
Azalea pikir, ia akan berangkat pagi-pagi sekali untuk menemui Mona. Rupanya, Reynand punya rencana sendiri. Lelaki itu ada rapat penting pagi ini di kantor. Walaupun sekolah libur, tetapi Reynand punya segudang kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Haruskah Azalea membatalkan niatnya menemui Mona?
Setelah menyelesaikan sarapannya, Reynand pun segera berpamitan. Ia membawa tas kerja yang tadi diletakkan di atas kursi. Langkahnya lebar, sampai Azalea kuwalahan mengejar. Gadis itu berlari kecil agar bisa beriringan.
"Nanti aku jemput pas istirahat makan siang ya," kata Reynand saat mengulurkan tangan untuk salim.
Azalea mencium punggung tangan sang suami dengan takzim. Ketika melakukan ritual itu, seperti ada yang berdesir mengantarkan kehangatan di seluruh tubuhnya kemudian bermuara di hati. Dan, ketika Reynand meraup kepalanya, lalu mendaratkan kecupan di kening. Tubuhnya bergetar, kedua lututnya sampai terasa seperti jelly. Perlakuan lembut lelaki itu mampu melumpuhkan persendiannya bahkan sampai ke otaknya. Sampai, ia lupa kalimat yang ingin diucapkan.
Tubuh Reynand telah menghilang di dalam lift, sementara Azalea masih berdiri terpaku menatap lorong yang sunyi. Di jam segini, suasanq sekitar memang cukup sepi. Terlebih, tidak ada tegur sapa apalagi mengenal pemilik unit yang lain.
Azalea mendesah panjang, lalu masuk ke unitnya. Tiba-tiba perasaan sepi mendera. Ini pertama kalinya dirinya liburan hanya sendirian. Biasanya, walaupun tidak ke mana-mana, rumahnya tidak pernah kosong. Ketika kedua orang tuanya pergi, atau sang kakak juga pergi, ada asisten rumah tangga yang masih tersisa. Namun, di sini ia hanya tinggal berdua saja dengan sang suami. Saat Reynand pergi, tinggallah Azalea seorang diri.
Azalea membuka pintu balkon, seketika itu juga hangatnya mentari pagi menerpa wajah. Mata Azalea memicing karena silau oleh sinar yang terang benderang. Ia pun memilih duduk di kursi, menikmati pemandangan alam yang bisa dirasakan. Tanpa sadar, matanya pun terpejam. Paginya yang membosankan berganti mimpi yang sayang untuk dilewatkan.
Tubuh Azalea menggeliat sampai terjatuh dari kursi. Lututnya membentur lantai, membuatnya mengaduh kesakitan. Rasa linu dan nyeri menjadi satu.
Azalea duduk di lantai. Ia memperhatikan lututnya dan mendapati memar di sana. Gadis itu meniup sambil mengelus bagian yang sakit. Ia pun berniat mengompres bagian yang sakit itu dengan es batu. Namun, saat dirinya mulai beranjak berdiri, rasa sakit seketika menyerang, membuatnya kembali duduk di kursi sembari meringis kesakitan.
Wajah Azalea memerah, lalu buliran bening mengalir membasahi pipi. Gadis itu memang tidak bisa menahan rasa sakit di tubuhnya. Ketahanan fisiknya cukup dipertanyakan. Sakit sedikit, ia akan menangis.
Sambil meniup-niup lutut, air mata Azalea terus saja mengalir. Sampai beberapa saat, ia biarkan tangisannya reda sendiri agar perasaannya tenang. Setelahnya, barulah ia kembali berusaha berjalan dengan tertatih. Namun, tujuannya bukan lagi mengambil es batu untuk mengompres melainkan menuju kamar untuk berbaring.
Belum sampai Azalea ke kamarnya, tenaga yang dimiliki seakan telah terkuras habis. Ia pun memilih berbaring di sofa di depan televisi. Azalea menyalakan layar lebar itu agar perasaan sendirinya bisa diusir. Setidaknya, suara dari siaran di layar yang ditampilkan bisa meramaikan keadaan unit apartemennya yang sepi.
Pada akhirnya, Azalea menghabiskan waktu dengan menonton televisi. Ia mencari tayangan yang disukai. Film action menjadi pilihan. Sampai, waktu makan siang pun tiba.
Azalea melihat jam di dinding, sudah waktunya Reynand menjemputnya. Ia pun berjalan perlahan menuju kamar untuk berganti pakaian. Mengabaikan nyeri di lutut yang kini tampak membengkak, Azalea kembali ke ruang tengah. Ia mematikan layar besar di hadapan kemudian memeriksa ponsel kalau saja ada pesan dari sang suami. Nihil. Reynand tidak mengirim satu pesan pun untuknya.
Azalea menunggu dengan sabar kedatangan Reynand. 'Mungkin masih di jalan,' pikirnya. Ia menatap layar ponsel yang tetap saja gelap, tidak ada notifikasi ataupun panggilan di sana. Lantas, ia pun berinisiatif untuk mengirimkan pesan lebih dulu, menanyakan keberadaan Reynand sekarang.
__ADS_1
'Kamu udah di mana?'
Azalea tidak sempat menngklik tombol kirim, sebab pesan yang diketiknya telah dihapus.
Azalea menggeleng pelan, lalu mengetik ulang dengan pertanyaan yang lain.
'Kamu udah makan belum?'
Hapus lagi.
'Aku udah siap. Kita jadi pergi, kan?'
Hapus lagi.
Azalea menggigit bibir. Rasanya semua pesan yang ia ketik menjadi serba salah.
Kali ini, karena perasaan gugup yang semakin menjadi. Azalea belum selesai mengetikkan kalimatnya saat ibu jarinya tidak sengaja menekan ikon kirim pada layar. Ia terkejut, sampai benda pipih itu jatuh ke pangkuan.
"Duh, gimana ini?"
Azalea hendak menghapus pesan yang dikirim saat nama Reynand berpendar di layar ponselnya. Lelaki itu melakukan panggilan. Bukan karena sengaja gadis itu menggeser ikon berwarna hijau melainkan marena dunia di sekitarnya seakan berhenti sejenak.
"Azalea." Suara Reynand terdengar lembut dalam kebisingian. Entah sedang berada di mana lelaki itu.
Azalea pikir, Reynand sedang dalam perjalanan pulang menjemputnya.
"Ya ... ya, Reynand. Aku--"
"Sorri ya, ini aku ada urusan mendadak. Penting banget dan enggak bisa ditunda. Aku belum bisa jemput kamu sekarang ...."
__ADS_1
'Aku udah siap.' Azalea melanjutkan kalimatnya dalam diam.
"Kamu enggak apa-apa, kan, kalau kita tunda dulu ke tempat Mona-nya?" tanya Reynand menuntut jawaban.
"Ya. Oke. Kamu selesaikan dulu aja pekerjaan kamu." Azalea menjawab dengan suara pelan. Ia terkekeh untuk menutupi kecewa di dalam hatinya.
"Ya udah. Aku lanjut rapat dulu."
Kemudian, panggilan pun diputus. Tidak ada pertanyaan dari Reynand untuk Azalea.
Apakah Azalea sudah makan siang?
Apakah Azalea sudah bersiap menunggunya?
Atau, apakah ada sesuatu yang terjadi hari ini?
Azalea menggenggam erat ponsel di tangan. Rasa sakit di lutut yang beberapa saat lalu bisa ditahannya, justru kini terasa berkali lipat sakitnya. Sampai, membuat Azalea menangis sesunggukan.
Untuk pertama kali Azalea berharap pada seseorang. Dan, harapan itu begitu mudahnya dipupuskan.
Untuk pertama kalinya Azalea percaya pada seorang lelaki. Dan, kepercayaan itu begitu mudahnya dipatahkan.
Dalam keheningan itu, Azalea terus menangis. Rupanya, rasa sakit di dalam hatinya jauh lebih sakit ketimbang cidera di lututnya.
Azalea mengusap air matanya sampai kering, sayang bulir bening itu mengalir lagi. Lantas, ia berjalan dengan satu kaki, melompat-lompat menuju kamarnya. Satu hal yang ingin Azalea lakukan; ia ingin menenggelamkan diri dalam selimut, lalu pergi ke alam lain. Mungkin, di alam mimpi dirinya sedang berjalan-jalan dengan perasaan bahagia. Tidak apa jika sendirian. Gadis itu tidak membutuhkan siapa pun untuk menemani perjalanannya.
Hal yang tidak diketahui Azalea adalah Reynand yang kembali menghubungi. Lelaki itu baru ingat jika ia belum menanyakan apakah Azalea sudah makan atau belum? Ia ingin mengirimkan menu makan siang. Namun, sampai beberapa kali panggilan tidak mendapatkan jawaban.
Reynand pun memesankan makanan. Namun, makanan itu harus kembali ke kantornya, sebab si pemilik apartemen tidak juga membukakan pintu.
__ADS_1