
Malam ini adalah malam paling bahagia buat Amelia. Setelah lamaran berdua tadi siang, malam harinya, dia di lamar secara sah oleh
keluarga Dirly sekali lagi.
Selanjutnya, kedua keluarga setuju untuk menjalani pernikahan secepatnya tanpa ada pesta pertunangan terlebih dahulu. Karena mereka pikir, pesta pertunangan tidak terlalu penting. Yang terpenting adalah, pesta pernikahan akan mereka adakan secara sangat meriah.
Sementara itu, di sisi lain. Ajeng baru saja sampai ke tanah air. Dia datang terlambat karena kendala yang dia alami di luar negeri.
Karena jadi orang ketiga, dia di serang habis-habisan oleh tunangan sah perempuan yang dia rebut calon suaminya. Akhirnya, niat untuk menganggu hubungan Dirly dengan Amelia jadi tertahan akibat masalah itu.
"Huh ... semoga saja aku tidak terlambat datang. Semoga Dirly dan Amelia masih belum menjalin hubungan yang serius. Aduh ... semoga saja."
Ajeng terus melanjutkan perjalanan menuju apartemen tempat di mana dia tinggal dulunya. Apartemen itu dulunya, Dirly yang membelikan buat dia. Karena terlalu sayang, Dirly sampai rela menuruti semua yang Ajeng inginkan. Tanpa Dirly sadari, kalau dirinya hanya di jadikan alat oleh Ajeng. Alat untuk mendapatkan semua yang Ajeng inginkan. Juga alat untuk mencapai semua ambisi Ajeng yang gila itu.
"Ah, untuk saja aku tidak menjual apartemen ini dulunya. Jadi, saat aku datang ke sini lagi, aku bisa tinggal di sini kembali."
"Uh ... jika dipikir-pikir, sayang juga aku lepaskan Dirly. Tapi mau bagaimana lagi? Dia udah miskin karena keluarganya malah membuang dia akibat tidak ingin menikah dengan Amelia."
"Dasar keluarga gak punya hati itu keluarga Prayoga. Masa anak kandung sendiri mereka buang hanya karena tidak ingin mereka jodohkan. Benar-benar keluarga tidak punya perasaan."
__ADS_1
Ajeng terus saja ngomel sambil melangkah menuju pintu apartemen miliknya. Namun, ketika dia sampai di depan pintu tersebut, pintu apartemen itu tidak bisa dia buka. Berulang kali dia coba menekan sandi yang dia pikir adalah sandi pintu itu. Tetap saja tidak terbuka.
"Lho? Ini aku gak mungkin salah ingat, kan? Kata sandi ini jelas-jelas benar. Selama ini, aku tidak pernah salah. Aku juga tidak pernah mengganti kata sandinya sejak awal aku tinggal di sini."
Di saat kebingungan itu, seorang laki-laki datang menghampiri Ajeng. Laki-laki itu awalnya sudah memperhatikan Ajeng. Karena itu, dia memasang wajah tidak bersahabat saat berhadapan dengan Ajeng sekarang.
"Mbak cari siapa? Ada perlu apa?"
Sontak saja, pertanyaan itu langsung membuat Ajeng yang bingung menoleh dengan cepat.
Wajah kaget terlihat dengan jelas di wajah Ajeng saat ini.
"Pintunya tidak rusak. Mbak yakin kalau apartemen ini punya, mbak? Karena saya rasa, mbak sepertinya salah alamat deh."
Namun, belum sempat Ajeng menjawab apa yang laki-laki itu katakan. Suara seorang perempuan langsung mengalihkan perhatian Ajeng juga laki-laki yang ada di hadapannya saat ini.
"Sayang. Kok gak langsung masuk sih?"
"Nah itu ... kamu bicara sama siapa di situ?" tanya perempuan itu sambil menatap Ajeng dengan tatapan tak bersahabat.
__ADS_1
"Gak tahu, Yang. Perempuan ini tiba-tiba mengaku kalau dia yang punya apartemen ini. Jelas-jelas ini apartemen udah kita beli enak bulan yang lalu."
Mendadak, kata-kata yang laki-laki itu ucapkan membuat mata Ajeng melebar karena kaget.
"Apa! Apartemen ini sudah kalian beli enam bulan yang lalu? Bagaimana mungkin? Ini apartemen punya aku. Bagaimana mungkin kalian bisa membeli apartemen ini tanpa persetujuan dari aku. Kalian jangan bercanda deh."
"Hello mbak. Yang bercanda itu siapa ya? Sudah jelas-jelas ini apartemen punya kami, masa anda bilang bercanda sih," ucap perempuan tersebut dengan nada kesal namun terdengar penuh dengan ejekan.
"Hei! Kalian jangan pikir aku akan percaya gitu aja dengan ucapan kalian. Ini apartemen punya aku, gak akan mungkin kalian bisa membelinya."
"Mbak ini ngeyel banget sih. Udah dibilangin kalau ini apartemen punya kami. Tetap saja gak percaya. Kekeh banget ngaku punya orang buat jadi punya dia. Jangan-jangan, memang suka gangguin punya orang kali ya?"
Ucapan perempuan itu sukses membuat Ajeng naik darah. Dia langsung mencengkram kerah baju perempuan tersebut dengan penuh dengan amarah.
"Hei! Jangan main-main kamu sama istri aku ya!" Laki-laki yang ada di situ langsung mendorong Ajeng agar menjauh dari istrinya.
"Uhuk! Uhuk! Mas, dia udah main kasar banget. Panggil aja tuan muda, kasi tau apa yang sudah terjadi di sini. Tuan muda pasti tahu harus berbuat apa. Lagipula, dia ini siapa sih? Perempuan ****** yang tidak tahu sopan santun."
"Kurang ajar kamu ya! Berani-beraninya kamu bilang aku perempuan ******! Kamu benar-benar cari perkara dengan aku!"
__ADS_1
Ajeng yang terdorong oleh emosi langsung ingin memukul perempuan tersebut. Namun, perempuan itu langsung menghindar.