
Reynand mengajak Azalea berjalan-jalan, lalu makan malam di luar.
Usai mengisi perut, Reynand mengajak Azalea menyusuri pinggiran pantai. Angin malam berembus, mengantarkan hawa dingin sampai ke relung hati. Perlahan, tangan Reynand bergerak meraih jemari gadis di sebelahnya. Merasakan jika tidak ada penolakan, ia pun secara perlahan pula menyelipkan jemarinya di sela jemari Azalea. Rasanya begitu pas dan saling melengkapi.
Jantung Reynand bertalu lebih kencang, padahal sore tadi ia bahkan dengan berani meneluk Azalea dari belakang. Namun, suasana kali ini justru membuatnya salah tingkah.
Keduanya berjalan dalam hening dengan jemari yang saling bertaut, merasakan pasir pantai dengan kulit kaki. Mereka sengaja melepaskan alas kaki.
Reynand ikut berhenti kala Azalea menghentikan langkah. Keduanya berdiri bersisian menatap hamparan ombak yang menggulung indah. Ia menoleh, menatap wajah cantik yang terlihat sangat cantik sekarang.
"Bintangnya enggak banyak ya," ujar Azalea. Kepalanya mendongak, menatap bintang gemintang yang terhampar di langit malam itu.
Reynand menoleh. Ia tersenyum lembut, menatap lekat gadis di sampingnya itu. Lantas, ia memiringkan tubuh menghadap Azalea. Tangannya terulur mencubit rambut sang gadis yang menutupi wajah karena embusan angin malam, lalu menyelipkan di belakang telinga.
__ADS_1
Mendapati apa yang dilakukan Reynand kepadanya, Azalea pun menoleh. Masih dengan tangan yang saling bertautan, ia cengkeraman tangan Reynand dengan kuat.
"Karena binar di matamu membuat mereka malu," bisik Reynand. Ia mendekatkan wajah. Hembusan napasnya menerpa wajah sang gadis.
"Siapa?" tanya Azalea dengan suara bergetar karena perasaan gugup.
"Bintangnya malu sama kamu. Karena kamu terlalu cantik malam ini." Reynand berbicara tepat di depan bibir Azalea yang sedikit terbuka.
Azalea memejamkan mata. Dan, detik itu juga napasnya tercuri oleh lelaki di hadapan. Tangannya mencengkeram kaus Reynand saat merasakan setiap pergerakan bibir lelaki itu yang membuat tubuhnya serasa terbakar.
Angin malam yang dingin tidak mampu mendinginkan perasaan mereka yang menggebu. Rasa hangat menjelar ke sekujur tubuh, membuat hatinya mendambakan sesuatu yang tidak Azale mengerti.
Saat lengan kokoh itu semakin membabat jarak mereka, Azalea pasrah pada setiap perlakuan Reynand. Tangan mereka yang bertaut telah terlepas. Azalea merinding saat merasakan gerakan halus telapak tangan Reynand di punggungnya, lalu menekan membuat tubuh mereka kian merapat.
__ADS_1
Reynand membuat jarak, napasnya tersengal dengan pandangan dan pikiran yang menggelap. Sama seperti dirinya, Azalea bernapas ngos-ngosan. Wajah gadis itu terasa panas dan memerah seperti kepiting rebus.
"Kita ke kamar," bisik Reynand dengan suara berat. Lantas, ia kembali merasakan manis bibir gadisnya. Rasanya ia enggan untuk mengakhiri ciuman itu.
"Rey ...." Azalea mendesis saat merasakan pengait di punggungnya telah terlepas.
Reynand tidak menangapi. Ia lantas membopong tubuh Azalea, lalu berjalan dengan langkah lebar. Reynand tidak mau tahu, mereka harus sampai di kamar dalam waktu yang singkat.
Mengabaikan setiap tatapan mata yang mereka temui, Reynand terus berjalan. Sampai di kamar, ia langsung menuju ranjang. Mengabaikan kaki yang masih terasa sisa pasir di telapak kakinya, ia membaringkan Azalea. Lagi, ia renggut napas gadis itu. Ia ***** habis rasa manis dari bibir gadis itu.
Pikiran Reynand kosong. Ia hanya ingin menuntaskan sesuatu yang telah dimulai. Dan, ketika jemarinya menari dalam kaus Azalea, ia sangat menggilai kelembutan kulit gadisnya.
Suara Azalea yang memanggil namanya semakin membuatnya hilang akal. Haruskah Reynand menuntaskan hasratnya malam ini?
__ADS_1