Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*12


__ADS_3

Dirly tidak berucap. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Ajeng. Keselamatan Ajeng, dan ... semuanya tentang Ajeng.


Setelah mengendarai mobil selama hampir dua puluh menit. Akhirnya, mobil itu tidak ke tempat yang ingin mereka tuju. Rumah sakit medical Bangsa. Tempat Ajeng, sang pujaan hati Dirly berada.


Setelah sampai. Tanpa berucap satu patah kata lagi pada Amelia. Dirly langsung saja melangkah meninggalkan Amelia. Hal itu membuat pak Muslim sedikit kesal. Sedangkan Amelia biasa saja. Karena dia paham akan kepanikan yang Dirly rasakan saat ini.


"Siapa sih itu, non Amel? Masa gak tahu sopan santun sedikitpun. Udah di tolongin, eh gak ada ucapan terima kasih sama sekali. Gak waras ini orang." Pak Muslim ngerutu karena kesal.


Amelia tersenyum kecil.


"Bukan gak ingin, atau gak tahu berterima kasih, pak. Hanya saja, dia sedang sangat panik saat ini. Lihatlah wajahnya, dia begitu cemas sampai tidak bisa memikirkan hal lain selain orang yang sedang menantinya di dalam sama."


"Tunggu! Aku jadi penasaran dengan orang yang sudah membuat dia begitu cemas. Apa aku lihat saja ke dalam ya?"


"Tapi, rumah sakit ini terlalu besar, Non. Bagaimana bisa menemukan laki-laki tadi tanpa adanya petunjuk?"


"Benar juga sih, Pak. Ah, tapi gak ada salahnya jika aku masuk. Pak Mus tunggu di sini yah. Biar aku masuk ke dalam sendirian saja."


"Baik, non Amel. Jika ada apa-apa. Hubungi bapak langsung saja. Hati-hati di sana."


"Eh, pak Muslim ini ... pesannya kek aku masuk ke tempat yang berbahaya saja. Aku itu masuk ke tempat umum, pak. Gak perlu cemas ya."


Pak Mus tersenyum. Amelia memang cukup dekat dengan semua pekerja yang mengabdi dengan keluarganya. Semua pekerja juga cukup sayang dengan majikan yang baik seperti Amelia dan kedua orang tuanya. Berada punya keluarga menurut pendapat mereka.


Amelia berjalan pelan memasuki rumah sakit. Ada rasa bingung sebenarnya, karena dia tidak tahu mana jalan yang harus dia tempuh. Pak Mus benar. Rumah sakit sebesar ini akan sulit buat menemukan orang yang dia cari jika tidak ada petunjuk.

__ADS_1


Namun, takdir tidak berkata seperti itu. Dia akan menemukan apapun yang dia inginkan. Seperti saat ini. Saat Amelia ingin melangkah mundur untuk meninggalkan rumah sakit tersebut, tanpa sengaja dia melihat Dirly yang sedang bersama beberapa perawat berjalan cepat mendorong brangkar yang di atas tempat tersebut ada seorang perempuan yang sedang terbaring lemah.


Amelia terdiam menyaksikan pemandangan itu. Hatinya bertanya akan siapa orang yang ada di atas brangkar tersebut. Yang baru saja membuat Dirly panik bukan kepalang.


'Siapa dia? Apa dia adik? Atau, orang spesial yang tidak punya hubungan darah dengan Dirly?'


'Haruskah aku mencari tahu semuanya supaya hati ini bisa tenang?'


"Aduh. Tidak-tidak. Tidak perlu melakukan semua itu, Amelia. Kau dan dia hanya sedang akan menjalani perjanjian saja. Tidak lebih dari perjanjian yang sama-sama menguntungkan buat kalian. Lalu apa hubungannya dengan kamu semua itu. Tidak penting deh," ucap Amelia marah dan kesal pada dirinya sendiri.


Lalu, ponsel yang ada di dalam tasnya berdering. Hal itu langsung saja mengalihkan perhatian Amelia dari apa yang dia lihat dan pikirkan barusan.


"Halo, Gun. Ada apa?"


"Hei ... ada apa ada apa. Enak banget kamu nanya aku ada apa ya? Di mana kamu sekarang? Kok lama banget belum kembali juga? Katanya tinggal nunggu apa yang aku pesankan siap. Tapi, ini kok masih belum muncul. Laper tahu .... "


"Aku di rumah sakit. Bentar lagi pulang ke kantor kok. Sabar aja buat nunggu makanan kamu datang."


"Hah? Apa kamu bilang barusan? Kamu di rumah sakit? Ngapain? Siapa yang sakit? Bukan kamu yang sakit kan? Ya Tuhan ... jangan bikin aku kaget, Amel."


"Ya ampun ... bisa nanya satu-satu gak sih, Gun?"


"Gimana bisa nanya satu-satu, ha? Aku cemas tahu gak."


"Gak perlu cemas. Aku baik-baik saja. Ke rumah sakit habis nganter orang yang sedang butuh bantuan aja."

__ADS_1


"Beneran kamu gak papa?"


"Iya beneran lah. Masa aku bohong sama kamu. Ya kali aku bohong, Gun. Gak ada kerjaan banget. Ya udah, aku tutup dulu. Aku akan kembali ke kantor sekarang juga. Ingat! Jangan bilang papa soal apa yang aku lakukan hari ini. Aku gak mau papa dan mama ikut ngomel kek apa yang kamu lakukan barusan itu. Mengerti?"


"Iya aku mengerti kok. Cepat balik. Jangan lupa pesanan makanan aku itu. Udah lapar banget ini tahu gak?"


"Iya."


Karena panggilan itu, Amelia langsung meninggalkan rumah sakit. Tidak ingin ambil pusing soal kehidupan pribadi calon pasangan kontraknya. Walau pada dasarnya, hati Amelia sungguh sangat penasaran dengan latar belakang dari laki-laki itu.


***


Seperti yang sudah Amelia katakan. Mereka akan kembali bertemu di restoran yang sama untuk menandatangani surat kontrak pernikahan yang resmi.


Namun, Amelia sudah datang sejak lima belas menit yang lalu. Tapi Dirly, masih juga tidak muncul sampai sekarang. Amelia merasa cukup kesal. Sayangnya, dia tidak punya kontak Dirly untuk menghubungi. Maka dari itu, yang bisa Amelia lakukan hanyalah duduk diam menanti kedatangan Dirly hingga hampir satu jam kemudian.


"Sialan! Kenapa dia gak kunjung datang juga sih? Apa dia akan membohongi aku hari ini?"


"Tidak! Aku rasa dia tidak akan melakukan hal itu. Karena dia terlihat seperti bukan pembohong. Ya Tuhan ... takutnya dia sedang berada dalam masalah sekarang. Itu sebabnya dia tidak datang menemui aku."


Tidak ingin terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Amelia langsung memilih datang ke rumah sakit. Dia akan memastikan sendiri apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Dirly.


Sampai di rumah sakit. Amelia yang bingung langsung menanyakan prihal Dirly pada pekerja di sana. Tentu saja mereka tidak tahu soal Dirly. Karena yang sakit bukan Dirly, melainkan pacarnya. Jadi, mana mungkin mereka tahu soal keberadaan orang yang bernama Dirly.


Amelia yang semakin merasa bingung itupun langsung memutuskan untuk melihat satu persatu kamar dari tempat mula dia melihat Dirly kemarin. Sayangnya, kamar di rumah sakit itu terlalu banyak. Sampai membuat Amelia merasa lelah sendiri.

__ADS_1


"Ya ampun ... aku aku sudah dibohongi sekarang? Aku rasa tidak. Karena aku percaya kalau dia bukan orang yang suka membohongi orang lain. Dia terlihat cukup baik sebenarnya," ucap Amelia pada dirinya sendiri sambil menyandarkan diri ke kursi tunggu yang berjejer rapi di depan kamar-kamar tersebut.


__ADS_2