Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*11


__ADS_3

Setelah berucap, Dirly langsung fokus pada kertas dan pena yang ada di depannya. Sementara Amelia, dia malahan tersenyum memikirkan kata-kata yang Dirly ucapkan barusan.


Sejujurnya, kata-kata itu cukup membuat seorang Amelia hilang ingatan buat sesaat. Hilang ingatan akan siapa Dirly yang sesungguhnya sekarang. Karena ucapan itu membuat Amelia melayang ke udara seketika.


Dirly menuliskan apa yang ingin dia tulis dengan fokus. Namun, fokusnya itu tiba-tiba terusik akibat Amelia yang terus menatap dia dengan tatapan lekat.


Kini giliran Dirly yang merasakan rasa grogi seperti yang Amelia rasakan sebelumnya. Awalnya, Dirly ingin mengabaikan rasa itu, tapi sayangnya, dia tidak bisa. Tatapan Amelia yang fokus tertuju padanya membuat dia tidak bisa berpikir apa yang ingin dia tuangkan ke atas kertas putih tersebut.


"Mm ... nona Amel. Apakah kau bisa memikirkan apa yang akan kita bahas saja sekarang? Bukankah tadi kamu bilang, kalau kamu ingin kembali ke kantor setelah urusan kita selesai?"


"Eh ... iy--iya. Aku ... ah, maafkan aku yang tidak bisa fokus akibat sesuatu telah mengusik pikiranku."


"Apa itu? Apa ketampanan yang aku miliki?" tanya Dirly dengan nada penuh percaya diri. Lalu kemudian, dia tertawa setelah memberikan pertanyaan itu pada Amelia.


Amelia yang mendengar pertanyaan itu merasa sedikit geli. Tapi ... dia juga merasa sedikit nyaman dengan obrolan Dirly yang terasa seperti mereka sudah saling mengenal dalam waktu yang lama. Bukan dalam waktu hitungan bulan. Atau lebih tepatnya disebut, dalam hitungan minggu saja.


Amelia dan Dirly akhirnya bisa fokus pada kertas mereka masing-masing setelah tertawa bersama barusan. Keduanya terlihat begitu serius menuliskan apa yang menjadi peraturan masing-masing.


Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah sama-sama menyelesaikan peraturan yang mereka buat. Dirly dan Amelia langsung bertukar kertas untuk saling memahami apa saja yang jadi peraturan sebelum mereka melakukan pernikahan kontrak.


"Wah, banyak sekali peraturan yang kamu buat, nona Amelia. Haruskah aku patuhi semuanya?" tanya Dirly ketika dia melihat kertas milik Amelia.


"Tentu saja harus. Jika tidak, kenapa aku harus menulisnya?"


"Punya kamu juga gak kalah banyak tuh," kata Amelia lagi sambil fokus pada kertas yang Dirly berikan.


"Tidak terlalu banyak. Hanya ada lima. Sedangkan punya kamu lima belas."


"Baca saja. Jika tidak setuju, mungkin kita bisa perbaiki. Tapi aku rasa, kamu harus setuju semuanya. Karena itu semua adalah peraturan yang akan membuat hubungan kita terjaga dari .... "

__ADS_1


Amelia langsung menggantungkan kalimatnya. Membuat Dirly harus mengangkat wajah untuk melihat perempuan yang ada di depannya saat ini karena penasaran.


"Terjaga dari apa? Dari godaan setan ya?"


"Ah sudah. Jangan banyak omong. Baca dan pahami saja apa yang sudah aku tuliskan. Setelah itu, kita akan melakukan kesepakatan pembayaran."


"Baiklah, nona." Dirly berucap sambil tersenyum hangat.


Lalu, keduanya kembali fokus dengan kertas yang ada di tangan masing-masing. Dari sekian banyak peraturan, ada satu yang sama yang mereka tuliskan. Yaitu, tidak boleh jatuh cinta satu sama lain.


Tanpa meletakkan alasan apapun, keduanya sepakat mematuhi syarat yang masing-masing buatkan. Akhirnya, keduanya pun setuju untuk menjalani pernikahan kontrak mulai dari detik ini.


Surat pernikahan kontrak akan mereka tanda tangani besok. Sementara keduanya sudah menjalani kesepakatan masing-masing, mereka pun mengakhiri pertemuan itu dengan Amelia yang langsung menyodorkan kartu ATM berwarna kuning ke depan Dirly.


"Aku tidak tahu untuk apa uang ini. Tapi aku sarankan, jangan gunakan untuk hal-hal yang merugikan orang lain. Di dalam kartu ini ada uang satu milyar, kau bisa ambil langsung dengan sandi .... "


Amelia menuliskan sandi angka gabungan di atas kertas. Lalu dia serahkan pada Dirly. Dirly mengambil kertas tersebut karena merasa penasaran dengan gabungan angka tersebut.


"Bukan urusan kamu. Karena itu tidak penting, bukan?"


"Ya sudah, aku pamit sekarang. Ingat bertemu lagi besok di sini. Aku akan bawa surat kontrak pernikahan yang sah besok."


"Ya baiklah. Sampai bertemu lagi nona."


Setelah kepergian Amelia, Dirly masih duduk diam di tempatnya. Ruang VIP yang terasa hambar dan sepi karena dia duduk sendirian.


Dirly mengambil kartu yang ada di atas meja. Dia tersenyum kecil dengan raut wajah sedih bercampur bahagia.


"Aku sudah dapatkan uang yang cukup buat mengobati penyakit langka yang kamu hadapi, Ajeng. Semoga dengan uang ini, kamu bisa di sembuhkan. Dan kita akan hidup bahagia berdua nantinya." Dirly berucap lirih dengan air mata yang berlinangan.

__ADS_1


Sejujurnya, jika dia masih jadi tuan muda di dalam keluarganya. Uang satu milyar itu tidak ada apa-apanya bagi dia. Mendapatkan uang segitu hanya perlu mengucapkan satu kata.


Tapi sayangnya, dia bukan lagi anggota keluarga Prayoga yang terkenal dengan kekayaan juga di hormati. Itu semua karena cinta. Karena cinta yang dia pertahankan untuk orang yang paling dia cintai. Dia rela melakukan semua itu dengan sepenuh hati tanpa ada sedikitpun rasa penyesalan.


Dirly bergegas meninggalkan restoran saat sebuah panggilan masuk ke ponsel usang miliknya. Panggilan yang datang dari rumah sakit. Yang mengabarkan kalau Ajeng kembali drop dan harus segera di operasi agar bisa membuat perempuan itu sedikit terobati.


Tanpa pikir panjang, Dirly langsung berlari agar bisa segera sampai ke rumah sakit. Saat dia berlari keluar dari rumah makan itu, Amelia yang sedang menunggu pesanan makanan buat Anggun, melihatnya apa yang Dirly lakukan.


Merasa kasihan sekaligus penasaran, Amelia meminta pak Muslim menjalankan mobil segera agar bisa menghampiri Dirly yang tengah berlari.


"Tunggu Dirly! Kamu mau ke mana? Kenapa begitu tergesa-gesa?" Amelia langsung berteriak pada Dirly dari dalam mobil.


Dirly yang sedang berlari langsung menghentikan langkah kakinya. Dia terlihat begitu panik saat menoleh ke arah Amelia.


"Tolong aku! Bisakah kalian mengantarkan aku ke rumah sakit sekarang. Aku mohon."


Tanpa bertanya lebih banyak lagi, Amelia langsung mempersilahkan Dirly untuk masuk ke dalam. Itulah sikap bijaksana yang Amelia punya. Dia bisa jadi perempuan yang super bawel saat waktunya. Tapi, juga bisa jadi wanita yang paling pengertian saat kondisi tertentu pula.


"Katakan rumah sakit mana yang harus kita tuju, Dirly."


"Rumah sakit Medical Bangsa. Tolong antar kan aku segera ke sana. Ada yang sedang menungguku di sana sekarang."


"Baiklah."


"Pak Muslim. Tahu rumah sakit yang dia katakan barusan, bukan?"


"Tahu, non."


"Bagus. Jalankan mobil dengan kecepatan sedang agar kita bisa sampai ke rumah sakit itu segera."

__ADS_1


"Baik, non Amel. Kita akan ke sana segera."


"Nah, sekarang, kamu bisa sedikit tenang. Tenangkan dirimu agar orang yang menunggu kamu juga bisa merasakan ketenangan itu."


__ADS_2