
Amelia akhirnya menyerah. Pulang dengan perasaan bercampur aduk membuat mamanya menjadi bingung.
Lagian, dia juga pulang lebih awal sekarang. Hal itu membuat mamanya yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh, langsung menatap anaknya dengan penuh tanda tanya.
"Kamu kenapa, Mel? Ada masalah apa sih sampai seperti ini? Kek habis lari maraton keliling komplek aja kamu sekarang."
"Lagi banyak masalah, Ma. Tapi, lagi gak ingin cerita. Mau diam aja tanpa berucap. Bisa kan?"
"Bisa. Kalo gitu, mama gak akan ganggu kamu sekarang. Jika udah hilang lelahnya, cari mama jika ingin bicara," ucap mama Amelia sambil bangun dari duduknya.
Saat mamanya ingin melangkah, Amelia langsung menahan tangan mamanya dengan cepat. "Tunggu, Ma! Ada yang ingin aku katakan."
"Lah, katanya ingin diam aja. Gak mau bicara. Terus, sekarang bilang ada yang ingin kamu bicarakan. Gampang banget masalah kamu selesai ya, Mel."
"Mama .... Lagi serius ini. Gak mau main-main. Ada yang ingin aku tanyakan sama mama soalnya."
"Ya udah. Tanya aja sekarang. Mumpung mama lagi ingin bicara nih," ucap mamanya dengan nada meledek.
Mama Amelia juga membatalkan niatnya untuk pergi. Dia malahan kembali duduk manis di samping Amelia sekarang.
"Ma ... apa taruhan kita masih berjalan sesuai rencana?"
Mamanya tidak langsung menjawab. Hanya diam sambil menoleh ke arah Amelia yang berada di sampingnya saat ini.
"Ma. Kok gak jawab apa yang aku tanyakan sih? Apa taruhan mama masih berjalan sesuai rencana?"
"Sepertinya .... Mm ... apa kamu sudah punya calon sekarang, Mel? Jika iya, besok jangan bawa dulu. Soalnya, keluarga Prayoga akan datang buat makan malam bersama besok malam."
__ADS_1
"Hah? Apa yang barusan mama katakan? Mereka akan datang besok untuk makan malam bersama keluarga kita? Jangan bilang kalau mereka akan benar-benar menjodohkan aku dengan tuan muda keluarga mereka, Ma. Aku gak setuju. Benar-benar tidak setuju."
Amelia yang awalnya duduk lemas, kini langsung bangun dengan tegap gara-gara berita yang mengejutkan itu. Sungguh, dia benar-benar sangat kaget.
"Ih ... kamu kok jadi gini sih. Belum tahu pasti dengan jelas, tapi malahan udah terbakar duluan. Dengerin dulu apa yang mama katakan. Baru deh, kalo mau meledak, langsung meledak. Ini, belum apa-apa, udah meledak duluan."
"Mama sih enak ngomongnya. Yang akan menghadapi masalah besar itukan aku, Ma. Aku."
"Ya makanya, dengerin dulu apa yang ingin mama katakan. Paham gak sih?"
"Iya-iya. Ngerti kok."
"Makan malam besok malam itu bukan untuk menjodohkan kamu dengan tuan muda keluarga mereka. Tapi, sebagai permintaan maaf keluarga Prayoga pada keluarga kita. Karena tuan muda mereka tidak ingin dijodohkan. Dan ... sudah kabur entah ke mana sekarang. Gak tahu deh tuh, di mana keberadaan tuan muda mereka untuk saat ini."
"Gitu kata kakek kamu tadi pagi."
Bagaimana tidak? Si Dirly sudah tidak tahu ke mana harus dia cari. Laki-laki itu seperti hilang begitu saja setelah mendapatkan uang satu milyar darinya kemarin.
Bukan nominal uangnya yang dia kesal kan. Tapi rasa percaya yang dia miliki untuk Dirly telah laki-laki itu khianati. Kepercayaan yang tidak akan pernah kembali lagi mungkin. Jika saja dia bertemu dengan laki-laki itu lagi, maka Amelia sudah berjanji akan membuat laki-laki itu menyesal seumur hidup.
Karena Amelia adalah tipe perempuan yang paling benci dengan kata kebohongan. Sekali saja dia dibohongi, maka dia gak akan pernah bisa memberikan kepercayaan lagi jika tidak tepat dengan alasan yang mungkin bisa membuat hatinya berubah.
***
Hari berikutnya. Amelia datang ke kantor seperti biasa. Anggun yang sudah sangat penasaran, langsung menghampiri Amelia ketika melihat sahabatnya itu masuk ruangan.
"Hai ... selamat pagi ibu manajer. Apakah hari ini baik-baik saja? Mm ... aku tebak, kalau kau bukan hanya sekedar baik-baik saja. Tapi sangat baik, bukan?"
__ADS_1
"Dari mana kau tahu kalau aku sangat baik hari ini, Gun? Yang ada, aku sedang merasa sangat kesal sekarang. Kau tahu?"
"Hah? Kesal? Kenapa? Apa karena orang tuamu tidak setuju dengan kamu yang akan membawa pulang laki-laki tanpa latar belakang nanti malam?"
"Jika benar apa yang aku pikirkan, pasti mereka tetap ingin menikahkan kamu dengan tuan muda Prayoga karena sudah sama-sama sepakat sebelumnya. Dan juga, pernikahan kedua keluarga terpandang akan sama-sama menguntungkan buat kedua belah pihak."
"Jangan banyak bicara yang tidak-tidak, Anggun Wijaya. Kau gak tahu apa-apa, tapi malah ngerocos tanpa henti. Jangan lupakan satu hal yang telah keluarga mu lalui. Pernikahan konglomerat tidak selamanya saling menguntungkan. Ingat itu ya."
"Aku ingat. Sangat-sangat ingat, Amelia Sutomo. Mana mungkin aku bisa lupa dengan kesalahan terbesar yang keluarga ku alami beberapa tahun silam. Hanya saja, aku rasa, kamu tidak akan mengalami hal itu, Mel. Tenang saja. Aku sudah sangat kenal dengan tuan muda itu."
Seketika, Amelia langsung membulatkan matanya saat mendengarkan kata-kata terakhir yang Anggun ucapkan. Dengan perasaan tak percaya yang di penuhi dengan tanda tanya. Amelia menatap lekat wajah Anggun.
"Kamu bilang apa barusan, Gun? Sudah sangat kenal dengan tuan muda Prayoga? Apa ... kamu mengenalnya lebih baik dari aku? Iya? Itu maksud kamu, kan?"
Anggun terlihat sangat gugup. Merasa sedikit bersalah dengan Amelia sekarang. Tapi, juga tidak bisa menyembunyikan kebenaran yang sedang dia alami dari Amelia terlalu lama. Jika itu dia lakukan, maka perasaan bersalah itu akan semakin membesar.
Anggun juga takut kalau hal itu akan merusak persahabatan mereka. Karena itu, dia akan memilih jujur pada Amelia sekarang.
Anggun menarik napas dalam-dalam. Lalu, membuangnya secara perlahan untuk menenangkan hatinya yang berkecamuk.
"Mel, maafkan aku. Aku gak jujur sama kamu soal aku yang dekat dengan mas Dion akhir-akhir ini." Anggun berucap dengan rasa bersalah sambil menundukkan wajahnya.
"Kau tahu. Aku dan Mas Dion tiba-tiba semakin dekat setelah kamu memutuskan kalau kamu tidak suka padanya. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan merusak semuanya. Aku dan dia hanya dekat saja. Tidak terlalu dekat sampai lupa batasan kok, Mel. Jadi .... "
"Apa sih yang kamu bicarakan ini, Anggun? Kamu dekat dengan tuan muda Dion, itu adalah hal yang bagus, kan? Semoga saja kalian berdua berjodoh. Dan aku akan benar-benar selamat dari perjodohan itu."
"Tapi tunggu! Mama bilang kalau tuan muda keluarga Prayoga sedang tidak berada di keluarganya. Dia kabur karena tidak ingin dijodohkan dengan aku. Apa .... "
__ADS_1