
"Yap."
Dirly langsung beranjak meninggalkan Anggun dan Amelia. Setelah kepergian laki-laki itu, Anggun langsung mengajak Amelia bicara serius.
"Mel .... "
"Kamu yang benar saja, Gun. Kamu ingin aku menikah dengan laki-laki itu? Ya ampun .... Membayangkannya saja aku ... gimana gitu ya? Dikatakan malas, iya. Dikatakan, sebel juga iya. Aduh .... "
"Malas dan sebel mana dari kamu yang akan menikah dengan tuan muda yang sama sekali tidak kamu sukai karakternya itu? Hayo .... Pikirkan baik-baik sekarang."
"Lagian nih ya, Mel. Jika kamu menikah dengan dia, itu hanya sebatas pernikahan kontrak saja. Kamu bisa mengakhiri pernikahan itu sampai kamu mau. Tidak ada ikatan apa-apa di antara kalian."
"Iya aku tahu. Pernikahan kontrak itu tidak akan mengikat aku dengan dia. Tapi, kenapa harus dia sih, Gun? Apa tidak ada laki-laki yang lain lagi yang bisa kamu jadikan calon yang pas buat aku."
"Hei ... mau nyari di mana laki-laki yang pas buat kamu dalam waktu tiga hari, nona muda? Kamu gak lihat dia? Aku sudah pertimbangkan masak-masak, kalo dia adalah pasangan paling pas buat kamu. Selain dia ganteng dan manis, dia juga punya perawakan yang lumayan spesial. Seperti orang kaya pada umumnya. Jika dia kamu jadikan pasangan, mama dan papa kamu tidak akan curiga kalau dia hanya seorang yang kamu bayar buat jadi calon suami kamu."
"Lagian nih ya, karena dia butuh uang maka dia cocok jika kamu bayar. Dia pasti akan mudah kamu atur, Mel. Dan satu lagi yang paling istimewa dari dia. Dia jauh lebih ganteng dari tuan muda Prayoga tentunya. Jika kamu tidak percaya, perhatikan saja wajahnya baik-baik. Terlepas dari dia adalah seorang pelayan bar ini, maka dia adalah pasangan yang sempurna buat kamu, Amelia."
"Ya Tuhan ... jika kedudukan, atau pekerjaan, semua itu tidak akan jadi masalah buat aku. Karena mama dan papa juga tidak akan melihat soal kedudukan, Gun. Hanya saja ... dia itu. Aduh, aku merasa gak nyaman deh."
__ADS_1
"Hello Amelia Sutomo .... Kamu ingin nikah kontrak nona muda. Bukan beneran nikah tahu gak. Apa pentingnya semua itu, ha? Dia kamu bayar buat nyelamatin hidup kamu yang sedang berada diujung tanduk ini. Haruslah memikirkan nyaman atau nggak sekarang?"
"Dan juga ... dia kek nya gak cuek deh. Dia juga gak dingin seperti calon suami pilihan orang tuamu. Maka dari itu, aku yakin kalau dia adalah pilihan terbaik buat kamu."
Amelia terdiam. Perlahan tapi pasti, dia mencoba mencerna setiap kata yang sahabatnya ucapkan. Meskipun kata-kata itu terkesan penuh dengan pemaksaan, tapi dia tahu kalau Anggun hanya ingin menolongnya. Membantu dia buat keluar dari masalah besar yang sedang dia hadapi saat ini.
Sementara itu, di sisi lain. Tepatnya di bagian belakang bar. Dirly dan Dedy sedang ngobrol.
"Kamu yakin ingin melakukan hal besar ini, Dirl?"
"Ya, aku yakin. Bahkan sangat yakin. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan banyak uang. Kau tahu bukan? Sekarang aku sangat-sangat butuh banyak uang?"
"Aku tidak punya cara lain lagi, Ded. Semuanya demi Ajeng. Aku tidak akan bisa mencari uang dalam waktu yang singkat untuk mengobati dia. Jika aku tidak melakukan hal ini, maka cara apa lagi yang bisa aku tempuh, hm?"
"Pulang ke keluargamu, Dir. Katakan yang sebenarnya pada mereka. Aku yakin kalau mereka akan mengerti dengan semau yang kamu alami."
"Kau tidak tahu bagaimana kerasnya kakek. Jika aku pulang, maka dia akan menikahkan aku dengan calon yang sudah dia tetapkan. Aku akan menelantarkan Ajeng nantinya. Iya aku punya banyak uang buat mengobati dia. Tapi aku tidak akan punya kesempatan buat merawat dia. Jangankan merawat, melihat saja mungkin aku tidak bisa. Karena kakek akan membatasi semuanya."
Dedy terdiam. Dia tahu betul sebenarnya apa yang sedang sahabatnya alami saat ini. Dirly Prayoga, anak kandung dari keluarga Prayoga yang terkenal. Sekarang bekerja sebagai pelayan bar hanya karena seorang perempuan.
__ADS_1
Perempuan yang paling dia cintai, saat ini sedang terbaring di rumah sakit akibat penyakit langka yang perempuan itu alami. Demi perempuan itu, Dirly rela keluar dari rumah, tidak diakui sebagai anggota keluarga Prayoga. Bahkan, Dirly dilarang memakai nama belakang yang membuat semua orang segan akan dirinya.
Alasannya hanya satu, karena Dirly tidak ingin menerima perjodohan. Juga karena Dirly lebih memilih perempuan miskin yang sakit-sakitan.
Sang kakek yang keras, akhirnya mengambil keputusan besar. Tidak akan membiarkan Dirly pulang ke keluarga Prayoga jika masih memilih perempuan miskin itu. Juga, melarang anggota keluarga berhubungan dengan Dirly apa lagi menolongnya.
Jika ketahuan masih berhubungan dengan Dicky, bukan hanya anggota keluarga yang terkait dapat sangsi. Dicky juga akan kena imbasnya.
Karena hal itulah, Dicky memilih hidup terbuang dengan kerjaan serabutan. Selain tidak ingin menyakiti hati orang yang dia cintai, dia juga dapat kabar kalau nona besar yang akan dijodohkan dengannya adalah perempuan manja yang galak. Maka dari itu, dia menolak keras. Karena dia pikir, posisi Ajeng akan semakin terancam jika dia menerima pernikahan itu.
Dirly sudah cukup mengerti bagaimana sikap perempuan. Jika dia marah seperti apa, jika dia cemburu akan seperti apa. Begitu juga dengan sikap perempuan yang galak jika marah akan sangat berbahaya. Maka dari itu, dia hanya bisa cari aman. Dengan hanya memperhatikan Ajeng, dia yakin, penyakit yang kekasih tercintanya itu derita akan segera sembuh.
Ajeng adalah anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Orang taunya meninggal sejak dia masih kecil. Karena itu, dia di titipkan ke panti asuhan oleh paman dan bibinya yang juga hidup miskin.
Jalan cerita hidup orang yang Dirly cintai terlalu sedih bagi Dirly. Oleh karena itu, dia berjanji akan membahagiakan Ajeng bagaimanapun caranya. Sayang, dia belum bisa menepati janji itu karena terhalang keluarga yang tidak merestui.
Menikah kontrak adalah jalan terbaik buat Dirly sekarang. Selain bisa mendapatkan banyak uang, dia juga tidak akan terikat dengan istri yang dia nikahi. Oleh karena itu, dia sudah membulatkan tekad meski itu terasa sedikit membingungkan buat dia. Apalagi sahabatnya yang ikut menyaksikan seperti apa jalan yang dia tempuh.
"Huh .... Jika itu cara terbaik yang kamu punya. Aku bisa apa, Dirly?" Dedy berucap setelah lama dia memikirkan nasib sahabatnya ini.
__ADS_1