Jodoh Kencan Buta

Jodoh Kencan Buta
Cemburu


__ADS_3

Selama perjalanan pulang, Azalea terus menatap ke arah jendela. Ia masih kesal dengan perasaan yang menguasai hatinya. Terlebih, saat ia menyadari bahwa perasaan kesal itu disebabkan oleh lelaki yang duduk di sampingnya. Tampaknya, Reynand tidak menyadari kegelisahannya, terbukti dari sikap lelaki itu yang biasa saja.


Azalea langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana saat kendaraan itu berhenti, tanpa kata dan tanpa menoleh meninggalkan Reynand yang mematikan mesin.


Azalea berjalan cepat. Dalam kepalanya, ia hanya ingin segera berpisah dengan Reynand, tidak ingin berlama-lama bersama lelaki itu. Ia masih kesal, bahkan amat sangat kesal dengan sikap cuek Reynand.


"Lea!" Reynand berseru, lalu meraih lengan azalea, membuat istrinya itu terkejut.


"Cepat banget," gumam Azalea tanpa sadar.


"Kita jalan bareng." Reynand menekan tombol pada lift. Ia menarik Azalea yang masih bengong tidak bergerak.


Mau tak mau, Azalea pun masuk. Seseorang yang ingin ia hindari, kini justru tengah berdiri bersamanya. Azalea menyandarkan tubuh, lalu memndongakkan kepala. Sesaat, tatapan keduanya pun bertemu pada dinding kotak besi itu. Namun, seketika itu juga, Azalea pun memalingkan wajah, enggan melihat wajah suaminya.


Hening. Tidak ada satu pun yang mengeluarkan suara di antara keduanya. Azalea sibuk dengan pikiran ruwetnya, sedangkan Reynand entah dengan pikiran apa.


Denting lift pun berbunyi, mengusik keheningan yang terjadi. Azalea sontak menegakkan badan, lalu berjalan lebih dulu keluar dari kotak besi itu. Ia menekan password pada pintu apartemennya, lalu membuka pintu itu dengan gerakan kasar, dan berjalan cepat menuju kamar. Ia ingin segera merebah di atas kasur, mengistirahatkan jiwa dan raganya.


Entah berapa lama waktu yang ia gunakan untuk terlelap. Saat bangun, tubuh Azalea cukup memiliki semangat, tidak selelah tadi.


Gadis itu pun menurunkan kakinya ke lantai kamar tanpa alas kaki. Pakaian seragam yang masih melekat di badan ia lepaskan satu per satu kemudian diletakkan di gantungan. Matanya melirik keranjang baju kotornya yang di letakkan di samping pintu kamar mandi. Keranjang itu telah penuh. Azalea pun mengembuskan napas panjang. Ia memang sangat malas berurusan dengan cucian.


Azalea melewati keranjang itu. Ia masuk ke kamar mandi. Lebih baik jika dirinya mengguyur tubuh dengan air dingin. Azalea cukup lama berdiri di bawah kucuran shower. Setelah dirasa segar, barulah ia mengeringkan diri, dan membalut tubuhnya dengan bathrobe. Saat keluar dari kamar mandi, ia mendengar ketukan di pintu kamarnya.

__ADS_1


Untuk beberapa saat, Azalea mengabaikan ketukan itu. Ia berjalan melewati ranjang menuju lemari pakaian. Ia mengambil pakaian santai, lalu terdengarlah panggilan dari luar.


"Lea!"


Malas menanggapi, Azalea memilih berganti pakaian dalam diam. Namun, tampaknya Reynand tidak mau beehenti memanggil sebelum mendapatkan sahutan darinya.


Azalea berjalan menuju pintu dan langsung membukanya. Terang saja, Reynand berdiri di hadapannya sekarang.


"Apa?" tanya Azalea sembali mendongak, membalas tatapan Reynand dengan tajam.


"Apa kamu enggak dengar panggilanku dari tadi?" balas lelaki itu. Kini suara Reynand pun menajam setajam tatapannya. "Apa aku ada salah?"


Azalea melengos. Ia melewati tubuh Reynand yang berdiri di hadapan. Bayangan akan keakraban Reynand dan Ibu Winda berkelebat di ingatan. Seketika, hawa panas meliputi dadanya. Azalea butuh air dingin untuk meredakan kemarahannya. Aneh sekali rasanya jika ia marah sementara seseorang yang menjadi sumber kemarahannya tidak menyadari itu.


Azalea pikir, Reynand akan membiarkannya begitu saja. Rupanya, perkiraannya salah. Lelaki itu mengikuti sampai ke dapur, lalu duduk di kursi makan. Marah dengan lelaki dewasa lumayan sulit dihadapinya. Reynand seperti enggan memberikan kesempatan untuknya untuk menghindar lagi.


"Aku mau kerjain PR." Azalea berkata cepat, lalu buru-buru hendak meninggalkan Reynand. Namun, gerakan tangan lelaki itu yang menahannya sangatlah cepat.


"Duduk! Kita bicarakan apa yang jadi ganjalan pikiran kamu." Kali ini, Reynand menatap tajam.


Azalea pun menunduk lemah. Ia menepis tangan Reynand di lengannya, lalu duduk di seberang lelaki itu.


Rasanya menyebalkan sekali, saat ingin menahan diri agar tidak menangis. Namun, justru air matanya mengalir tiada henti. Ia bahkan tidak kuasa mencegah buliran bening itu. Untuk beberapa saat, hanya suara isakannya saja yang terdengar. Reynand sepertinya memang sengaja menunggunya berbicara. Bisakah dikatakan jika lelaki itu sangat gentleman?

__ADS_1


"Kamu marah padaku? Atau merasa sedih akan sesuatu?" Pertanyaan Reynand dibalas gelengan oleh Azalea. "Baiklah kalau tidak mau bicara sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu mau bicara."


"Aku mau ke kamar." Azalea menghapus jejak basah di wajahnya.


Kali ini, gantian Reynand yang menggeleng. "Masalah ini harus selesai sekarang. Aku enggak mau berlarut-larut sampai nanti apalagi besok." Ia menghela napas panjang, lalu kembali berbicara, "Karena, jika terus ditunda membicarakannya maka akan terlupakan begitu saja, sementara sakitnya sudah membekas di hati. Aku enggak mau, suatu hari nanti justru akan jadi senjata atau bom yang bisa melukai kita berdua."


Reynand menyadari, gadis yang dihadapannya itu bukanlah gadis dewasa melainkan gadis remaja yang masih labil. Ia pun paham betul, emosi anak remaja cenderung naik turun dan tidak bisa ditebak. Azalea tentu masih membutuhkan perhatian.


Di sisi yang lain, Reynand menyesal karena melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan dengan terlalu cepat. Namun, di sisi yang lain lagi, hatinya sudah tertawan oleh pesona yang dimiliki Azalea. Sebagai lelaki, ia sangat beruntung telah mempersunting Azalea.


Saat Reynand sibuk dengan berbagai cara yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah ini, suara Azalea terdengar dan justru membuatnya tidak percaya.


"Aku cemburu." Azalea menunduk semakin dalam. Sebisa mungkin, ia ingin menyembunyikan wajahnya, atau bila perlu Azalea ingin tenggelam ke dasar bumi. Lancang sekali mulutunya mengungkapkan isi hatinya.


Suara kursi yang didorong membuat nyali Azalea menciut. Bagaimana kalau Reynand justru menjadi kesal kepadanya? Atau, lelaki itu justru menertawakan pengakuannya? Namun, hal yang tidak terduga membuat Azalea harus berpikir ulang atas penilaiannya itu.


"Cemburu sama siapa?" Reynand duduk di samping Azalea yang menunduk dalam. Ia menelengkan kepala, mencari wajah cantik istrinya itu.


"Kamu sama Ibu Winda tampak cocok. Dan, Ibu Winda kayaknya juga sama kamu." Azalea kontan mendongak. Hampir saja kepala keduanya saling bertabrakan kalau Reynand tidak cepat menghindar.


Azalea mengumpulkan keberanian untuk jujur pada Reynand. Ia tidak mau tersiksa sendirian.


"Oke. Mungkin aku terlalu cepat dan gegabah. Ini pertama kalinya aku begini. Aku kesal melihat keakraban kalian berdua. Walaupun status pernikahan kita disembunyikan, tetapi kita sepakat untuk pacaran, kan? Dengan kata lain, kamu juga harus menjaga jarak dengan wanita lain." Azalea menjelaskan dengan susah payah.

__ADS_1


Selanjutnya, apa yang dilakukan Reynand berhasil meleburkan segala gundah yang ia rasakan. Reynand menarik tubuhnya dalam pelukan. Dan, bisikan lelaki itu di telinga Azalea menciptakan senyum dengan binar kebahagiaan.


"Aku senang mendengarnya. Aku juga sangat cemburu saat kamu jalan sama cowok itu." Suara Reynand begitu lirih, tetapi mampu didengar dengan baik oleh Azalea. Gadis itu mengetatkan pelukan mereka.


__ADS_2