Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*10


__ADS_3

Meski kesal. Dirly tetap melakukan apa yang Dedy katakan. Karena tidak punya pilihan lain lagi sekarang. Dia terpaksa menerima kepahitan ini dengan suka rela.


Dirly menghampiri Amelia dan Anggun. Dengan wajah ramah, juga senyum manis, dia menyapa keduanya.


"Apa kita bisa bicara ke tempat lain? Aku tidak bisa membahas hal penting di tempat umum yang cukup terbuka seperti ini." Amelia langsung bicara pada intinya. Karena dia memang sedang ingin bicara serius dengan Dirly sekarang.


"Bisa. Cuma tidak sekarang. Soalnya, kau lihat aku sedang bekerja, bukan sekarang. Jadi, aku tidak bisa pergi begitu saja."


"Ya sudah kalo gitu. Besok saja kalian bertemunya. Karena kalian ingin bicara soal kesepakatan, gimana kalau kalian bicara di kantor saja." Anggun selalu menjadi penengah buat Amelia ketika sedang bicara.


"Aku setuju. Kamu bisa datang ke kantorku besok siang. Aku tunggu."


"Tunggu! Kenapa harus di kantor? Aku tidak suka dengan tempat yang terlalu formal seperti kantor untuk membahas hal pribadi. Jadi, kenapa gak di restoran atau di tempat umum, tapi yang bisa buat ngomong secara pribadi. Seperti, restoran yang ada ruangan VIP nya gitu?"


Amelia melirik Anggun sebentar. Lalu kembali fokus pada Dirly yang ada di hadapannya.


"Baiklah kalau itu yang kamu mau. Kita akan bertemu di restoran besok siang. Restoran yang berada di sekitaran kantorku. Restoran ceria namanya."


"Oke. Deal," ucap Dirly sambil mengulur tangannya buat bersalaman. Amelia menyambut uluran tangan itu. Tapi, hanya sesaat saja. Karena Amelia menarik uluran tangan itu dengan cepat.


"Oh iya. Kalian main sepakat-sepakat saja. Udah saling kenal nama satu sama lain belum? Soalnya, aku tanya kamu tadi belum kenal nama dia, kan Mel?"


"Oh iya, ya. Kita belum saling kenal. Aku juga lupa menanyakan nama kamu, nona muda. Aku Dirly." Lagi, Dirly kembali mengulurkan tangannya pada Amelia.


"Amel."


"Hah? Amel aja?" tanya Dirly meledek.


"Amelia Sutomo nama lengkapnya." Anggun yang menjelaskan.


"Su--Sutomo?"

__ADS_1


"Iya. Kenapa? Apa kamu kenal dengan keluarga Sutomo?" tanya Anggun dengan nada penasaran.


"Tidak. Aku tidak kenal. Hanya saja, seperti pernah mendengar nama itu. Dan, sepertinya, nama itu sungguh tidak asing lagi buat aku. Tapi sayangnya, aku gak ingat pernah dengar di mana."


"Makanya, jadi orang itu jangan pelupa. Soal pernah dengar di mana saja bisa lupa." Amelia pula meledek Dirly sekarang.


"Yah, namanya juga manusia, mbak. Wajar dong jika sering lupa. Soalnya, ada banyak hal yang harus diingat. Iyakan?"


"Serah kamu aja deh."


"Ayo pulang, Gun. Udah malem."


"Hah? Pulang? Kalian bilang ini udah malam? Ini baru jam sepuluh mbak-mbak. Masih punya banyak waktu buat bersenang-senang sekarang."


"Kalo bagi orang yang gak punya kerjaan iya. Tapi nggak dengan kita yah. Jam sepuluh udah terlalu malam." Amelia berucap dengan nada penuh penekanan buat Dirly.


Dirly yang sengaja menggoda itu rasanya ingin sekali tertawa melihat sikap kesal dari Amelia. Tapi, sekuat tenaga dia tahan supaya tidak menimbulkan perdebatan lagi.


______


Keduanya sampai hampir berbarengan ke restoran tersebut. Padahal, tidak ada kontak janjian setelah tadi malam. Namun, sampainya sama-sama seperti orang yang benar-benar sedang janjian.


"Wah ... mbak. Sama-sama baru nyampai. Kek orang udah benar-benar janjian aja kita ya."


"Bisa gak usah panggil mbak lagi gak, Mas? Panggil Amelia saja. Buat apa kamu tanya namaku kemarin jika pada ujung-ujungnya kamu panggil aku mbak juga."


"Jangan marah-marah melulu, Amelia. Aku gak enak manggil kamu nama. Soalnya, kamu juga masih panggil aku dengan sebutan mas-mas terus. Berasa jadi tukang gorengan aku ini."


"Mm ... ya udah. Kita sepakat buat panggil nama saja. Mulai dari detik ini, kamu dan aku panggil nama satu sama lain."


"Setuju," ucap Dirly sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Mari mulai bicara serius. Boleh aku tahu latar belakang kehidupan sehari-hari kamu?"


"Emang penting ya, latar belakang aku?"


"Tentu saja. Meski kita hanya menjalani pernikahan kontrak saja, tapi aku juga ingin tahu siapa pasangan nikah kontrak aku ini."


"Amel. Aku adalah anak yang dibuang dari keluarga. Aku rasa, kamu tidak perlu tahu banyak soal latar belakang keluargaku. Cukup saja kita bahas soal perjanjian apa saja yang harus sama-sama kita sepakati selama kita menjalani status pernikahan kontrak."


Amelia terdiam buat sesaat. Benarnya membenarkan apa yang Dirly katakan barusan. Lagipula, Dirly terlihat sangat sedih ketika menyebutkan soal dia anak yang dibuang. Karena hal itu, Amelia memilih mengikuti apa yang Dirly katakan. Mengabaikan latar belakang keluarga dan fokus pada urusan mereka berdua saja.


"Baiklah kalau itu yang kamu katakan. Kita akan membahas perjanjian-perjanjian apa saja yang harus kita buat. Di sini, aku bawa kertas dan pulpen. Kamu bisa tulis apa saja perjanjian yang kamu inginkan. Sedangkan aku juga sama."


Amelia langsung mengeluarkan dua buah kertas putih yang masih kosong, dan juga dua buah pulpen dari dalam tasnya. Lalu, dia serahkan kertas dan pulpen itu pada Dirly.


"Nih, silahkan tuliskan apa saja sesuai yang kamu inginkan."


Dirly tidak menyambut apa yang Amelia berikan. Dia malahan terdiam dengan mata yang melihat fokus ke arah Amelia. Hal itu sedikit membuat Amelia salah tingkah akibat grogi. Namun, dia bisa menguasai diri secepatnya.


"Hei! Malah melamun lagi." Amelia berucap sambil mengibaskan kertas tersebut ke wajah Dirly. Hal itu sontak membuat Dirly sadar dari apa yang dia pikirkan sampai membuat dia melamun.


"Ah, maaf-maaf. Aku tidak sengaja hilang kendali."


"Hilang kendali? Apa sih yang kamu katakan ini?"


"Aku hanya ingin bilang satu hal. Kamu dengan pakaian formal ini terlihat lebih dewasa. Padahal, saat pakai dress tadi malam terlihat cukup muda. Dan ... saat pertama kali bertemu, terlihat sangat manis dengan pakaian santai waktu itu. Terlihat sangat cocok dengan umur kamu sekarang."


"Hei ... kita sedang membahas soal pernikahan kontrak. Bukan soal fashion. Lagian, ya kali aku pakai baju santai saat ngantor. Yang benar saja kamu ini."


"Tapi kamu akan lebih cantik dengan baju santai yang kamu kenakan. Karena itu sangat cocok dengan umur kamu sekarang."


"Hello ... mas-mas. Tolong jangan bahas hal yang tidak penting sekarang yah. Soalnya, aku harus kembali ke kantor buat bekerja. Mengerti?"

__ADS_1


"Mm ... ya ya ya. Baiklah mbak-mbak yang super sibuk."


Setelah berucap, Dirly langsung fokus pada kertas dan pena yang ada di depannya. Sementara Amelia, dia malahan tersenyum memikirkan kata-kata yang Dirly ucapkan barusan. Sejujurnya, kata-kata itu cukup membuat seorang Amelia hilang ingatan buat sesaat.


__ADS_2