
"Bagaimana kalau aku bilang, aku suka kamu dan aku ingin serius menjalani hubungan dengan kamu, Amelia?"
Sontak saja, kata-kata yang Dirly ucapkan barusan langsung membuat Amelia melebarkan matanya. Dia seakan tidak bisa bernapas karena terlalu kaget dengan apa yang kupingnya dengar.
"Kamu ... jangan bicara omong kosong padaku, Dirly. Jangan main-main. Jika urusan hati, itu bukan urusan main-main. Dan aku tidak suka kamu bercanda untuk urusan hati, Dirly."
"Siapa yang main-main, Amelia? Aku serius dengan apa yang aku katakan barusan. Tidak sedikitpun terniat untuk aku bermain-main dengan urusan hati. Karena seperti yang kamu katakan, urusan hati bukan urusan main-main, bukan?"
"Jangan bercanda. Jika kamu ingin menyatakan cinta padaku, mau kamu jadikan yang ke berapa aku ini? Kedua? Ah, jangan mimpi. Aku tidak akan pernah mau."
Selesai berucap, Amelia ingin langsung bangun dari duduknya. Namun, Dirly langsung menahan tangan Amel dengan cepat.
"Siapa bilang kamu akan aku jadikan yang kedua? Kamu tentu saja akan aku jadikan yang pertama dan satu-satunya. Tidak akan ada yang lain lagi selain kamu. Cukup kamu satu untuk selama-lamanya."
Sontak. Kata-kata itu langsung membuat Amelia tertawa. Bagaimana tidak? Dia merasa begitu geli hati dengan ucapan Dirly yang dia pikir sedang berusaha mempermainkan hatinya saat ini. Tapi sayangnya, dia tidak akan masuk perangkap, dan tidak akan pernah tertipu dengan permainan Dirly.
Sementara Dirly yang melihat Amelia tertawa. Dia langsung mengernyitkan alisnya merasa bingung dengan apa yang Amelia perlihatkan.
"Kenapa kamu tertawa, Mel? Apa ada yang terlalu lucu dengan kata-kata yang aku ucapkan barusan itu?"
__ADS_1
"Ha ha ha ... tentu ... ha ... tentu saja ada, Dir. Kamu berucap seperti itu dengan sangat serius. Berusaha meyakinkan aku dengan apa yang kamu ucapkan. Sayangnya, aku tidak akan tertipu dengan ucapan manis mu itu. Oh ... sayang sekali."
Dirly semakin diserang rasa bingung dengan kata-kata yang Amelia ucapkan. Tapi pada akhirnya dia sadar, kalau Amelia menganggap apa yang dia katakan hanya kata-kata yang penuh dengan kebohongan belaka.
Dirly menarik napas pelan. Lalu melepaskan napas itu dengan kasar. Selanjutnya, dia langsung beranjak mendekat ke arah Amelia. Sangat dekat sampai Amelia tidak bisa berkata apa-apa karena detak jantungnya mendadak berubah tidak beraturan tanpa bisa dia kendalikan.
"Ka--kamu! Dily! Mau apa kamu, ha? Jangan main-main de .... "
Ucapan Amelia tertahan dengan tangan Dirly yang langsung menempelkan jari telunjuknya ke arah bibir Amelia. Entah kenapa, jantung itu semakin berdetak tak karuan saat Dirly melakukan hal kecil seperti menempelkan jari ke bibir seksi miliknya.
Sementara Dirly. Dia yang berada cukup dekat dengan Amelia, sangat ingin menjatuhkan ciuman ke bibir Amelia. Sayangnya, kesadaran yang dia punya masih ada. Jika tidak, mungkin dia sudah menggila sedang pertama kali dekat dengan Amelia.
"Di--dia? Siapa?"
"Perempuan yang kamu maksudkan. Yang ada dalam bayangmu saat ini."
Dirly langsung menjauh dari Amelia. Lalu ... dia berjalan beberapa langkah menuju jendela ruangan Amelia. Di sana, dia melepaskan napas kasar beberapa saat terdiam. Dirly kembali menoleh untuk melihat Amelia yang masih setia di tempatnya.
"Izinkan aku menceritakan semuanya, Amel. Agar tidak ada lagi salah paham diantara kita berdua. Karena aku sangat menyukai kamu."
__ADS_1
Amelia tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap Dirly yang berada di depannya.
Diamnya Amelia Dirly anggap sebagai kata setuju. Dia pun langsung memulai cerita tentang perjalanan hidupnya setelah pertemuan terakhir mereka satu tahun yang lalu.
Dirly mengatakan semuanya tentang dia dan Ajeng. Namun, dia masih merahasiakan tentang siapa dia yang sebenarnya. Nama belakang keluarga yang dia sandang masih dia sembunyikan dari Dirly saat ini.
"Begitulah ceritanya, Mel. Aku melakukan semuanya demi dia. Tapi sayangnya, dia melupakan aku demi laki-kaki lain yang lebih terkenal dari aku. Sungguh imbalan yang luar biasa yang dia berikan buat aku, bukan?"
"Benarkah begitu ceritanya? Apakah aku bisa percaya dengan apa yang kamu ceritakan ini?"
"Aku tidak memaksa kamu untuk percaya, Amelia. Tapi jika kamu ingin percaya, aku sangat bersyukur. Karena semua yang aku katakan itu adalah kebenaran yang sudah aku lalui selama ini."
"Sulit aku percaya jika tidak ada bukti. Ah ... tapi lupakan saja. Semua itu juga aku rasa tidak penting bukan?"
"Bagi kamu tidak penting. Tapi bagi aku? Itu sangat-sangat penting, Amel. Karena aku sangat suka padamu. Sejak pertama kita bertemu, aku sudah tertarik. Tapi sayangnya, itu tidak aku sadari. Karena aku masih punya Ajeng dalam hatiku. Tapi semakin lama, aku semakin sadar kalau aku suka padamu. Setiap saat, aku selalu terbayang wajah kamu."
"Ah, secepat itukah kamu bisa tertarik pada seorang perempuan, Dirly? Sangat-sangat cepat buat aku. Sungguh tidak bisa aku percaya."
"Jika kamu masih tidak percaya. Maka aku akan ajak kamu bertemu dengan keluargaku. Karena hanya itu bukti yang bisa aku berikan agar kamu percaya dengan apa yang aku rasakan."
__ADS_1
"Jika untuk aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu. Karena aku sendiri tidak tahu dan aku tentu saja tidak punya alasan untuk itu."