
Amelia langsung di serang oleh virus tidak tenang. Setelah pembicaraannya dengan Dirly tadi siang, dia sama sekali tidak bisa melakukan pekerjaan barang sedikitpun.
Bukan hanya di kantor dia pusing karena kata-kata laki-laki itu. Di rumah juga dia terus-terusan terpikir semua ucapan laki-laki tersebut.
Mau makan kepikiran. Mau minum, mandi, bahkan sampai dia mau tidur juga terus kepikiran kata-kata yang Dirly ucapkan. Sampai-sampai, dia tidak bisa tidur karena terus terpikirkan apa yang Dirly katakan.
"Ah, sial! Masa aku harus terus memikirkan apa yang dia katakan sih? Dasar buaya, kamu Dirly. Bisa-bisanya kamu merusak pikiranku yang sedang sibuk dengan pekerjaan saat ini."
Amelia merenggut kesal. Dia tidak ingin memikirkan semuanya. Hanya saja, dia terus-terus saja terpikirkan. Seperti apapun dia berusaha, tetap saja tidak bisa melupakan semua yang Dirly katakan.
Ketika waktu subuh. Amel baru bisa memejamkan matanya. Tapi sayang, dia masih harus terbangun oleh ketukan pintu di kamarnya.
"Aduh ... siapa sih itu? Gak tahu aku baru mau tidur apa?" tanya Amelia sambil bangun dengan langkah berat karena kepalanya juga terasa sedikit pusing sekarang.
Pintu terbuka. Bibi yang bekerja di rumahnya langsung terlihat di depan Amelia. Bibi itu tersenyum dengan satu buah buket bunga Anggrek di tangannya.
"Bibi ... bawa bunga dari siapa subuh-subuh begini?"
"Seseorang mengirimkan bunga ini tadi, non. Gak tahu dari siapa. Katanya, minta bibi kasikan pada, nona Amel. Itu aja."
__ADS_1
"Hah? Ada yang ngantar bunga subuh-subuh begini, bik? Ah! Yang benar saja dong."
"Ye ... si non. Ya emang benar, non. Jika nggak, mana mungkin bibi bisa punya bunga ini. Iyakan?"
Amelia tidak bisa berucap lagi. Apa yang bibi itu katakan memang benar. Dia lalu menerima bunga itu. Lalu, membawa bunga itu masuk ke dalam kamar dengan cepat.
Berbeda dari yang sebelumnya. Bunga kali ini ada kertas catatan kecil yang pengirimnya selipkan di antara bunga-bunga segar tersebut.
Tidak membuang waktu lagi. Amelia langsung saja mengambil kertas tersebut untuk dia lihat apa isinya.
*Amelia .... Aku serius.*
Hanya tiga kata itu yang ada di atas kertas kecil tersebut. Amelia menatap kertas itu sedikit lama karena merasa bingung dengan maksud dari kata-kata tersebut.
"Benar-benar bikin aku naik darah saja. Awas aja jika kau tahu siapa pengirimnya. Aku beri pelajaran buat dia karena sudah bikin aku kesal dengan semua yang dia lakukan."
Amelia ingin melanjutkan tidurnya kembali. Tapi sayang, hari sudah terang. Tidak mungkin untuk dirinya tidur lagi sekarang.
Amelia memilih langsung mandi untuk menyegarkan tubuh juga pikirannya. Kemudian, dia melanjutkan aktifitas seperti biasanya. Bersiap-siap berangkat kerja dengan cepat.
__ADS_1
****
Satu minggu berlalu. Hubungan mereka masih seperti biasanya. Tidak ada kata lanjut setelah pembicaraan waktu itu. Karena sehari setelah obrolan itu, Dirly langsung kembali ke luar negeri untuk menanggani soal masalah di perusahaannya. Sampai satu minggu berlalu, dia masih belum pulang ke tanah air karena masalah perusahaannya masih belum selesai.
Namun, saat jam makan siang, Amelia dan Anggun pergi ke rumah makan yang berada tak jauh dari bandara. Mereka makan di sana karena akan mengadakan pertemuan dengan klien yang berada di kota sebelah.
Karena klien itu tidak punya banyak waktu, maka Amelia selaku pemimpin yang ramah dan juga sangat bersahabat, memilih datang ke tempat tersebut supaya klien itu mudah menemui dirinya. Dan hasilnya, saat dia mengalihkan pandangannya ke arah luar. Dia malah memilih Dion yang sedang berbicara dengan Dirly.
Sontak saja, dia mendadak terdiam di saat pembahasan soal kerja sama dengan klien tersebut. Untuk saja dia datang bersama Anggun. Jika tidak, mungkin semua urusan kerja sama tidak akan berjalan dengan lancar.
"Kamu tadi kenapa sih, Mel? Kok bisa-bisanya kamu mendadak terdiam mematung tepat di saat kesepakatan kerja sama akan di tandatangani." Anggun berucap sambil menatap Amelia dengan lekat setelah klien itu pergi.
"Aku melihat sesuatu yang tidak wajar. Makanya aku diam mendadak tadi."
"Apa?"
"Dion dan Dirly bersama."
"Hah? Apa yang tidak wajar dari hal itu, Nona Amelia? Mereka mungkin saja bertemu. Makanya mereka bersama. Lagian, aku tidak merasa kalau itu tidak wajar soalnya ... mungkin saja Dion bertemu dengan Dirly saat mereka melakukan perjalanan."
__ADS_1
Ucapan itu terasa agak janggal bagi Amelia. Namun, dia tidak ingin membahas lagi karena tidak ingin bicara panjang lebar seputar orang yang menurut dia tidak perlu dia bicarakan.
Ya meskipun pada dasarnya, hati Amelia sangat berlawanan dengan pikirannya saat ini.