
Azalea gelisah. Ia berjalan mondar-mandir dengan jari telunjuk mengetuk dagu, sesekali keningnya berkerut. Gadis itu sedang berpikir keras tentang bagaimana caranya untuk mengambil raport hari Kamis nanti. Meminta tolong kepada kedua orang tuanya, jelas tidaklah mungkin. Pasalnya, Maryam dan Samuel telah melimpahkan semua urusannya kepada Reynand, begitu pula mengenai urusan sekolah.
Sementara itu, Azalea tidak akan mungkin meminta Reynand untuk mengambilkan raport-nya. Bisa gempar seluruh sekolah jika otu terjadi. Azalea menggeleng pelan. Ia memijit pelipis, pusing sekali memikirkan masalah ini.
"Kamu kenapa?" Reynand yang baru pulang dari kantor menatap bingung. Ia meletakkan tas ke sofa, lalu duduk dan melepaskan jas kerja yang masih melekat di badan. Ia menelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, berlama-lama duduk di kursi menghadap laptop membuat ototnya kejang.
Azalea duduk di samping Reynand, mungkin bertukar pikiran dengan lelaki itu bisa mendapatkan ide. Ia memiringkan tubuh, menatap Reynand sepenuhnya.
"Besok siapa yang ambil raport aku?" tanya Azalea langsung pada inti persoalan.
Reynand tertegun sejenak. "Kamu mau aku yang mengambil raport kamu? Kalau gitu biar aku langsung temui guru wali kelas kamu aja," ujarnya kemudian.
Azalea menggerutu kesal, 'Ini Reynand enggak paham dengan kondisinya apa bagaimana?'
"Terus, biar wali kelas aki tahu kalau kita udah menikah, gitu?" Mata Azalea mendelik. Tampak sekali jika ia sedang kesal. Terlebih saat melihat respons Reynand yang tampak biasa saja.
"Oh, aku tahu ...." Azalea menganggukkan kepalanya berulang kali, seakan paham betul dengan apa yang akan terjadi esok hari, "biar Ibu Winda yang cantik jelita itu enggak perlu deketin Bapak Reynand yang tampan rupawan ini." Tangannya menyentuh bahu Reynand, menepuk pelan dengan eskpresi yang dibuat-buat.
Reynand terkekeh pelan. Ia menyentuh tangan Azalea, meletakkan di pangkuan kemudian mengelus punggung tangan itu dengan ibu jarinya.
"Kenapa, sih, kok, masih cemburu terus sama Ibu Winda?" tanya Reynand lembut. Matanya menatap lurus pada Azalea yang menatapnya jengah. "Kan, kita udah bahas masalah Ibu Winda sebelumnya. Ya wajar, dong, kalau Ibu Winda suka sama suami tampan kamu ini. Di luaran sana banyak wanita yanga ngejar-ngejar aku, lho. Kamu bakalan capek sendiri kalau semua perempuan kamu cemburuin." Reynand mencubit gidung Azalea dengan gemas.
"Dih, kepedean. Siapa juga yang cemburu?" cibir Azalea. "Lagian itu bukan inti masalahnya sekarang. Sekarang itu siapa yang akan mengambil raport aku besok? Kalau enggak ada wali yang datang, tentu akan jadi pertanyaan buat wali kelas aku dan juga teman-teman di sekolah."
"Coba hubungi kakak kamu. Minta dia untuk mengambil raport kamu besok. Dia udah pulang dari liburan, kan?"
Ide yang dicetuskan Reynand kontan saja membuat senyum lebar terkembang di wajah Azalea. Kenapa dirinya tidak memikirkan kakak sulungnya dari tadi?
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Azalea beranjak dari sofa. Ia bahkan melepaskan genggaman tangan Reynand secara paksa, lalu masuk ke kamarnya dengan berlari.
Azalea mengambil ponsel di atas ranjang, dan segara mencari kontak sang kakak. Ia tidak sabar untuk segera berbicara dengan wanita itu.
"Ada apa, Dek? Kakak lagi di luar ini. Tumben kamu telepon Kakak?"
Pertanyaan itu yang didengar Azalea begitu sambungan teleponnya terhubung.
"Kakak Jasmine besok ada acara, kerjaan atau apa gitu. Cuti bentar ya, ambilkan raport aku di sekolah. Please!" Azalea langsung mengungkapkan keinginannya. Matanya mengerjap berulang kali dengan wajah menggemaskan, sayang sekali Yasmin tidak melihat.
"Kok, jadi Kakak. Biasanya Mama, kan, yang ambil?" protes sang kakak.
Azalea duduk di tepi ranjang, kakinya bergerak secara tidak teratur di lantai kamar.
"Mama dan Papa enggak akan mau, Kak, dengan status pernikahan aku sekarang. Minta sama suami aku juga enggak mungkin, dia bahkan lagi jabat kepala sekolah sekarang. Kakak Jasmine menjadi satu-satunya harapan untuk menolongku sekarang ini. Aku enggak tahu lagi harus minta tolong sama siapa ...." Azalea berbicara panjang lebar menjelaskan dan membujuk sang kakak agar bisa memenuhi keinginannya.
"Apaan, sih, Kak?" Wajah Azalea bersemu merah.
"Baiklah, Kakak akan datang besok. Kita ketemu di sekolah, kan? Kakak enggak harus jemput kamu ke apartemen kalian?" tanya Jasmine memastikan.
Azalea mengangguk mengiakan. "Iya. Makasih, Kak. Makasih banget. Sampai jumpa besok. Aku sayang ... sayang ... sayang ... banget sama Kakak Jasmine. Muach." Azalea melakukan ciuman jauh. Ia bisa mendengar gelak tawa sang kakak sebelum sambungan telepon mereka diputus.
Suara ketukan di pintu mengalihkan perhatian Azalea dari melihat ponsel. Ia berseru menjawab ketukan itu kemudian berjalan untuk membuka pintu kamar. Ia mendapati seraut wajah segar di hadapan, Reynand sudah mandi dan telah berganti dengan pakaian santai.
"Gimana? Ada hasilnya? Kalau enggak, biar aku sirih karyawan kantor aja besok," kata lelaki itu penuh perhatian.
Ada yang menghangat di dada Azalea, jantungnya berirama seakan menyebarkan kehangatan itu ke seluruh tubuh sampai ke pipinya yang kini bersemu merah. Azalea mengangguk lemah dengan senyum terkulum.
__ADS_1
Melihat itu, membuat Reynand tidak tahan untuk mengulurkan tangan. Ia menyelipkan rambut Azalea yang menjuntai menutupi wajah ke belakang telinga. Bunga-bunga indah dengan keharuman memesona seolah nyemerbak di sekitar mereka.
"Kalau ... aku enggak dapat juara tiga besar, gimana dengan liburannya?" Azalea pun bersuara. Ia bertanya ragu. Kepalanya mendongak, membalas tatapan Reynand yang hangat.
"Kita bicarakan besok." Suara Reynand terdengar berat. Wajahnya perlahan mendekat menyalurkan kehangatan lewat embusan napas. Hanya tinggal beberapa senti lagi saat suara dari perut Azalea terdengar. Keduanya pun tertawa bersama, tangannya begitu saja menarik kepala Azalea ke dadanya.
"Aku lapar," ujar Azalea apa adanya.
"Aku udah pesan makanan untuk makan malam kita." Reynand membalas santai. Ia merangkul bahu Azalea, mengajak istri kecilnya itu menuju meja makan. "Kita tunggu di meja makan saja sambil nyiapin piring."
"Kamu pesan apa?" tanya Azalea sembari mendongak menatap Reynand.
"Nasi bakar sama ayam aja, sih. Kamu mau, kan?" tanya Reynand memastikan.
"Aku mau. Aku, kan, pemakan segalanya ...."
"Lebih tepatnya sejak tinggal hidup berdua dengan aku, kan?" Reynand tersenyum. Sesaat langkah keduanya berhenti.
"Enggak juga." Azalea melanjutkan langkah dan diikuti Reynand.
Reynand menarikkan kursi untuk Azalea. Lantas, ia pun duduk di samping gadis itu. Ia menuang air ke gelas, dan minum secara perlahan.
"Aku ambil piring dulu ya." Azalea mondorong kursi, lalu segera mengambil peralatan makan. Beberapa saat kemudian, pesanan mereka pun datang.
"Kamu enggak ingin, gitu, kalau aku masakin atau apa?" Tiba-tiba saja Azalea mengajukan pertanyaan yang cukup mengesankan.
"Antara ingin dan enggak, sih. Kalau kamu ada waktu belajar masak, kamu bisa belajar dan aku siap jadi pencicip pertama masakan kamu. Kalau kamu enggak sempat, bisa nanti saja. Selama ini kamu, kan bisa masak makanan yang mudah." Reynand berkata serius. Ia memastikan Azalea mengerti maksud perkataannya. "Aku enggak terlalu sulit soal makan. Lagi sempat masak, aku akan masak. Kalau enggak sempat, ya, beli. Banyak pilihan makanan di luar. Jadi, jangan jadi beban untuk kamu ya."
__ADS_1
Azalea mengangguk. Seketika itu juga, ia memahami bahwa lelaki yang menjadi suaminya ini adalah lelaki yang baik. Ia sangat bersyukur memiliki Reynand di sampingnya kini.