
"Uh ... bagaimana jika anak kami melihat dia dengan penampilan ini ya? Pasti .... "
"Maaf aku sudah membuat kalian menunggu lama," ucap sebuah suara dari arah pintu utama yang tak jauh dari ruang tamu.
Suara itu sangat tidak asing buat Amel. Sontak saja dia langsung melihat ke arah asal suara untuk memastikan apa yang dia dengar barusan.
"Dirly?" Amelia berucap dengan suara tinggi karena tak percaya dengan apa yang matanya lihat.
"Mel ... kamu ... cantik sekali."
"Tunggu! Kalian sudah saling kenal satu sama lain?" tanya papa Amelia dan kakek Dirly hampir bersamaan.
Tidak ada jawaban dari keduanya. Mereka berdua hanya diam sambil saling tatap satu sama lain. Tidak mereka hiraukan lagi kalau di ruangan tersebut ada banyak orang. Bahkan, ada tetua keluarga yang sedang duduk di sana.
"Ya kalo saling kenal juga sangat bagus, kan Pa? Karena kita tidak perlu memaksa mereka lagi." Papa Dirly angkat bicara.
"Ya orang kita datang ke sini memang untuk melamar Amelia untuk Dirly kok, Pa. Kenapa kita harus paksa-paksa mereka lagi, hm?" Mama Dirly menjawab.
Keadaan di ruang tamu sedang tidak baik. Ada wajah-wajah yang sedang menyimpan tanda tanya karena apa yang baru saja terjadi. Ada juga yang terlihat sangat santai dan bahagia. Juga ... ada yang terlihat tidak senang dengan apa yang sedang terjadi sekarang.
__ADS_1
"Tunggu! Sebenarnya apa yang sedang terjadi sih di sini? Adakah yang mau menjelaskan semuanya?" tanya papa Amelia dengan tatapan meminta penjelasan.
"Mel. Tolong jangan diam saja. Mama sama papa ini kamu buat sangat bingung lho sekarang, Amelia," ucap mama Amelia pula.
"Sebenarnya ... tidak. Aku tidak tahu kalau dia adalah tuan muda keluarga Prayoga itu. Aku ... sungguh tidak tahu." Amelia berucap pelan.
Setelah berucap, Amelia langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut dengan berlari. Semua yang ada di sana kaget melihat apa yang Amelia lakukan. Sementara Dirly yang melihat hal itu, langsung berlari untuk mengejar Amelia secepat yang dia bisa.
Sementara untuk di ruang tamu, mama Dirly yang ambil alih untuk menjelaskan segalanya. Karena dia tahu apa saja yang telah anaknya lakukan.
Ternyata Amelia berlari ke samping rumahnya. Tempat di mana kolam renang berada. Dirly langsung merangkul tubuh itu dari belakang ketika Amelia berhenti di tepian kolam renang tersebut.
"Aku minta maaf, Amel. Jangan marah padaku lagi. Tolong." Dirly berucap dengan suara mengiba.
"Aku ingin menikahi kamu atas dasar cinta. Bukan atas dasar permintaan orang tua. Karena sejujurnya aku tahu, kamu tidak pernah setuju untuk menikah dengan cara perjodohan. Maka dari itu, aku tidak mengatakan siapa aku padamu, Amel."
"Apa sejak awal pertemuan kamu sudah tahu kalau aku adalah perempuan yang akan dijodohkan dengan kamu? Maka karena itu kamu pergi meninggalkan aku dan membatalkan kontrak pernikahan kita?"
"Untuk itu ... tidak. Aku awalnya tidak tahu kalau kamu adalah perempuan yang keluargaku pilih. Aku tahu setelah aku ditinggal pergi oleh Ajeng."
__ADS_1
"Lalu ... kenapa kamu tidak minta keluargamu langsung datang buat melanjutkan perjodohan setelah tahu, hm?"
"Aku tidak berani ambil resiko, Amel. Karena aku sudah tahu, kalau kamu tidak akan menerima pernikahan yang berdasarkan perjodohan. Aku tidak ingin kamu kembali membayar laki-laki hanya untuk menghindari pernikahan karena perjodohan dengan aku."
"Karena aku sudah tahu semua itu. Maka aku berusaha keras untuk memenangkan hati kamu. Dengan begitu, kita menikah bukan karena perjodohan. Tapi karena cinta."
Amelia terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa karena kata-kata yang Dirly ucapkan itu terasa memang benar.
"Aku minta maaf sekali lagi, Amel. Tolong jangan marah lagi padaku. Aku mohon."
Nada memelas itu terdengar lagi sekarang. Amelia yang mendengarkan ucapan itu tentu saja tidak bisa marah. Karena kata-kata tersebut memang benar adanya.
"Siapa yang marah, Dirly? Aku tidak sedang marah padamu. Tapi ... aku hanya kesal saja. Kesal akan apa yang sudah kamu lakukan padaku selama ini."
"Jika begitu. Bisakah kita melupakan apa yang sudah berlalu? Dan, kita buka lembaran baru untuk menata kehidupan yang lebih baik lagi ke depannya?"
Dirly langsung memutar tubuh Amelia yang sedang membelakanginya. Amelia kini menyapa Dirly dengan senyum manis.
"Bisakah kita mulai dari awal lagi, Melia? Aku mohon padamu. Tolong berikan aku kesempatan satu kali lagi untuk menjalin hubungan dengan kamu. Tentunya, tanpa ada kisah pahit masa lalu kita ini."
__ADS_1
"Aku ... aku bisa. Tapi, tolong jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan buat aku merasa tidak nyaman lagi dengan kamu. Apa kamu sanggup?"
"Tentu saja aku sanggup. Sangat sanggup malahan. Setuju! Kita mulai lembaran baru sekarang juga," ucap Dirly dengan penuh semangat.