
Hari pertama pengintian yang dilakukan Azalea belumlah membuahkan hasil. Ia cukup kelelahan dengan pekerjaan itu. Setiap detail harus diperhatikan dengan baik. Padahal, di hari biasa Azalea akan bersikap cuek saja pada apa pun yang terjadi di kelas, begitupula di sekolah. Bagi gadis itu, yang terpenting tidak ada yang mengganggunya. Itu sudah cukup.
Azalea memperhatikan setiap detail aktivitas maupun obrolan teman sekelasnya itu mulai dari saat menginjakkan kaki di sekolah pagi hari hingga saat kakinya melangkah keluar di waktu pulang sekolah. Sungguh melelahkan. Namun, saat hari-hari pun berlalu, Azalea sudah cukup terbiasa akan pekerjaannya itu. Sayang, seminggu kemudian ia belum juga mendapatkan tanda-tanda.
Sampai saat ujian semester berlangsung dan Azalea terlambat di hari pertama. Ibu Winda menyuruhnya melapor ke kepala sekolah atas keterlambatannya itu. Padahal, setahu Azalea di semester sebelumnya jika ada siswa yang datang terlambat, tidak harus melapor untuk bisa mengikuti ujian.
"Apes," gumam Azalea sembari melangkah menuju ruang kepala sekolah.
Suasana begitu hening, sebab para siswa tentu sedang fokus pada ujian mereka masing-masing. Langkah Azalea terdengar nyaring. Ia juga bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Kepala Azalea menunduk, memikirkan apa yang akan terjadi di dalam ruangan itu. Tanpa sadar, kepalanya membentur sesuatu. Memang tidak terlalu keras, tetapi cukup membuat Azalea pening.
"Aduh." Azalea melenguh, indera penciumannya menghidu aroma parfum yang sidah dihafalnya. Ia pun mendongak, dan seketika itu juga matanya mendelik kaget. "Ka ... mu, eh, Bapak di sini?" tanyanya dengan suara tergagap.
"Kamu mau ke mana?" Reynand balik bertanya dengan suara pelan. Tangannya begitu saja terulur mengelus kepala Azalea yang membentur dadanya.
"Aku mau ke ruang kepala sekolah. Tadi datang terlambat, jadi harus melapor." Azalea menjelaskan dengan bibir mengerucut. Ia mengedikkan bahu. Rasanya sangat malas berdebat dengan lelaki di hadapannya ini. Bukankah karena ulah Reynand ia jadi datang terlambat.
"Sorri," balas Reynand dengan ringisan pelan. Tangannya masih bertahan di kapala Azalea.
"Ya sudah. Aku mau ke ruang kepala sekolah dulu, enggak mau terlambat lagi." Azalea begitu saja melangkah melewati Reynand. Namun, tangan lelaki itu justru menahan pinggangnya. Tanpa diduga, Reynand melakukan hal yang tidak terbayangkan sebelumnya, dan tentu saja membuat Azalea marah.
"Ini di sekolah. Jangan cium-cium," desis Azalea dengan suara tertahan. Ia celingukan menoleh ke kiri dan ke kanan, khawatir jika ada orang yang melihat mereka.
"Iya ... iya. Udah sana. Hati-hati." Reynand tersenyum manis sekali. Akhir-akhir ini lelaki itu sering tersenyum seperti itu. Senyum yang berhasil membuat Azalea terpesona.
"Udah sana!" Melihat Azalea yang tidak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri, Reynand pun akhirnya memegang kedua bahu gadis itu, memutar balik tubuh Azalea kemudian mendorong pelan agar Azalea melanjutkan langkah.
Azalea bersungut-sungut, tapi segera berjalan cepat menuju ruang kepala sekolah.
__ADS_1
Azalea berdiri di depan pintu, tangannya sudah bersiap mengetuk pintu saat mendengar percakapan di dalam sana. Ia bisa mendengar dengan jelas karena pintu ruangan yang tidak ditutup secara rapat, masih ada celah untuknya mengintip.
"Kamu bisa saja mendapatkan tanda tangan saya untuk surat izin kamu. Tapi ...."
Azalea bergidik ngeri saat dengan mata kepalanya sendiri melihat tangan lelaki itu tengah mengelus lengan sang siswa. Rasanya, darah Azalea berdesir hebat mengalir ke seluruh tubuh. Ia juga merasakan persendiannya melemas.
Enam bulan terakhir ini, sekolah mereka memang melakulan pergantian kepemimpinan. Kepala sekolah sebelumnya dipindah ke sekolah yang lain. Sementara itu, lelaki yang berada di ruangan itu saat ini adalah penanggung jawab sementara sampai sekolah menetapkan siapa yang layak menjadi pemimpin di sekolah ini. Siapa yang menyangka, desas desus tidak mengenakkan terjadi sejak penanggung jawab diberikan kepercayaan itu.
Isu punya isu, lelaki itu adalah saudara jauh dari pemilik sekolah. Dengan kata lain, lelaki tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Reynand, suami Azalea.
"Tapi apa, Pak?" Suara dari dalam sana mengusik pemikiran Azalea.
"Tapi, kamu harus cium saya dulu."
Cih!
Azalea berdecih. Ia pun memundurkan langkah. Ia harus mencari cara agar bisa masuk ke ruangan itu tanpa harus menerima perlakuan tidak baik itu.
Azalea masih bisa mendengar suara tawa dan candaan lelaki itu. Otaknya terus berpikir tentang hal yang ditemuinya hari ini. Ah, sial sekali, di saat genting dirinya justru tidak ingat untuk merekam.
Selanjutnya, Azalea pun berlari mencari keberadaan Reynand. Ia tidak lagi peduli dengan waktu yang terus bergulir. Biarkan saja kalaupun dirinya tidak bisa mengikuti ujian. Yang paling penting sekarang adalah mencari keberadaan Reynand.
"Itu dia," gumam Azalea saat melihat lelaki itu berjalan di dekat kelasnya.
Pinti ruang kelas Azalea terbuka bersamaan dengan dirinya yang memanggil Reynand. Ia tersenyum tipis saat melihat Ibu Winda keluar dari kelas, tetapi ia dan Reynand telah lebih dulu melangkah bersamaan.
"Ada apa?" tanya Reynand bingung ketika secara tiba-tiba istri kecilnya itu menarik lengannya.
"Temani aku ke ruang kepala sekolah." Azaleq berkata sambil berjalan cepat dengan Reynand yang melangkah di sampingnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Reynand lagi dengan pertanyaan yang sama.
"Tadi di dalam sana ada siswa yang lain, yang ngadap kepala sekolah juga--"
"Kamu enggak kenapa-napa, kan?"
Pertanyaan yang diajukan Reynand membuat kecurigaan Azalea semakin meningkat. Ia menghentikan langkah, menatap Reynand dengan mata memicing.
"Ini, kamu enggak menaruh curiga kayak aku, kan? Aku ngerasa kalau ada apa-apa sama bapak itu. Kamu yakin kalau dia engga bermasalah?"
Kali ini, pertanyaan Azalea tidak langsung mendapatkan jawaban, sebab Reynand sudah lebih dulu berjalan di depannya.
"Rey!" panggil Azalea dengan suara tertahan. Ia tidak ingin lorong sepi ini tiba-tiba menjadi ramai karena ulahnya.
"Aku sudah tahu. Sebentar lagi petugas akan datang."
Apa yang dikatakan Reynand barusan membuat Azalea syok.
"Terus, kenapa kamu biarin aku ke sana sendirian tadi?" Dengan perasaan kesal Azalea langsung memukul lengan Reynand.
"Aku tahu kalau ada orang lain di dalam, dan aku sedang menunggu petugas." Detik itu, suara dering ponselnya terdengar. Reynand menjawab telepon.
Lantas, beberapa menit kemudian semua hal terjadi di luar dugaan Azalea, dan terjadi begitu saja sebelum otaknya itu bisa memproses semuanya.
Beberapa orang berseragam datang, lalu masuk ke ruang kepala sekolah. Apa yang terjadi sekarang ini tentu berhasil memancing keriuhan. Para murid yang sedang ujian menghambur keluar, ikut menyaksikan apa yang terjadi. Di antara mereka bahkan ada yang menangis histeris.
Pemandangan berikutnya sungguh di luar nalar, saat penanggung jawab itu justru meluapkan amarah di hadapan Reynand.
"Keluarga Emery akan menanggung semua ini. Camkan itu!" kata lelaki itu dengan kilatan marah.
__ADS_1
"Akan aku tunggu, Ron." Reynand tetap bersikap santai.
Selanjutnya, sekolah diliburkan. Ujian pun ditunda di hari besok.