
Sepulang sekolah, Azalea telah ditunggu oleh Reno. Azalea melambaikan tangan menyapa remaja lelaki itu yang telah duduk di motor besar.
Reno menyerahkan helm. "Naiklah," ujarnya lembut.
Azalea menerima helm tersebut, memakainya lalu tertegun sejenak. Seumur hidupnya, ia belum pernah naik kuda besi itu. Azalea bingung gimana cara naiknya.
"Sini tangan kamu." Reno berkata lembut. Ia juga tersenyum lembut, membuat Azalea gugup. Namun, gadis itu menurut saat Reno membantunya untuk naik ke jok motor besar itu.
Setelah memastikan Azalea duduk dengan qman, barulah Reno memakai pelindung kepalanya dan naik. Ia menoleh ke belakang,"Sudah siap?"
Setelah mendapatkan anggukan Azalea, Reno pun menyalakan mesin kendaraan, kemudian keluar dari area parkir.
Azalea merasa tubuhnya menegang takut. Ia memberanikan diri melingkarkan kedua tangan di pinggang Reno dengan erat, dadanya pun seketika menempel di punggung lelaki itu. Sesaat, bayangan wajah Reynand melintas di pelupuk mata, seketika itu juga Azalea menjaga jarak. Rasanya memang tidak pantas jika ia duduk merapat begitu, sementara statusnya yang sudah menjadi istri orang.
Kendaraan berhenti di lampu merah. Reno menoleh. "Kamu kepanasan?" Pertanyaan itu dibalas gelengan kepala Azalea.
Selanjutnya, tidak ada lagi percakapan di antara keduanya. Reno merasa jika ada yang berubah pada ekspresi Azalea. Gadis itu tidak seriang tadi saat mereka akan berangkat. Ada kesedihan dan sesuatu yang dipikirkan. Sayangnya, ia merasa tidak memiliki kuasa untuk menanyakannya.
Sementara itu, ada rasa takut juga cemas yang Azalea rasakan. Ia juga memikirkan apa yang harus dilakukan saat bertemu dengan Mona. Azalea bahkan menahan napas saat pikiran buruk mulai merasuki otaknya, berita tentang yang terjadi di sekolah dan alasan Reynand berada di sekolahnya itu sangat mengganggu sekali. Terlebih, hari ini ia tidak mengabari Reynand tentang rencananya itu.
"Kita sudah sampai." Ucapan Reno cukup mengembalikan fokus Azalea yang sempat bercabang.
Gadis itu segera turun dari motor, lalu melepaskan pelindung kepalanya dan memberikan kepada Reno. Kening Azalea berkerut saat mendapati rumah di hadapannya tampak sepi. Tidak ingin membuang-buang waktu, ia pun memanggil sambil menggoyangkan gembok yang mengunci pintu pagar. Tidak ingin ketinggalan, Reno pun membantu.
Setelah beberapa menit tidak ada hasil, Azalea menoleh menatap Reno. Secara bersamaan, lelaki itu juga menatap ke arahnya. Reno sepertinya tahu apa yang dipikirkan Azalea.
__ADS_1
"Biar aku tanya ke tetangganya. Kali aja ada orang di rumah sebelah." Reno segera berjalan ke rumah sebelah setelah mendapatkan anggukan Azalea.
Belum sempat ia membuka pintu pagar yang sudah sedikit terbuka itu, seseorang keluar dari rumah tersebut.
"Maaf, permisi. Saya numpang tanya ... apakah Bapak tahu ke mana perginya penghuni di rumah sebelah itu?" Reno bertanya sopan sambil menunjuk rumah Mona.
"Pemilik rumah pergi beberapa hari lalu. Enggak ada yang tahu pergi ke mana." Lelaki paruh baya itu mengedikkan bahu. Lantas, ia keluar dari pagar dan menoleh pada rumah di sebelahnya. "Kalian siapa? Teman anaknya ya?" Pertanyaan itu dibalas anggukan Reno dan Azalea secara bersamaan.
Azalea tertunduk lesu. Bahunya pun terkulai lemas. Tampaknya, tidak ada hasil yang didapatkan atas pencariannya hari ini.
Setelah berpamitan kepada lelaki paruh baya itu, kedua murid sekolah menengah atas itu pun kembali pulang.
Reno menghentikan kendaraannya di sebuah kedai. Ia melepaskan pelindung kepalanya, lalu menoleh. "Kita makan dulu ya, aku lapar."
Jika boleh jujur, Azalea ingin segera pulang. Ini sudah sangat terlambat dari jam pulang sekolah. Bodohnya ia karena tidak meminta izin kepada Reynand. Namun, apa boleh buat. Azalea juga tidak akan tega membiarkan seseorang yang telah berbuat baik kepadanya itu kalaparan.
Azalea sadar betul, ada kecanggungan yang tercipta di antara mereka. Ia juga bisa merasakan degup jantungnya yang berdebar berkali lipat. Azalea berdeham pelan, lalu memundurkan langkah untuk menghindar dari tatapan lekat lelaki di hadapannya. Ia juga sadar betul jika panggilan keduanya pun mendadak berubah.
"Yuk, masuk!" Reno tersenyum, lalu melangkah lebih dulu, dan diikuti Azalea di belakangnya.
Tidak ada obrolan yang berarti saat mereka menikmati hidangan sederhana itu. Awalnya, Reno sempat meminta maaf karena mengajak Azalea makan di tempat yang sederhana seperti ini.
"Biasa aja kali. Aku ... eh, gue, kan, juga suka makan bakso." Azalea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh, panggilan yang berubah-ubah ini terdengar aneh di telinganya sendiri.
"Gak apa-apa juga, kok, kalau kamu pakai 'aku kamu' aja, enggak pakai 'lu gue' terkesan lebih akrab aja." Reno berbicara lembut, begitu pula dengan tatapan matanya pada Azalea.
__ADS_1
Azalea segera memutus tatapannya. Ia mengganti fokus pada minuman di hadapan, kemudian memghabiskan kuah yang pedas itu sampai tidak bersisa.
"Bakso di sini enak ya, lebih enak dari yang di kantin sekolah." Azalea berkata jujur. Namun, ungkapan jujurnya itu justru diartikan berbeda oleh Reno.
"Berarti besok-besok kita makan di sini lagi ya. Tempat ini adalah tempat langgananku. Aku sering banget ke sini, bisa tiap minggu." Reno berbicara antusias. Tampak sekali binar bahagia yang terpancar dari wajahnya, kerlipan matanya pun terlihat amat terang.
Melihat itu, membuat lidah Azalea terasa kelu untuk menolak. Akhirnya, ia hanya mengangguk lemah.
Ponsel milik Azalea berdering saat Reno sedang membayar makanan mereka. Ia sudah bisa menduga jika si penelepon adalah Reynand. Benar saja, nama lelaki itu berpendar di layar ponselnya.
"Kamu di mana? Ini sudah sore dan kamu belum pulang juga? Jangan bilang kamu lagi keluyuran dengan temen cowok kamu itu."
Pertanyaan beruntun diiringi tuduhan langsung Reynand layangkan begitu Azalea menempelkan ponsel ke telinganya. Ia menelan ludah. Tuduhan itu bukan hanya sekadar tuduhan, ada kebenaran sekaligus kesalahan di sana.
"Aku enggak keluyuran. Ini udah jalan pulang, kok," sahut Azalea pelan. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena mengeluarkan suara yang tidak kalah tinggi dari sang suami.
"Baiklah. Aku tunggu lima belas menit dari sekarang. Kamu sudah harus pulang."
"Ya ... ya ... enggak--" Belum selesai Azalea berbicara, sambungan telepon mereka telah diputus secara sepihak.
Azalea mencoba melakukan panggilan lagi, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Ia yakin sekali jika Reynand sengaja.
Tidak ingin semakin membuat lelaki itu marah, Azalea pun bergegas berdiri. Ia mendekati Reno yang berjalan ke arahnya.
"Aku harus pulang sekarang ...." Azalea bingung harus menjelaskan apa kepada Reno.
__ADS_1
"Kamu sudah ditunggu keluargamu?"
Pertanyaan itu langsung dibalas anggukan kepala, Azalea bersyukur karena Reno menebak dengan tepat.