Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*18


__ADS_3

"Lah ... kok malah ngomong gitu sih? Apa salahnya makan bertiga? Aku rasa, gak ada salahnya deh. Malahan, itu akan menambah keasikan."


"Asik menurut kamu, Gun. Tapi nggak menurut aku. Kamu bilang gak ada salahnya, kan barusan? Enak aja bilang gitu. Gak ada salahnya buat kamu yang sedang kasmaran. Tapi buat aku yang jadi oang ketiga malah berasa kek jadi umpan nyamuk aja aku ini saat berada di antara kalian berdua. Tahu gak sih?"


Selesai berucap kata-kata itu, Amelia langsung beranjak meninggalkan Anggun. Anggun yang di tinggalkan juga tak ingin tetap diam. Dia juga bangun untuk mengejar langkah kaki sahabatnya.


"Eh, mau ke mana kamu sekarang? Buru-buru banget deh kek nya."


"Mau ke restoran buat makan. Lapar aku pas bahas soal perusahaan luar negeri yang entah kenapa selalu bikin hati merasa sangat tidak nyaman."


"Mm ... mungkin karena pemilik perusahaan itu tampan juga muda kali, Mel. Makanya, kamu merasa gak nyaman akibat takut kalah saing." Anggun bisa-bisanya meledek Amel yang memang sedang merasa kesal.


Ucapan itu tentu saja membuat Amelia langsung menghentikan langkah kakinya. Mendadak berhenti, lalu memberikan Anggun tatapan tajam yang membuat Anggun hanya bisa nyengir kuda saja.


"Kamu bilang apa barusan? Pemilik perusahaan itu tampan?"


Anggun merasa tak percaya dengan pertanyaan yang Amelia layangkan barusan. Namun, dia langsung menjawab dengan anggukan pelan juga tatapan penuh tanda tanya.


"Kenapa? Ada yang salah dengan kata-kata tampan yang aku katakan tadi, Mel?"


"Tidak. Aku hanya baru tau kalau pemilik perusahaan itu adalah laki-laki."


"Hah? Jadi maksud kamu, selama ini kamu pikir pemilik perusahaan yang terkenal. itu perempuan gituh?"


"Gak juga sih. Aku hanya tahu kalau pemiliknya anak muda yang seusia dengan aku. Perempuan atau laki-laki, aku tidak tahu. Dan tidak ingin tahu sebenarnya. Karena menurut aku, laki-laki atau perempuan, itu gak akan berbeda jika melakukan kerja sama."


"Kamu yakin, Mel?"


"Maksud kamu? Yakin soal apa?"


"Ya yakin soal laki-laki atau perempuan itu sama saja. Karena kalo menurut aku, laki-laki atau perempuan itu berbeda lho jika melakukan kerja sama antar perusahaan."

__ADS_1


"Sama aja."


"Ya udahlah ya. Gak perlu di bahas lagi soal itu. Makin lama, aku merasa makin enek tahu gak?"


"Lho, kok enek sih? Yang salah dengan perusahaan itu apa? Kenapa kamu bisa merasa enek gitu? Tunggu! Aku pikir, jika kamu lihat langsung wajah ceo perusahaan mereka, pasti akan berubah deh nantinya. Karena .... "


Anggun tiba-tiba menggantungkan kalimatnya. Sengaja dia lakukan hal itu agar menciptakan rasa penasaran dalam hati sahabatnya.


"Karena apa?"


Seperti yang Anggun inginkan. Amelia akhirnya bertanya. Hal itu membuat dia merasa bahagia dengan mengukir senyum lebar di bibirnya.


"Ya karena ceo mereka ganteng lah." Anggun berucap dengan nada menggoda.


"Apa-apaan sih kamu, Gun. Aku pikir mau ngomong soal apa. Ih ... bikin kesal aja. Karena menurut aku, ganteng atau tidak itu gak akan mengubah segalanya. Kerja sama ya kerja sama, kalo aku suka. Nggak ya nggak jika aku merasa tidak tertarik dengan perusahaan mereka. Atau, jika aku merasa perusahaan itu tidak layak. Maka tidak akan ada kerja sama."


"Terus gimana dengan papa kamu, Mel? Aku lihat, papamu sangat ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan itu."


"Huh ... terserah kamu sajalah, bu ceo. Aku juga sama seperti papa kamu. Hanya bisa mengikuti apa yang menurut kamu baik saja."


____


Dua hari kemudian. Amelia akhirnya berangkat keluar negeri untuk membicarakan soal kerja sama dengan perusahaan terkenal yang bikin papanya penuh ambisi itu.


Dia berangkat dengan berat hati sebenarnya. Karena semua itu, bukan murni keinginannya. Melainkan, keinginan papanya yang sangat ingin perusahaan mereka bekerja sama dengan perusahaan tersebut.


Setelah bermalam selama satu malam di salah satu hotel, Amelia langsung pergi ke perusahaan itu paginya. Lumayan ramah sambutan yang karyawan perusahaan tersebut berikan. Mereka sepertinya memandang tinggi rekan bisnis mereka.


Amelia diantarkan ke ruangan pertemuan setelah sampai di kantor mereka. Sendirian tanpa teman menunggu ceo perusahaan itu datang, Amelia memilih melihat ke arah luar jendela untuk mengisi waktu agar tidak terasa lama.


Sementara itu, asisten dari ceo tersebut langsung mengabari pemimpin mereka. Mengatakan kalau Amelia sudah datang, dan sekarang sedang berada di ruang pertemuan. untuk menanti kedatangan si ceo.

__ADS_1


"Jadi, pemimpin perusahaan itu benar-benar datang?" tanya ceo tersebut pada asistennya.


"Ya, pak. Dia sudah datang. Sepertinya, kabar baik perusahaan kita di tanah membuat pemimpin mereka langsung datang sendiri untuk membicarakan kerja sama."


"Benarkah? Ceo perempuan yang dibicarakan itu? Benarkah dia?"


"Ya. Dia seorang perempuan muda yang cantik, terlihat cukup tegas dari nada bicaranya. Dan, sepertinya, dia juga seperti yang di rumorkan. Pintar dalam berbisnis."


Ceo tersebut tiba-tiba mengukir senyum kecil di bibirnya.


"Akhirnya, dia yang aku tunggu datang juga. Sudah lama aku mengharapkan kedatangan dirinya."


"Apakah dia sespesial itu, pak? Apakah di terlalu spesial sampai kamu menunggunya sejak lama?"


"Maaf, maksudku, spesial sebagai rekan bisnis karena dia terkenal di tanah air, atau sebagai ...."


"Jangan banyak tanya. Bukan urusan kamu soal itu. Karena itu adalah urusan aku. Kamu hanya perlu mengerjakan urusan kamu saja. Urusan aku, biar aku sendiri yang kerjakan."


"Oh ya. Ayo berangkat sekarang! Jangan bikin dia menunggu lebih lama lagi. Mm ... semua berkasnya sudah kamu siapkan, bukan?"


"Jangan sampai ada sedikitpun kesalahan. Karena aku tidak ingin ada kesalahan walau hanya sekecil apapun. Ingat itu!"


"Iya, pak. Tenang saja. Tidak akan ada kesalahan jika kamu tidak terlalu gugup. Jadi, tolong tenangkan dirimu dulu sebelum keluar dari ruangan mu ini."


"Jangan mengajari aku. Aku tahu segalanya."


"Ya ... kalau begitu, maafkan aku."


"Huh ... ayo pergi sekarang! Kita tidak boleh membuat dia menunggu lama. Karena ini adalah kerja sama soal hidup dan mati. Aku tidak boleh mengacaukannya."


'Ya Tuhan ... apa aku tidak salah dengar apa yang bos ku ucapkan barusan? Kerja sama soal hidup dan mati? Kenapa dia bisa bilang begitu ya? Padahal, aku rasa, ini kerja sama biasa saja. Lagipula, ini bari pertemuan biasa. Belum juga melakukan kerja sama.'

__ADS_1


'Nasib-nasib. Mungkin bos ku sudah berubah jadi orang lain sekarang. Maka dari itu aku merasa dia sangat berbeda. Karena bos yang aku kenal itu tidak seperti ini. Jangankan gugup saat ingin menemui klien, berubah raut wajah saja tidak pernah.'


__ADS_2