Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Perasaan yang Sama


__ADS_3

"Jadi, ini kamar kamu?"


Azalea seketika menoleh saat mendengar pertanyaan dari pemilik suara berat itu. Ia menatap lurus, memperhatikan Reynand yang melangkah masuk ke kamarnya, duduk di pinggir ranjang di samping Azalea.


Azalea segera meletakkan foto masa kecil yang tadi ia lihat. Namun, belum sempat ia letakkan, tangan lelaki di sampingnya sudah lebih dulu mengambil.


"Lihat," ujar Reynand.


Lantas, yang terjadi adalah keduanya yang saling berenut figura poto. Azalea yang tidak ingin sang suami melihat foto masa kecilnya, sedangkan lelaki itu penasaran bagaimana rupa si Azalea kecil.


Reynand mengangkat tangan tinggi-tinggi agar Azalea tidak mampu menggapai. Ia naik ke atas ranjang, berjinjit semakin tinggi.


Sementara itu, Azalea terus berusaha menggapai. Ia menarik lengan Reynand, melingkarkan tangan di dada, lalu melompat naik ke tubuh lelaki itu. Pada akhirnya, Reynand terjatuh ke ranjang, dan tubuh Azalea berada di atas sang lelaki.


Reynand tertawa terbahak. Ia merasa sangat bahagia bisa bermain bersama sang istri kecil. Lantas, tangan kirinya bergerak memberi gelitikan di perut. Azalea pun tertawa kegelian. Mereka tertawa lepas, sampai tidak mendengar suara ketukan di pintu kamar.


Pintu kamar Azalea pun terbuka, Maryam berdiri dengan tatapan nanar.


"Apa yang kalian lakukan?!" tanya Maryam setengah berteriak. Dadanya naik turun melihat pemandangan yang tidak sopan di hadapannya.

__ADS_1


Bukankah baru beberapa menit yang lalu Maryam memperingatkan Reynand agar tidak membuat anak gadisnya itu hamil. Lagipula, Reynand juga sudah berjanji untuk tidak melakukan hal itu? Tapi mengapa pemandangan seperti ini yang wanita itu lihat? Terlebih dengan posisi Azalea berada di atas tubuh lelaki itu.


Reynand kontan membalik posisi keduanya. Kini, dirinya yang berada di atas tubuh gadis itu. Lantas, dengan gerakan cepat pula ia segera turun dari ranjang. Lelaki itu berdiri canggung menghadap sang mama mertua.


Reynand mengelus tengkuknya. Kepala miring ke kanan dan ke kiri, bingung harus menjelaskan bagaimana. Seketika, matanya menatap lurus pada Azalea yang duduk kaku.


"Saya cuma mau--"


"Ingat dengan perjanjian kita, Nak Reynand. Mama memegang kata-kata kamu tadi." Maryam berkata tegas. Lantas, ia pun membalikkan tubuh melangkah lebar menjauh dari kamar putri bungsunya.


"Kamu, sih," ujar Azalea menyalahkan Reynand. Ia melirik ke pintu kamar, memastikan jika sang mama sudah tidak berada di sekitar kamarnya.


"Kamu menyalahkan aku?" tanya Reynand tidak percaya. Ia menunjuk wajahnya sendiri, lalu menggeleng berulang kali. "Tidak bisa dipercaya. Padahal aku cuma ingin melihat foto masa kecil istriku sendiri. Itu pun bahkan tidak boleh."


"Atau kamu malu juga aku melihat kamar kamu ini. Aku enggak boleh di sini. Oh, kamu bahkan enggak senang kalau aku ikut menginap bukan?" Sepertinya, emosi Reynand sedang tersulut. Entah oleh sebab apa. Mungkin karena ia yang tidak diizinkan untuk melihat foto masa kecil sang istri, atau karena perjanjian dengan mertuanya tadi di ruang keluarga.


Reynand tidak habis pikir. Bagaimana mungkin dirinya tidak boleh menyentuh Azalea dalam artian yang sesungguhnya? Padahal ia adalah suami gadis itu. Mereka berdua adalah sepasang suami istri.


Ya, walaupun tidak bisa dipungkiri ... Reynand pun sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyentuh Azalea lebih dari sekadar pelukan dan ciuman saja.

__ADS_1


Oh, ayolah! Apa perlu diperjelas seperti itu? Apakah kedua orang tua Azalea melihat dirinya sebagai lelaki mesum?


Di titik itu, Reynand merasa bahwa harga dirinya sebagai seorang suami sekaligus sebagai seorang lelaki dewasa telah diremehkan.


Bagi Reynand, lelaki dewasa adalah seseorang yang seharusnya bisa mengendalikan pikiran, tingkah laku dan hawa nafsunya. Sebab, apa yang ada pada dirinya itu tentulah berada dalam kendalinya. Bukan lelaki dewasa yang justru tidak bisa mengendalikan diri.


Baiklah, Reynand menyadari betul bahwa lelaki dewasa tentu memiliki kebutuhan seksual yang harus dipenuhi. Namun, bukan berarti bahwa dirinya bisa ditundukkan oleh satu kebutuhan itu bukan? Hanya hewan yang tidak bisa mengendalikan nafsunya.


Ya, walaupun Reynand akui jika dirinya belum tahu rasanya bercinta seperti yang rekan-rekannya katakan. Sampai di umurnya yang hampir kepala tiga ini, ia masih bisa menjaga diri agar tidak terjerumus dengan kesenangan sesaat. Cukup baginya cerita kelam teman-temannya yang menjadi contoh. Lagipula, Reynand tidak ingin kehilangan kepercayaan dari orang yang sangat disayangi dan dikagumi, Kakek Emery.


Bagi Reynand, berhubungan suami istri dengan Azalea di umur gadis yang bahkan belum genap tujuh belas tahun itu sama dengan tenggelam dalam kesenangan sesaat. Azalea masih memiliki masa depan yang panjang, setidaknya biarkan gadisnya itu lulus dari seragam abu-abu terlebih dahulu. Ia tidak ingin menyesal di kemudian hari karena mengambil langkah yang hanya dinikmati sesaat saja. Reynand menggeleng. Keputusan yang diambilnya sudah benar.


"Aku enggak bermaksud gitu. Kita, kan, baru kenal. Aku masih malu. Terus, kalau kamu mau nginap di sini aku juga enggak masalah, kok. Aku hanya ... aku hanya ... merasa aneh karena kita berada dalam satu kamar. Aku takut kalau kamu tidak bisa mengendalikan diri. Mau bagaimana pun, kamu adalah lelaki dewasa. Terlebih dengan status kita sebagai suami istri, aku tidak akan bisa menolak jika kamu meminta hak kamu sebagai suami atas diriku." Setelah mengatakan kalimat yang panjang kali lebar itu dengan suara yang naik turun, Azalea menunduk dalam. Ia benar-benar belum siap jika Reynand meminta dirinya untuk melayani lelaki itu.


Azalea masih ingin bermain, bebas dan ingin menggapai cita-citanya.


"Setidaknya ... sampai aku lulus sekolah dulu. Kalau udah kuliah, kan, enggak masalah kalau aku hamil dan punya anak. Aku baca di internet kehamilan di bawah umur bisa beresiko, aku takut kalau membahayakan diri dan calon anak kita ...."


Reynand mengulum senyum. Ia berjalan mendekat kemudian meraup tubuh wanita yang tampak menggemaskan itu ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Sudah cukup bicaranya. Kita, kan, sudah sepakat kalau pacaran dulu. Mana boleh orang pacaran melakukan hubungan suami istri. Kecuali kalau kita sudah sepakat untuk melakukannya. Itu pun harus menikah dulu. Aku enggak mau, sesuatu yang berharga yang seharusnya ditunggu kehadirannya dengan bahagia justru menjadi beban untuk kita. Terutama untuk kamu. Kita akan sama-sama menahan diri. Oke?" Reynand berkata lembut. Ia bisa merasakan anggukan kepala Azalea di dadanya. Lantas, pelukannya pun semakin mengetat. Perasaan cinta di dalam hatinya semakin tumbuh untuk gadis di dalam pelukannya ini.


Azalea mendongak, menatap seraut wajah tampan dalam pelukannya. Bolehkah ia mengartikan perasaannya kepada Reynand sebagai cinta? Seketika, wajahnya pun memanas.


__ADS_2