Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*23


__ADS_3

"Mama juga gak merasa meletakkan buket itu kok, Mel. Tapi ... buketnya cantik banget ya. Bunga kesukaan kamu banget tuh."


"Aduh ... jika kalian gak ada yang tahu. Buketnya mau aku buang aja."


"Hah? Lho-lho lho ... kenapa mau kamu buang sih, sayang? Apa salahnya itu bunga sampai mau kamu buang, coba? Mana bunganya bagus banget lagi. Sayang banget dong kalo kamu buang."


"Dari pada aku simpan bikin masalah, kan Ma. Lebih baik aku buang saja ini bunga. Soalnya, gak ada yang tahu kalau ini bunga entah dari siapa dan entah siapa yang meletakkannya di kamarku."


Saat itulah, papa Amel yang ada di kamar langsung keluar. Suara sibuk-sibuk itu membuat hatinya merasa tidak tenang. Awalnya, dia ingin mengabaikan. Lama-lama, merasa tidak enak hati juga.


"Ada apa sih ini kalian? Pagi-pagi lagi udah berisik. Gak baik tau gak?"


"Siapa yang berisik, papa? Kita cuma ngebahas soal buket bunga yang ada di kamar Amel aja. Dia gak tahu itu buket milik siapa. Jadi, dia nanya deh ama mama dan bibi. Sama. Kita gak tahu juga," ucap mama Amel dengan nada polos.


Seketika, mata papa Amel menatap ke arah putrinya. Di tangan Amelia saat ini memang sedang memegang buket bunga yang dia bawa dari kamar sebelumnya.


Seketika, papanya langsung mengukir senyum di bibir.


"Oh, soal buket bunga ini ya?" tanya si papa sambil menunjuk ke arah buket tersebut.


"Iya. Buket mana lagi, pa? Gak mungkinkan aku membahas soal buket bunga yang lainnya? Orang buket bunganya cuma ada satu aja."


Amelia berucap dengan nada sedikit kesal plus manja pada papanya.

__ADS_1


"Mm ... sebenarnya ... gak satu sih, Mel. Ada ... lumayan banyak."


"Hah? Maksud papa apa sih? Jangan bikin mama jantungan pagi-pagi begini ya."


"Iya, pa. Kalau bicara jangan bikin kita mikir banyak deh. Langsung pada pokoknya saja."


"Eh ... kalian berdua ini. Papa bicara apa adanya kok. Buket bunganya emang gak cuma satu doang. Masih ada banyak. Buka aja pintu rumah kita sekarang juga. Maka kamu akan tahu jawaban dari apa yang baru saja papa katakan. Kebohongan, main-main, atau kebenaran apa yang papa katakan."


Tidak banyak bicara lagi. Amelia dan mamanya langsung menuju pintu utama rumah mereka. Saat pintu terbuka, Amelia mendadak membulatkan matanya secara lebar karena apa yang matanya lihat saat ini.


Di teras depan rumahnya, ada puluhan buket bunga dengan bermacam-macam warna. Anehnya, bunga yang dikirim hanya satu jenis walau punya banyak warna.


Amelia tentu saja kaget dan tak percaya. Dia berusaha berpikir siapa orang yang susah mengirim dia bunga sebanyak itu. Dan ... siapa yang tahu kalau dia suka dengan bunga tersebut.


"Mel .... " Mama Amelia memanggil sambil menyentuh bahu putrinya dengan lembut.


"Aku juga sangat penasaran, Ma. Tapi sayangnya, aku gak tahu siapa yang udah ngirim aku bunga."


"Kamu beneran gak tahu? Jangan-jangan, ada yang sedang ngejar kamu kali, Mel. Aduh ... anak mama sebentar lagi punya calon nih."


"Ih, jangan bicara yang nggak-nggak dulu deh, Ma. Aku gak berharap punya calon yang kek ini. Gak berani menampakkan wajahnya. Malah neror dengan cara ngirim bunga. Kan bikin kita penasaran sekaligus kesal."


"Eh, ini gak sedang neror kok menurut mama. Tapi ... ini sedang usaha keras agar bisa diterima oleh kamu yang sangat pemilih ini."

__ADS_1


"Aku gak pemilih kok, ma. Hanya belum tepat sama orang yang aku suka aja. Belum merasa cocok saja, kan?"


"Ah, ya sudahlah. Minta bibi singkirkan semua bunga ini nanti, Ma. Aku mau siap-siap ke kantor. Malas juga kalo gak ada kerjaan di rumah."


"Eh ... katanya mau istirahat, Mel. Masa ke kantor juga sih hari ini."


"Iya awalnya ingin libur, Ma. Tapi kalo kek gini jadi malas libur. Takut tiba-tiba orang yang ngirim datang ke rumah."


"Eh tapi .... "


"Ah, ya sudahlah. Terserah kamu sajalah. Kamu tahu mana yang terbaik buat kamu," ucap mamanya pasrah.


Beberapa jam kemudian, Amelia akhirnya sampai di kantor. Tentu saja, dia di sambut heboh oleh sahabatnya yang benar-benar sudah tidak sabar untuk menghujani dia dengan banyak pertanyaan karena kepulangannya yang mendadak juga dia yang tidak bisa di hubungi setelah pulang.


"Ya Tuhan, Mel. Akhirnya kamu datang ke kantor juga. Kamu tahu gak? Jika kamu gak datang hari ini, maka aku yang akan datang ke rumah kamu."


"Lah, kenapa sih memangnya? Ada masalah apa kamu sampai ingin menemui aku di rumah, Gun?"


"Ada masalah apa, masalah apa kamu bilang? Kamu yang pulang mendadak. Itu satu masalah. Yang kedua, kamu yang setelah pulang langsung tidak bisa aku hubungi. Apa itu tidak masalah, ha?"


"Ya Tuhan, mbak Anggun. Aku pikir soal masalah apa. Aku pulang mendadak ya karena aku pikir, perusahaan itu tidak pantas untuk bekerja sama dengan kita. Untuk soal aku yang tidak bisa kamu hubungi setelah pulang. Itu karena aku lupa mengecas ponselku karena terlalu lelah."


"Apakah kata-kata itu bisa aku percaya?"

__ADS_1


"Tentu saja."


"Tapi aku merasa ada yang janggal dari kepulangan kamu ke sini, Amelia."


__ADS_2