cukup sepi, hanya ada beberapa orang saja yang ditemuinya juga tampak tengah menatap ke arah mereka.


Azalea menelan ludah. Ia tidak bisa membayangkan apa yang ada di dalam isi kepala orang-orang itu. Apakah mereka akan menggosip tentangnya hari ini? Atau justru Jasmine yang akan jadi sasaran empuk.


"Kenapa, Dek?" tanya Jasmine yang menyadari perubahan sikap sang adik.


Kini, mereka telah sampai di parkiran. Reynand membukakan kursi penumpang untuk kedua kakak beradik itu.


"Kalau orang-orang yang melihat kita tadi gosipin kita gimana, Kak?" Azalea bertanya khawatir.

__ADS_1


"Udah biarin aja. Besok juga, kan, udah libur sekolah. Dua pekan lagi baru masuk. Bisa jadi mereka udah lupa. Ayok masuk!" Jasmine menyentuh bahu sang adik, mengelus pelan memberikan ketenangan.


"Kalian berdua duduk di belakang ya." Reynand berkata sambil menutup pintu. Ia sengaja duduk di kursi depan sendirian, sebab tidak ingin membuat Azalea semakin merasa canggung. Lantas, lelaki itu segera menghubungi sopirnya untuk mengambil mobil Yasmin yang ditinggal di sekolah.


"Kunci mobil udah kamu titipkan ke satpam, kan, Rey?" tanya Jasmine saat Reynand menyalakan mesin.


"Udah." Reynand menjawab singkat, lalu melajukan kendaraan roda empatnya itu keluar dari parkiran. Saat melewati gerbang sekolah, Reynand membunyikan klakson dan menyapa penjaga sekolah dengan sopan.


Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah kantor Reynand. Lelaki itu membawa Azalea dan Jasmine masuk ke ruangannya. Beberapa karyawan yang ditemui menyapa mereka dengan sopan.


"Kak, aku masih pakai seragam sekolah," bisik Azalea kepada sang kakak.


Mendengar itu, Jasmine seketika tersadar dan ingin mengatakan kepada Reynand. Namun, belum sempat ia berbicara seseorang lebih dulu datang membawakan paper bag dan memberikan kepada Reynand.


Reynand mengambil paper bag itu dan langsung memberikannya kepada Azalea. "Pasti enggak nyaman pakai pakaian itu. Kamu bisa ganti baju di kamar mandi." Reynand mengedikkan dagu ke kamar mandi yang ada di ruangannya ini.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk Azalea berganti pakaian. Ia keluar dari kamar mandi setelah membereskan pakaian seragamnya, ia juga mengurai rambutnya dan ditambah dengan jempit rambut di samping telinga. Penampilannya itu membuat Azalea tampak seperti gadis di usianya, imut dan menggemaskan. Ditambah dengan ekspresi malu-malu yang ia tampakkan, membuat Azalea semakin tampak menggemaskan.


Azalea cukup senang dengan pakaian yang ia kenakan sekarang. Sebuah dress selutut dengan pita di pundak. Serasa cocok dan pas di badan.. Nanti, ia akan menanyakan kepada Reynand dari mana lelaki itu tahu tentang ukuran bajunya.


Saat keluar dari kamar mandi, Azalea mendapati kakak dan suaminya itu tengah membicarakan hal yang serius. Namun, ketika sang kakak menoleh dan melihatnya, pembicaran keduanya pun berhenti. Seolah, mereka sedang membicarak sesuatu yang rahasia, dan dirinya tidak boleh mengetahui.


Ada yang terasa sedang mencubit hatinya kini. Azalea merasa dikucilkan. Ditambah dengan perasaannya yang selama ini memang sudah minder terhadap sang kakak yang terlihat cantik, ceria modis dan di atas segalanya dibanding dirinya semakin menambah rasa percaya diri Azalea terperosok ke jurang.

__ADS_1


Azalea tersenyum kikuk. Ia pun pura-pura melupakan sesuatu dan kembali masuk ke bilik kamar mandi. Di dalam sana, Azalea berjalan mondar-mandir. Ia bingung harus melakukan apa. Sejujurnya, gadis itu amat penasaran dengan apa yang dibicarakan sang kakak dengan suaminya. Namun, apa daya ... ia tidak cukup memiliki keberanian untuk bertanya. Sampai ... suara ketukan pun terdengar. Itu adalah suara Reynand yang memanggil.


"Azalea, apakah kamu belum selesai? Makanan kita sudah sampai."


"Ya!" seru Azalea menjawab. Ia membuka pintu. Di depan kamar mandi, Reynand ternyata masih menunggunya.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Reynand penuh perhatian.


'Apa yang kalian bicarakan tadi?' tanya Azalea dalam hatinya. Tentu saja ia tidak berani menyuarakan isi kepalanya dan rasa penasaran dalam hatinya itu.


Pada akhirnya, Azalea hanya tersenyum sembari menggeleng pelan. "Ayo makan! Aku sudah sangat lapar." Azalea mengelus perutnya, seolah gadis itu memang benar-benar sudah lapar. "Kamu pesan apa?"


"Ayo makan, Dek! Kakak pesan sambal cumi ijo untuk kamu. Kamu pasti suka." Jasmine yang menjawab pertanyaan Azalea. Wanita itu tampak sedang sibuk mengeluarkan isi paper bag dan menyusun di atas meja.


Azalea duduk di hadapan sang kakak dengan canggung, lalu disusul oleh Reynand yang duduk di samping Jasmine. Pasalnya, sofa single yang ada di ruangan itu hanya ada satu dan sudah Azalea tempati.


Seperti menyadari tatapan tidak biasa yang diberikan Azalea, Reynand pun meminta istrinya itu untuk bertukar duduk. Lagipula, ia sendiri merasa tidak nyaman duduk berdampingan bersama kakak iparnya.


"Aku duduk sini aja," tolak Azalea.


"Kenapa?" Siapa sangka, Reynand justru meminta penjelasan dari penolakan itu.


Belum sempat Azalea menjawab saat Jasmine memgeluarkan suara. "Kalian ini kenapa, sih? Tinggal duduk doang. Duduk berhadapan malah bisa tatap-tatapan, kan? Udah ayo makan! Aku sudah sangat lapar."

__ADS_1


Selanjutnya, Azalea menarik bagiannya. Lantas, mendongak melihat Reynand mengelap sendok dengan tisu dan diukurkan. Lelaki itu mengedikkan dagu, menyuruhnya mengambil sendok itu.


Azalea memasukkan suapan pertamanya ke mulut dengan perasaan aneh. Perasaannya begitu mudah dipermainkan. Beberapa menit lalu merasa senang, lalu berubah sedih, lalu berubah senang lagi. Reynand memang paling pandai membuat perasaannya berubah-ubah.


__ADS_2