Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Paksaan


__ADS_3

Pada akhirnya, Reynand berhasil membawa Azalea untuk memeriksakan diri. Bagaimana mungkin gadis itu bisa menolak jika Reynand memaksa dengan menggendongnya?


Reynand tidak peduli dengan Azalea yang meronta. Ia terus membawa tubuh itu, memasukkan ke mobil dan meluncur menuju klinik terdekat.


"Tuh, kan, aku enggak apa-apa. Ini, tuh, tadi cuma kejedot aja enggak sampai patah tulang," gerutu Azalea saat mereka sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang.


Reynand tidak langsung menanggapi. Ia melirik sekilas, menghela napas panjang dan fokus pada jalanan yang ramai.


"Aku hanya berjaga-jaga," sahut Reynand kemudian dengan pandangan tetap fokus pada jalanan.


Menyadari jika ini bukan arah jalan pulang, Azalea menoleh cepat pada lelaki di sampingnya. Ia menatap lekat. "Kita mau ke mana?"


"Menepati janjiku." Reynand berkata pelan, tetapi menunjukkan ketegasan. Ia menoleh, menatap sekilas Azalea yang diliputi kebingungan. Lantas, lelaki itu mengedipkan satu matanya, tersenyum simpul dan kembali serius pada kemudinya.


"Kita mau ke tempat Mona?" tanya Azalea saat kebingungannya mendapatkan jawabannya sendiri.


"Tapi ini sudah kesorean, Rey. Nanti gimana? Lagian aku sudah sangat lapar sekarang," cicit Azalea sambil mengelus perutnya yang kelaparan.


"Kita makan dulu. Aku enggak akan biarkan gadis cantik ini kelaparan." Reynand menjawab dengan senyuman lebar.


Mobil berbelok ke sebuah restoran. Setelah menemukan tempat parkir, Reynand segera mematikan mesin mobil, melepaskan sabuk pengaman dan bergegas turun. Ia mengitari mobil, dan membukakan pintu untuk sang gadis. Azalea menyambutnya dengan senyum malu-malu. Dan, Reynand sangat menyukai senyum itu, ekspresi itu, rona kemerahan itu. Baginya, pemandangan itu bagai candu yang memabukkan.


Tangan Reynand terulur, mengelus pipi kemerahan itu dengan lembut. Senyum lelaki itu terbit. Senyum kekaguman pada penciptaan yang begitu sempurna di hadapannya kini.


"Kenapa?" tanya Azalea.


Keduanya saling berdiri berhadapan. Saling menatap dalam di bawah langit yang dihiasi banyak gemintang.

__ADS_1


"Aku lelaki beruntung karena memiliki kamu," jawab Reynand lembut, mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya.


"Be ... benarkah?" Wajah Azalea merah padam karena malu. Perasaannya berbunga.


Reynand mengangguk. Perlahan, ia mendekatkan wajah membabat jarak di antara mereka. Jarak keduanya semakin terkikis, mereka bisa merasakan hembusan napas yang menerpa wajah sampai suara perut Azalea berbunyi, menghentikan setiap gerak yang terjadi.


Azalea meringis. "Sorri," lirihnya yang dibalas dengan senyum tipis oleh Reynand. Lelaki itu mengecup keningnya, lalu mengelus lembut kepalanya.


"Lebih baik kita makan dulu. Yang lain-lain bisa kita lakukan nanti," kata Reynand menggandeng tangan Azalea, mengajak gadis itu masuk ke restoran. Cacing di perut gadisnya itu tidak lagi bisa menunggu.


Layaknya seorang pria yang memuliakan wanitanya, Reynand memperlakukan Azalea dengan baik dan sopan. Ia juga menarikkan kursi untuk Azalea duduk, menanyakan menu pesanan dengan kalimat yang baik. Mendahulukan wanitanya dalam menyantap makanan. Perlakuan yang ia berikan itu memantik rasa kagum di hati sang gadis.


Hari itu, menjadi hari di mana Azalea merasa menyesal karena pernah membohingi Reynand. Dengan hati bergetar, Azalea mangucapkan kata maaf lagi.


"Aku merasa sangat menyesal karena pernah berbohong sama kamu di masa lalu."


Azalea mengerjap pelan. Ia mencerna setiap ucapan yang disampaikan Reynand. Bolehkah ia mengartikan apa yang diucapkan lekaki itu sebagai pengakuan akan perasaan yang dimiliki?


Azalea masih terlalu polos soal menjalin hubungan. Ini untuk pertama kalinya. Memang, dirinya pernah merasakan suka terhadap teman lelakinya. Namun, rasa yang ia miliki untuk seorang Reynand terasa sangat berbeda.


"Tapi ... kita, kan, sudah menikah?" tanya Azalea meragu.


Reynand selalu mengatakan bahwa hubungan mereka adalah hubungan pacaran. Apa itu artinya kalau lelaki itu tidak tertarik untuk menjadikannya sebagai istri seutuhnya? Tiba-tiba, ada sebuah cubitan di hatinya. Rasanya sakit, menyesakkan dada.


"Pacaran tandanya tidak melampaui batas. Aku mau menjaga kamu sampai lulus sekolah. Kamu masih di bawah umur. Umur kamu bari 17 tahun. Biarkan kamu menikmati masa sekolah tanpa dirusak oleh pikiran orang dewasa." Reynand menjelaskan dengan sabar.


"Tapi aku sudah dapat KTP. Aku udah diakui negara, tetapi belum diakui sama suami sendiri." Bibir Azalea cemberut, dan Reynand memahami itu.

__ADS_1


"Aku mengakui kamu sebagai istriku. Itulah mengapa, aku menjagamu dengan segenap jiwaku. Aku ingin kamu menjalankan peran sebagai seorang istri ketika kamu telah siap lahir dan batin. Menikah bukan hanya soal kesenangan di atas ranjang, walaupun pada hakikatnya seorang istri adalah tempat suaminya menghilangkan dahaga."


"Aku enggak ngerti." Azalea menggeleng berulang kali. Ia menandaskan minuman di gelasnya. Makanan di piring sudah habis. Perutnya sudah terisi dengan baik.


"Tuh!" Reynand mengetuk kening Azalea menggunakan jari telunjuk. "Begitu aja kamu belum mengerti. Jadi, lebih baik saat masuk kelas dua belas nanti, kamu belajar dengan giat. Kemudian, pilih universitas dan jurusan yang kamu inginkan. Tentang kita, kita akan menjalaninya secara perlahan. Kita punya waktu yang amat panjang, enggak perlu terburu nafsu."


"Siap!" seru Azalea. Ia memasang hormat kepada lelaki di hadapan.


Menikah menjadi hal yang tidak menakutkan, terutama ketika bertemu dengan lelaki yang tepat. Azalea menyadari bahwa dirinya berkewajiban untuk terus meng-upgrade kemampuan, ilmu, pengetahuan dan memperbaiki diri untuk bisa mendapatkan lelaki yang terbaik yang Tuhan pilihkan untuknya.


Azalea cukup beruntung karena menikah dengan lelaki dewasa seperti Reynand, justru membuatnya semakin terlindungi dan belajar banyak hal. Ia tersenyum. Menikah bukanlah hal yang menakutkan. Mungkin karena selama inj dirinya telah menjadi anak yang baik. Sehingga Tuhan begitu berbaik hati menganugerahkan pasangan seperti Reynand.


"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Reynand mendapati Azalea yang termenung.


"Nanti saja aku ceritakan di mobil. Sudah waktunya kita pergi dari sini." Azalea melepaskan genggaman dari tangan Reynand. Bahkan, berlama-lama saling bergengaman pun tidak membuatnya risih, tetapi nyaman.


"Baiklah, Tuan Putri." Reynand tersenyum, lalu beranjak dari kursinya. Keduanya keluar dari restoran menuju mobil yang terparkir.


Reynand tidak juga menyalakan mesin kendaraannya. Ia masih penasaran dengan apa yang Azalea pikirkan tadi.


"Jadi, katakan padaku sekarang apa yang tadi kamu pikirkan?" Reynand memiringkan badan, menghadap Azalea sepenuhnya.


"Ternyata kamu enggak bisa menunda keingintahuan ya?"Azalea menganggukkan kepala berulang kali.


"Ya. Aku tidak suka menunda dalam menyelesaikan masalah." Reynand menjawab jujur.


"Aku cuma lagi mikir ... ternyata menikah bukanlah hal yang menakutkan. Apalagi ketika bertemu dengan pasangan yang tepat." Azalea menatap lurus pada sepasang mata yang menatapnya dalam.

__ADS_1


"Apa kamu merasa kalau aku adalah pasangan yang tepat? Padahal kita baru bersama beberapa bulan saja. Seumur hidup itu lama lho ...."


__ADS_2