
lHari ini juga, Dirly melakukan penerbangan menuju tanah air tempat di mana dia dilahirkan. Setelah berjam-jam melakukan penerbangan, dia akhirnya sampai ke tempat yang ingin dia tuju.
Tanpa memberitahukan keluarga, dia akhirnya pulang ke rumah. Yang langsung membuat seisi rumahnya menjadi gempar karena bahagia akibat kepulangan dirinya.
Sementara itu, di sisi lain, tempatnya di rumah Amelia. Semua penghuni rumah sedang menatap Amelia dengan tatapan aneh. Bagaimana tidak? Gadis itu baru saja berangkat ke luar negeri beberapa hari yang lalu. Dan akan diperhitungkan pulang setelah satu minggu berada di luar negeri. Bukan seperti saat ini, satu hari di luar negeri.
"Kamu ... sudah pulang, Mel? Kok ... pulang lebih awal? Kenapa?" tanya mamanya dengan sangat hati-hati karena takut anaknya semakin kesal. Di lihat dari wajah Amelia yang sekarang saja, mereka sudah sangat paham kalau saat ini, gadis cantik itu sedang sangat-sangat kesal.
"Karena aku tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang pemimpinnya adalah seorang penipu, Ma. Maka dari itu, aku memilih pulang lebih awal agar aku tidak kepikiran dengan perusahaan mereka lagi."
"Kamu yakin kalau perusahaan mereka itu pemimpinnya adalah seorang penipu, Mel? Papa sudah cek semuanya kok. Dan gak ada tuh papa temukan yang aneh-aneh dengan pemimpin mereka."
"Gimana papa bisa cek semuanya? Kata papa sebelumnya, perusahaan mereka itu punya pemimpin yang cukup misterius. Lah sekarang, kenapa bisa begitu yakin kalau pemimpin mereka gak aneh-aneh, hm?"
Seketika, pertanyaan Amelia barusan itu langsung saja membuat papanya jadi gugup. Berusaha menyembunyikan apa yang dia rasakan dengan senyum. Tapi Amelia merasa semakin ada yang aneh dengan semua itu.
"Jangan bilang kalau papa punya rencana lain dengan meminta aku datang ke perusahaan mereka untuk bekerja sama, Pa. Jika benar hal itu, maka aku akan marah besar sama papa."
"Eh, apa yang kamu bicarakan dih, Amel? Jangan ngomong yang nggak-nggak deh kamu ya. Papa gak ada merencanakan apa-apa selain ingin kerja sama dengan perusahaan mereka."
"Kamu gak lupa, bukan? Perusahaan mereka adalah perusahaan kelas atas yang cukup terkenal. Jadi wajar jika papa minta kamu buat bekerja sama dengan mereka. Jadi, jangan mikir yang nggak-nggak, oke."
Amelia menatap papanya selama beberapa saat. Lalu, dia melepas napas kesalnya.
__ADS_1
"Aku akan berusaha percaya dengan ucapan papa. Tapi jika papa bohong, maka siap-siap saja dengan kemarahan ku pada papa."
"Nggak kok, nggak."
"Ya sudah kalo gitu, aku mau istirahat sekarang. Ma, pa. Aku pamit ke kamar dulu."
"Iya. Istirahatlah, nak. Mama tahu kamu capek setelah melakukan perjalanan. Kamu harus istirahat dengan baik ya."
Amelia hanya menanggapi ucapan itu dengan senyum manis yang terlihat sekali kalau dia terpaksa. Lalu kemudian, Amel memilih langsung meninggalkan kedua orang tuanya untuk istirahat di kamar.
Sampai di kamar, dia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ranjang hangat yang sangat nyaman untuk melepas lelah. Lalu kemudian, Amelia yang kelelahan langsung tidur dengan nyaman.
Saat Amelia membuka mata kembali, itu sudah pagi. Hari sudah terang benderang. Cahaya matahari sudah muncul dari balik jendela kamarnya yang tertutup gorden hijau tua yang tidak dia tutupi semuanya.
"Bunga? Milik siapa bunga ini?" tanya Amel sambil mengambil buket bunga tersebut dengan perasaan yang penuh tanda tanya.
Dia cium bunga itu dengan perasaan ragu-ragu. Tercium lah wangi khas anggrek yang mungkin ditambah dengan semprotan parfum sebelum dibungkus dengan rapi.
"Hm ... wangi sekali. Sayang, ini bukan wangi asli dari bunga ini." Amel berucap lirih.
"Punya siapa sih sebenarnya bunga ini? Kenapa bisa ada di kamarku? Siapa yang memberikan bunga ini, jika ini buka ini untuk aku?"
Semua pertanyaan itu bermain di pikiran Amelia. Hal itu membuat dia merasa tidak tenang dan berpikir untuk langsung menanyakan pada orang rumah agar rasa penasarannya segera terjawab.
__ADS_1
Sambil membawa buket bunga tersebut, Amelia langsung keluar dari kamarnya tanpa cuci muka terlebih dahulu. Tentu saja dia tidak sempat cuci muka karena rasa penasaran lebih penting untuk diberikan jawaban agar tidak mengganggu pikiran. Maka dari itu, dia memilih langsung bertanya saja tanpa melakukan ritual pagi sedikitpun.
"Ma ... bibi ... tolong katakan padaku, siapa yang meletakkan buket bunga di kamarku tadi malam."
Pertanyaan itu membuat mama Amelia yang sedang berada di kamar langsung keluar. Sementara bibi yang ada di dapur juga ikut datang.
"Ada apa sih, Mel? Pagi-pagi begini udah ribut aja kamu?" tanya mamanya dengan nada penasaran.
"Iya, non Amel. Ada apa?"
"Yah ... aku hanya ingin bertanya soal buket bunga yang aku temukan di kamarku saja. Gak masuk buat berisik dan menganggu ketenangan pagi kok, ma."
"Mm ... katakan padaku, siapa yang meletakkan buket bunga ini di kamarku tadi malam!"
Mata mamanya langsung tertuju pada buket bunga yang Amel pegang. Sementara bibi hanya menggelengkan kepala saja saat mendapatkan pertanyaan itu.
"Mama gak tahu," ucap mamanya dengan wajah polos.
"Bibi juga gak tahu, non Amel. Bibi gak ada meletakkan buket itu ke kamar, non Amel."
"Hah? Kalian berdua gak ada yang meletakkannya ke kamar aku? Kalian berdua benar-benar gak tahu ya?"
"Iya, non. Bibi gak tahu. Maaf, bibi harus kembali ke dapur sekarang. Permisi."
__ADS_1
"Mama juga gak merasa meletakkan buket itu kok, Mel. Tapi ... buketnya cantik banget ya. Bunga kesukaan kamu banget tuh."