Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*35


__ADS_3

Sayangnya, itu bukan cinta yang sesungguhnya. Itu hanya sandiwara yang berbalutkan cinta yang tulus sampai akhirnya Dirly terperangkap begitu lama.


"Jadi ... semua itu kamu lakukan karena kamu punya dendam pada Amel, Ajeng?" tanya Dirly dengan perasaan campur aduk sekarang.


"Iya. Karena aku dendam pada dia. Dia telah mengambil apa yang seharusnya aku miliki. Dia tidak pantas mendapatkan kebahagiaan seperti itu. Karena tidak hanya dia yang berhak bahagia. Aku juga berhak untuk bahagia."


"Kau akan bahagia jika di hatimu tidak pernah menyimpan dendam untuk orang lain, Ajeng. Karena seharusnya, kamu bersyukur saja dengan apa yang kamu punya sejak awal. Hanya dengan itu, kamu akan bisa merasakan rasa bahagia buat selama-lamanya."


"Ayo, Mel! Kita pergi sekarang. Tidak pantas kamu bertemu dengan manusia seperti dia. Manusia tidak tahu dengan yang namanya kata terima kasih sama sekali," ucap Dirly lagi sambil menggandeng tangan Amelia.


"Tidak! Kalian tidak bisa pergi begitu saja sekarang. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian hidup bahagia bersama walau hanya sekejap saja. Karena kalian tidak layak untuk bahagia."


"Layak atau tidaknya aku bahagia. Itu bukan kamu yang menentukannya, Jeng. Sebaliknya, kamu harusnya sudah sadar dengan kesalahan yang kamu perbuat sekarang." Amelia pula berucap.


"Amelia! Kau benar-benar orang jahat yang sudah merusak kebahagiaan yang aku miliki. Kau sudah menggambil apa yang seharusnya jadi milik aku. Kau ... kau tidak tahu, bukan? Kalau orang yang ada di sampingmu itu adalah bekas aku. Huh ... ambil itu barang bekas milikku."


"Bekas kamu? Aku tidak pernah merasa jadi bahan bekas kamu, Ajeng. Aku selalu melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Tapi kamu hanya memanfaatkan aku saja."


"Iya. Memang aku hanya memanfaatkan kamu saja. Kenapa memangnya? Aku hanya ingin menjauhkan kamu dari Amelia. Karena saat aku tahu tentang perjodohan antara kalian, dengan segala cara aku menjebak kamu supaya kalian berjauhan. Sayangnya, kamu yang bodoh malah rela hidup menderita dengan melepaskan keluargamu yang kaya raya itu."

__ADS_1


"Oh, satu lagi. Aku juga berbohong soal sakit yang aku derita padamu. Karena aku hanya ingin menyiksa kamu dengan rasa bersalah saja. Sebenarnya, aku tidak sakit sama sekali. Kasihan banget kamu yang bodoh ini, iyakan?"


"Kamu!"


Dirly kesal bukan kepalang. Ingin rasanya dia memukul perempuan yang sedang duduk di atas ranjang itu dengan kuat agar perempuan itu tahu betapa sakitnya hati dia saat ini. Namun, itu tidak bisa dia lakukan karena Amelia langsung menahan dirinya saat ingin bergerak.


"Tahan, Dirly. Jangan lakukan hal bodoh apapun. Karena yang sedang kita hadapi saat ini adalah orang bodoh. Maka kita tidak boleh ikut-ikutan bodoh juga."


"Siapa yang kamu bilang bodoh, Amelia? Jaga bicaramu itu ya."


"Ayo pergi, Dirly! Tidak perlu menanggapi dia lagi. Kita tidak bisa berada di sini semakin lama."


"Pergi-pergi! Jangan pernah kembali lagi. Ingat satu hal. Kalian berdua tidak akan pernah bersama. Sampai kapanpun tidak akan pernah."


"Kamu juga harus dengar baik-baik satu hal, Ajeng. Kalau jodoh itu pasti akan bersama. Seberapa kuat kamu memisahkan kami, kamu terap tidak akan pernah berhasil."


"Tidak ...! Kalian tidak akan bersama! Kalian tidak akan berjodoh! Tidak! Tidak! Tidak!"


Mereka langsung berjalan cepat meninggalkan kamar tersebut. Sedangkan Ajeng, dia terus berteriak-teriak marah di dalam kamarnya dengan suara yang melengking.

__ADS_1


***


Sejak kejadian di rumah sakit waktu itu, hubungan keduanya terlihat semakin romantis saja. Persiapan pesta pernikahan juga terlihat hampir sempurna dengan kerja keras kedua keluarga.


Kakek Amel yang awalnya enggan untuk menerima Dirly menjadi pendamping cucunya, kini sudah melupakan soal kata enggan itu. Mereka terlihat sudah sangat dekat satu sama lain.


Satu minggu kemudian, pernikahan antara Amelia dan Dirly akhirnya dilangsungkan juga. Pernikahan itu sangat meriah. Ribuan tamu undangan hadir untuk memeriahkan pesta tersebut. Maklum, itu adalah pesta pernikahan dua ceo terkenal yang akhirnya bersatu juga.


"Ya Tuhan ... aku gak nyangka kalo, Mel. Akhirnya, kalian berdua menikah juga," ucap Anggun dengan perasaan sangat bahagia.


"Namanya jodoh, sudah pasti akan bersama." Sambut Dion pula.


"Eh ... bukannya kalo pepatah mengatakan itu kalo jodoh pasti bertemu ya, kak Dion?" Anggun terlihat sedang kebingungan dengan kata yang dia ucapkan sendiri.


"Kalo hanya sebatas bertemu saja, itu belum tentu kita berjodoh, bukan? Karena ada banyak orang yang kita temui di luar sana. Jika mereka semua jodoh kita, maka dunia akan kacau bukan?"


"Kak Dion bisa aja."


"Tapi, Gun. Apa yang kak Dion katakan itu sangat benar lho. Iyakan, Dir?" Amelia pula angkat bicara.

__ADS_1


"Iya-iya. Apa yang istriku katakan selaku iya, kok."


"Cie ... yang sudah punya istri," ucap Anggun di sambut tawa mereka berempat dengan bahagia.


__ADS_2