
Pagi itu, Reynand secara mendadak dapat telepon dari sang kakek. Kakek Emery secara mendadak meminta Reynand dan Azalea agar berkunjung ke rumah. Demi mengikuti titah sang kakek, Reynand pun membatalkan pertemuannya dengan klien dan meminta Jonthan untuk menggantikannya.
Reynand telah bersiap mengenakan pakaian kerjanya, sementara Azalea masih terlelap di atas ranjang. Semalam, setelah pulang dari rumah Mona dan mendapati Azalea yang tidur di mobil dengan wajah sembab penuh kesedihan, Reynand memindahkan tubuh gadis itu ke kamar. Alih-alih merebahkan Azalea di kamar sendiri, Reynand justru merebahkan gadis itu di kamarnya.
Tadi malam, untuk pertama kalinya mereka tidur di atas ranjang dan kasur yang sama. Rasanya aneh dan memggelikan. Namun, Reynand cukup bisa dibanggakan karena bisa menahan diri terhadap gadis itu. Ia memeluk Azalea dengan erat, kemudian terlelap dalam mimpi indah.
Ha? Membanggakan? Yang benar saja. Bukankah mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri?
Menyadari kenyataan itu, Reynand mendengkus kasar. Ia harus bisa menahan demi keberlangsungan dan kesejahteraan bersama. Sudah jadi konsekuensi baginya karena menikah dengan gadis belia.
"Azalea." Reynand memanggil pelan. Gadis yang tidur di ranjangnya itu seakan tidak terusik dengan panggilannya.
Demi menjaga kesehatan mental karena sang kakek sudah menunggu, Reynand pun memutuskan untuk membangunkan Azalea secara paksa. Ia duduk di pinggir ranjang, lalu tangannya bergerak menggoyang-goyang bahu gadis itu.
"Azalea, bangun. Kalau enggak mau bangun aku cium, lho." Ancaman itu sukses membangunkan Azalea. Gadis itu kontan membuka mata, lalu duduk bersandar kepala ranjang.
Reynand menjadi sangsi apakah Azalea benar-benar tidur tidur atau hanya berpura-pura. Kata orang, membangunkan seseorang yang pura-pura tidur akan lebih sulit dari membangunkan orang yang beneran tidur. Terbukti saat membangunkan Azalea. Gadis itu bergerak bangun saat dirinya mengancam akan mencium.
"Jadi, kamu enggak mau aku cium ya?" Pertanyaan itu Reynand lontarkan begitu saja. Ia mencondongkan wajah, menatap mata Azalea yang tampak masih bengkak.
"Apaan, sih, Rey?" Azalea menggerutu tidak setuju dengan rona kemerahan di wajahnya, memancing kegemasan Reynand terhadap dirinya.
"Aku masih marah ya sama kamu," ujar Azalea mengungkapkan isi hatinya.
Reynand tersenyum lembut. Ia memaklumi apa yang dirasakan oleh sang istri. Namun, ia juga sadar betul bahwa tidak akan bisa memaksa dan mengubah keadaan yang sudah terjadi. Keputusan dan kesepakatan yang diambil karena menyetujui permintaan Mona ternyata memang membuat Azalea sakit hati dan merasa kecewa.
"Nanti dilanjutkan lagi marahnya ya. Tadi kakek telepon minta kita datang ke rumahnya. Kamu enggak mau kalau kakek marah bukan?" ujar Reynand dengan suara dan tatapan lembut.
__ADS_1
Mata Azalea seketika mendelik kaget. Ia pun bergegas menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Ia tidak mengira jika gaun yang dipakainya dari semalaman itu ikut tersingkap juga. Paha mulus nan putihnya terekspos begitu saja.
"Aw!" Azalea memekik kaget. Tangannya sibuk menurunkan gaun yang dikenakan.
Sementara itu, Reynand justru mendelik tanpa kedip. Lelaki itu bahkan meneguk ludah dengan susah payah. Seperti ada yang berdesir membakar tubuhnya lewat aliran darah. Pemandangan di hadapan sungguh sangat menggoda.
"Reynand." Azalea menegur dengan suara geram yang tertahan.
Seketika itu juga Reynand menyadari kesalahannya. Namun, ia juga tidak mau kehilangan kesempatan, pandangan pertama adalah miliknya, tetapi bukan yang kedua karena ia tidak mau si pemilik marah.
Reyand turun dari ranjang, berdiri dengan gugup. Ia mengelus tengkuk secara perlahan. Satu tangannya bergerak mempersilakan Azalea untuk keluar dari kamar.
"Kok aku yang keluar, ya kamu dong, Rey," protes Azalea. Gadis itu melipat tangan di dada, matanya melayangkan tatapan tajam.
"Ini --"
"Ya ampun! Jadi, semalam aku tidur di sini. Di kamar kamu? Bukannya di kamar aku ya." Azalea gusar. Ia bergegas turun dari ranjang dan berjalan di hadapan Reynand yang mengangguk kaku seperti robot.
"Kamu enggak mindahin aku ke kamarku sendiri ya." Azalea menoleh cepat. Matanya menyipit curiga. "Kamu ambil kesempatan saat aku enggak sadarkan diri ya?" Jari telunjuknya teracung memberi peringatan.
"Kamu cuma tidur, bukannya pingsan atau mabuk. Kalau tidur kamu sampai enggak sadar diapa-apain orang ya bukan salah aku, Azalea." Reynand berkata pelan membela diri.
"Kamu, ih." Azalea memukul lengan Reynand. Dan, pukulannya itu berhasil membuat lelaki itu meringis.
"Kamu apain aku? Cepat ngaku!" kata Azalea penuh penekanan.
"Enggak ada." Reynand menggeleng. Ia memang tidak melakukan sesuatu yang buruk terhadap tubuh gadis itu. Hanya peluk dan ....
__ADS_1
Pikiran Reynand yang mulai berputar pada kejadian semalan harus buyar karena suara nada dering dari ponselnya. Nama sang kakek tertera di layar. Dan ia tahu bahwa mereka harus segera menuju rumah Tuan Emery.
"Cepat mandi dan ganti baju. Kita harus ke rumah kakek." Reynand berkata tegas dengan raut serius. Lantas, ia segera menggeser ikon berwarna hijau dari layar ponselnya, menjawab panggilan sang pemimpin besar dalam hidupnya.
Mengerti jika Reynand sedang serius dan tidak mau dibantah, Azalea pun bergegas meninggalkan kamar Reynand. Ia membuka pintu kamarnya dengan tergesa dan menutup dengan keras sampai menghasilkan bunyi yang sampai ke kamar Reynand.
Azalea masuk ke kamar mandi. Ia melepaskan pakaiannya dan melemparkan ke keranjang pakaian kotor. Sebelum mengguyur tubuh, gadia itu berdiri di depan cermin. Betapa terkejutnya saat mendapati banyak tanda merah di leher dan sekitar dada.
Tangan Azalea terulur, meraba bagian yang merah itu. Ia merasakan kalau gatal di sana. Tidak ada. Tidak ada apa pun yang ia rasakan. Lantas, itu tanda merah karena apa?
"Apa mungkin di kamar Reynand banyak nyamuk?" Azalea bergumam sendiri.
Demi memastikan apa yang terjadi pada tubuhnya, Azalea memeriksa bagian lengan, kaki dan punggung. Tidak ada tanda merah di bagian yang lain.
"Enggak ada yang lain." Azalea semakin bingung. "Kalau banyak nyamuk, kok, aku enggak kebangun ya?"
Tidak juga menemukan jawaban atas pertanyaan itu, Azalea memutuskan untuk mengguyur tubuhnya. Reynand sudah menunggunya, terlebih sang kakek sudah menunggu mereka.
Azalea mandi dengan kilat, lalu berganti pakaian mengenakan kaus pendek juga celana jins. Ia keluar dari kamar dan mendapati Reynand yang sudah bersiap mengajaknya pergi.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya sampai masuk ke mobil. Kendaraan roda empat itu meluncur di jalan raya yang padat.
"Rey, nanti sepulang dari rumah kakek antarin aku ke swalayan ya," ujar Azalea memecah kesunyian di dalam kabin.
Reynand menoleh sekilas. "Mau beli apa?" tanyanya ingin tahu.
"Aku mau beli lotion nyamuk sama semprotan racun nyamuk."
__ADS_1
Reynand menanggapi dengan anggukan pelan. Ia tidak sepenuhnya paham dengan maksud Azalea.