
Setelah menjadi bahan tertawaan para tetua. Akhirnya, Amelia berhasil keluar dari lubang sempit yang membuat dadanya terasa sesak karena tidak bisa bernapas dengan baik. Yah, meskipun sekarang beban yang dia pikul masih ada. Tapi setidaknya, itu lebih baik dari tetap tinggal dan mendengarkan obrolan hangat para orang tua di ruang keluarga.
Mereka sampai ke taman samping rumah setelah berjalan dengan tenang. Tenang karena mereka sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Tidak ada kata yang mereka ucapkan. Hingga akhirnya, sampai ke taman tersebut.
"Silahkan duduk, tuan muda Dion."
Dion tersenyum dengan kata-kata yang Amelia ucapkan barusan. Senyum yang pertama kali Amel lihat selama dia kenal dengan laki-laki itu.
Hal itu membuat Amelia terdiam sesaat. Karena senyum itu ternyata lumayan manis. Lumayan bisa mencairkan suasana yang tegang akibat obrolan para tetua di dalam sana.
"Kamu meminta aku buat duduk dengan kata-kata yang terdengar sangat formal, Amel. Itu terdengar seperti majikan dengan pelayannya saja. Benar-benar bikin aku jadi geli," ucap Dion masih dengan senyum yang tertahan.
Amelia terdiam dengan mata yang fokus menatap Dion. Bagaimana tidak? Dia merasa kalau laki-laki yang ada dihadapannya saat ini bukanlah Dion yang dia kenali beberapa saat yang lalu. Melainkan, orang baru yang pertama kali dia temui.
"Tuan muda ... kau ... kau bisa bicara panjang lebar juga? Apa ini beneran kamu, tuan muda Dion?"
"Apa? Kenapa kamu tanyakan ini aku atau bukan? Bukankah kita sudah pernah bertemu sebelumnya? Dan aku rasa ... wajahku masih tidak berubah deh perasaan. Masih sama seperti yang kemarin-kemarin."
"Karena aku sudah pernah bertemu dengan kamu, maka dari itu aku bicara seperti barusan. Kau sungguh sangat jauh berbeda. Bahkan, aku merasa, kita belum pernah bertemu sebelumnya. Karena kamu yang aku kenal kemarin-kemarin, itu sangat dingin juga terlalu cuek untuk diajak bicara."
Dion tersenyum ... lagi. Senyuman yang semakin lama semakin membuat Amelia merasa hatinya mendadak meleleh akibat senyuman manis itu.
__ADS_1
"Itu karena aku tidak ingin kau tertarik padaku, Amel. Karena targetmu yang sebenarnya, bukan aku. Melainkan, adikku."
Seketika, Amelia membulatkan mata mendengarkan ucapan Dion barusan. Bagaimana tidak? Dia sungguh tak mengerti juga sangat kaget dengan kata-kata yang Dion ucapkan barusan.
"Mak--maksud tuan muda apa?"
"Kamu bisa panggil aku kak Dion saja. Terlalu formal jika kamu panggil aku tuan muda. Sangat-sangat membuat aku merasa tidak nyaman untuk melanjutkan obrolan kita."
"Baiklah. Terserah tuan ... maksudku, kak Dion. Terserah kamu saja. Tapi tolong jangan bikin aku merasa penasaran terlalu lama. Aku sangat tidak mengerti dengan kata-kata yang kamu katakan barusan. Tolong segera jelaskan!"
"Aku akan jelaskan. Tidak perlu bicara dengan kata-kata panjang lebar seperti barusan. Itu terasa seperti kamu sedang sangat tertekan, Amel."
'Ya Tuhan .... Bisakah dia langsung menjelaskannya sekarang juga? Aku memang sangat-sangat tertekan untuk saat ini. Jika dia semakin lama dan semakin mengulur waktu, maka aku akan benar-benar pingsan saat ini juga akibat rasa tertekan yang aku rasakan saat ini.' Amelia ngerutu dalam hati sambil menahan bibir agar tidak bicara lagi.
"Baiklah, aku akan jelaskan semuanya sekarang. Aku lihat, kamu sudah sangat tidak sabar lagi untuk mendengarkan semua penjelasan yang ingin aku katakan."
"Sebenarnya, bukan aku yang akan mereka jodohkan dengan kamu. Tapi adikku. Karena dia adalah pewaris yang sah keluarga Prayoga."
Amelia semakin bertambah bingung dengan penjelasan itu. Karena penjelasan itu bagi Amel, semakin tidak jelas saja.
"Maksud kak Dion bagaimana sih? Kenapa penjelasan kak Dion barusan bukannya bikin aku paham, eh tapi malah bikin aku semakin bingung saja."
__ADS_1
"Amelia. Aku bukan anak kandung keluarga Prayoga. Melainkan, aku hanya anak angkat yang mereka asuh selama puluhan tahun. Jadi, mana mungkin mereka akan menjodohkan aku dengan kamu. Karena aku tidak akan bisa menyambung generasi mereka."
Amelia membulatkan mata karena kaget dan tak percaya. Ternyata, Dion bukanlah tuan muda keluarga Prayoga yang telah mereka rencanakan untuk dijodohkan dengan dia. Pantas saja kalau Anggun bilang dia tidak tahu menahu soal tuan muda Prayoga yang kabur saat mereka ngobrol tadi pagi. Karena tuan muda yang kabur itu memang tuan muda yang lain, bukan Dion.
"Kau pasti kaget bukan? Aku yakin kau kaget dan tak percaya dengan apa yang aku katakan. Tapi, itulah kenyataannya, Amel. Aku bukan tuan muda yang akan dijodohkan dengan kamu."
"Sayang sekali. Jika aku adalah tuan muda yang sesungguhnya, maka aku sudah pasti akan menerima perjodohan ini dengan lapang dada. Karena perempuan seperti kamu, itu sulit untuk di cari jika tidak dengan cara perjodohan."
Amelia mengangkat alisnya. Dia merasa tak mengerti dengan maksud perkataan Dion barusan. Tapi, dia tidak ingin bertanya. Karena terlalu banyak bertanya, itu akan semakin membuat dia menjadi bingung dan tidak memahami apa yang sedang terjadi.
"Kau pasti bingung dengan apa yang aku katakan sekarang, bukan? Intinya, kau adalah perempuan cantik yang spesial di mataku. Tapi malangnya, aku tidak bisa mengubah takdir. Karena kecantikan juga kedudukan kamu itulah, kau tidak ditakdirkan untuk aku yang hanya berstatus anak angkat."
"Mana mungkin mereka akan membiarkan aku mengantikan posisi tuan muda yang sesungguhnya. Karena kau sudah lolos dari seleksi kakek untuk menjadi nyonya Prayoga satu-satunya."
"Kak Dion. Sudah cukup bicaranya! Aku tidak ingin mendengar semua omongan yang tidak penting ini lagi. Aku pikir, semua yang kau bicarakan barusan itu hanya omong kosong saja. Soalnya .... "
"Apa yang aku katakan itu adalah kenyataannya, Amel. Semua itu benar. Aku ingin menjadi pengganti adikku untuk dijodohkan dengan kamu. Tapi sayang, itu tidak mungkin. Karena kakek tidak akan mengizinkannya."
"Lah, kenapa harus menggantikan adikmu untuk dijodohkan dengan aku? Karena sebenarnya, aku sangat bahagia dan bersyukur saat adikmu kabur, kak Dion. Karena aku juga tidak ingin dijodohkan dengan adikmu. Apalagi, aku tidak kenal dengan adikmu itu. Makin bahagia aku saat dia tidak ada untuk dijodohkan dengan aku."
"Kamu ini .... Ternyata kalian sama saja yah. Menolak perjodohan yang telah tetua siapkan untuk kalian. Hanya saja, kamu menolak secara diam-diam. Sedangkan adikku, dia malah menolak secara langsung. Secara terang-terangan sampai membuat dia dianggap tidak ada dalam keluarga."
__ADS_1
"Hah? Dianggap tidak ada dalam keluarga? Sekejam itukah peraturan keluarga kalian, kak Dion?"
"Sebenarnya, tidak seperti yang kamu bayangkan, Amel. Dia itu adalah pewaris sah satu-satunya. Meski dianggap tidak ada sekarang, tapi tetap saja, dia akan menjadi pewaris sah satu-satunya buat selamanya."