Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*33


__ADS_3

Ajeng yang terdorong oleh emosi langsung ingin memukul perempuan tersebut. Namun, perempuan itu langsung menghindar.


Sigapnya perempuan itu menghindar membuat Ajeng hilang kendali. Kebetulan, mereka sedang berada di tepi tangga lantai dua gedung apartemen megah tersebut. Akhirnya, karena kehilangan keseimbangan, Ajeng langsung terjatuh dari tangga itu tanpa bisa di tolong lagi.


"Aaaa ...!"


Teriakan Ajeng membuat penghuni apartemen yang lain pada keluar semuanya. Mereka yang kaget, langsung menghubungi polisi dan rumah sakit secara bersamaan.


Kedua pasangan suami istri yang kaget itu, langsung di mintai keterangan. Untung saja di apartemen itu punya rekaman cctv, jadinya, sepasang suami isteri tersebut lolos dari tuduhan kecelakaan yang Ajeng alami.


Kekacauan yang Ajeng perbuat di apartemen tersebut membuat penghuni apartemen tidak tenang. Mereka langsung menghubungi keluarga Prayoga selaku pemilik awal apartemen megah tersebut untuk meminta penjelasan.


Kebetulan, saat panggilan dari penghuni apartemen masuk, Dirly dan Amelia sedang sarapan bersama di rumah makan tak jauh dari kantor Amel. Jadinya, saat Dirly menghadapi masalah, Amelia menawarkan diri untuk ikut melihat apa yang terjadi.


Tanpa pikir panjang lagi, Dirly langsung setuju. Mereka pun langsung berangkat menuju lokasi kejadian.


"Dasar Ajeng tidak tahu diri. Berulah lagi dia sekarang," ucap Dirly kesal sambil perjalanan menuju lokasi kejadian.


"Kamu sama dia beneran udah putus, Dir? Benar-benar udah gak ada hubungan sedikitpun?" tanya Amel penuh selidik.

__ADS_1


Dapat pertanyaan yang penuh dengan nada curiga itu, Dirly sontak langsung menoleh sesaat ke arah orang yang baru saja bertanya. Dia tahu, kalau perempuan yang ada di sampingnya saat ini sedang menahan rasa curiga, maupun rasa cemburu pada dirinya sekarang.


"Aku tidak akan pernah bohong lagi padamu, Mel. Kamu tenang saja. Apa yang aku katakan padamu itu adalah sebuah kejujuran yang sebenarnya terjadi. Aku dan dia tidak ada hubungan sedikitpun lagi. Jadi, jangan curiga padaku ya."


"Aku ... eh, nggak kok. Aku nggak curiga padamu, Dirly. Aku hanya bertanya saja. Bertanya tidak harus bermaksud curiga, bukan?"


"Iya deh, iya. Aku tahu kamu hanya bertanya saja. Aku juga tidak bermaksud lain. Hanya ingin menjelaskan, juga menegaskan agar kamu tidak salah paham nantinya. Semoga saja tidak ada salah paham di antara kita."


"Gak akan ada salah paham jika kamu gak bikin masalah."


"Aku janji gak akan bikin masalah, nyonya besar Prayoga." Dirly berucap dengan tangan yang dia letakkan di atas kepala. Persis seorang prajurit yang memberi hormat pada pimpinannya.


Hal itu langsung membuat Amelia tertawa.


Akhirnya, mereka sampai di tempat yang ingin mereka datangi. Beberapa penghuni apartemen sudah menunggu mereka di sana. Menunggu untuk menyambut kedatangan Amelia dan Dirly.


"Selamat datang, tuan muda. Maafkan kami yang sudah mengganggu waktu tuan muda karena masalah yang sedang kami hadapi akhir-akhir ini."


"Gak papa. Kalian tidak salah. Yang seharusnya minta maaf itu bahkan adalah aku. Karena aku, kalian jadi terganggu. Ketenangan kalian, waktu kalian, juga kenyamanan kalian yang sudah lama tinggal di apartemen ini."

__ADS_1


"Dan untuk kalian berdua. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian hampir jadi tersangka dari kecelakaan yang perempuan itu alami. Perempuan liar itu memang suka mengganggu orang lain sesuka hati," ucap Dirly pada sepasang suami istri yang juga ada di sana.


"Tidak masalah, tuan muda." Suami perempuan itu berucap dengan tenang. Sementara si perempuannya hanya diam saja.


Setelah mengunjungi apartemen tersebut, mereka langsung mengunjungi rumah sakit. Tempat di mana Ajeng di rawat saat ini.


Menurut keterangan penghuni apartemen, Ajeng sekarang sudah sadar. Tapi, karena kecelakaan parah yang dia alami, perempuan itu di kabarkan akan mengalami kelumpuhan total akibat kecelakaan ini.


Sepanjang perjalanan, tidak ada satu katapun yang mereka ucapkan. Baik Amelia maupun Dirly sama-sama memilih diam. dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya, mereka sampai ke rumah sakit yang mereka ingin datangi.


Mereka masih saja diam sambil berjalan menuju kamar yang ingin mereka tuju. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Yang jelas, mereka terlihat sedang fokus dengan pikiran mereka masing-masing.


Sampai mereka di kamar rawat Ajeng. Keduanya langsung saling pandang ketika suara perempuan itu berteriak marah pada suster yang ada di dalam sana. Tidak membuang waktu lagi, Amelia dan Dirly langsung saja masuk ke dalam.


"Pergi aku bilang! Minum obat tidak akan membuat aku sembuh, bukan?"


"Mbak. Setidaknya, anda juga harus sedikit membaik karena obat yang anda minum. Tidak sembuh total, tapi mbak harus pulih agar bisa keluar dari rumah sakit ini."


"Persetan dengan keluar dari rumah sakit ini. Kau tahu? Aku tidak punya rumah. Jadi, aku ingin tetap berada di sini agar aku bisa punya tempat berteduh."

__ADS_1


"Tapi, mbak. Ini rumah sakit, tidak bisa mbak jadikan tempat berteduh. Karena semua orang yang datang ke sini, semuanya ingin segera keluar agar terbebas dari sini."


"Diam! Kamu tidak tahu apa-apa, jadi tidak perlu banyak bicara!"


__ADS_2