Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*7


__ADS_3

Amelia terdiam sesaat. Benak memikirkan setiap kata yang Anggun ucapkan barusan. Dan ... hati juga pikirannya membenarkan semua itu. Semua kata yang mengatakan kalau dia akan lolos dari perjodohan keluarganya.


"Apa yang kamu katakan itu ada benarnya juga sih, Gun. Cuman ... di mana aku harus dapatkan laki-laki yang cocok buat aku ajak nikah kontrak? Lagipula, jaman sekarang ini, apa ada laki-laki yang mau aku bayar buat jadi pasang nikah kontrak, hm ...?"


Obrolan Amelia dan Anggun itu sejak tadi di dengar oleh kedua karyawan bar tersebut. Salah satu dari dua karyawan itu langsung merasa tertarik untuk mengajukan diri. Kebetulan, dia sedang butuh uang buat menjalani kehidupannya yang sulit.


Laki-laki itu langsung memilih menghampiri Anggun dan Amelia. Meski awalnya sempat di tahan oleh sahabatnya, tapi laki-laki itu memilih tetap maju buat menawarkan diri pada Amelia.


"Permisi mbak-mbak cantik. Boleh aku gabung?" tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Dirly.


Sontak saja, Amelia yang masih mengingat wajah Dirly dengan baik itu, langsung membulatkan mata ketika melihat wajah Dirly. Sementara Dirly, dia juga awalnya kaget saat melihat Amel. Tapi, dia berusaha untuk tetap tenang layaknya tidak terjadi sesuatu di antara mereka berdua.


"Kamu!"


Dirly tersenyum menyeringai pada Amelia.


"Masih ingat aku ya?"


"Tentu saja aku ingat. Kau yang sudah bikin aku kesal pada saat yang sulit. Urusan kita belum selesai ya. Aku akan bikin kamu minta maaf gara-gara sudah menyulitkan aku waktu itu."


"Aduh, mbak. Mohon maafkan aku. Aku gak maksud bikin kamu sulit kok. Tapi ... kek nya, kita sudah impas deh. Aku gak punya hutang lagi sama kamu. Karena kemarin, aku udah bantu kamu m, bukan?"


"Bantu? Bantu apanya? Orang tinggal bilang aja. Semua orang juga bisa kok."


"Lah itu juga namanya ngebantu, mbak. Jika aku gak nunjukin jalan yang benar padamu, maka kamu akan tersesat dalam waktu yang lama, bukan?"


"Aduh ... ini kalian berdua kok langsung berdebat aja pas bertemu."

__ADS_1


Anggun yang sedari tadi diam, tak kuat lagi buat bertahan. Rasa penasaran sudah memenuhi hati juga pikirannya. Untuk itu, dia langsung menjadi penengah saja.


"Amel! Katakan padaku siapa dia! Kau kenal dia sejak kapan sih? Aku yang kenal kamu sungguh dekat sejak lama, tidak tahu kalau kamu kenal dengan laki-laki ini. Jadi sekarang, tolong jelaskan padaku. Jangan bikin aku pusing semakin lama."


"Dengar ocehan dan perdebatan kalian berdua aja udah aku pusing. Lah sekarang, makin pusing lagi karena aku gak ngerti apa-apa tapi malah berada di tengah-tengah kalian."


"Mbak, sahabat kamu ini perempuan yang cukup bawel ternyata. Udah aku tolongin buat menemukan apa yang dia cari. Eh, dia malah gak terima kasih padaku. Tapi malahan, malah menyalahkan aku. Benar-benar deh ya, teman kamu ini, mbak."


"Eh, kamu malah bilang aku bawel. Kamu tuh yang usah bikin aku sulit, tapi gak mau minta maaf. Bantuin. Ngebantuin apanya? Orang tinggal bilang salah doang."


"Lah itu namanya ngebantuin, kan mbak?"


"Aduh .... Stop! Berhenti kalian berdebat sekarang juga. Aku yang pusing, kalian bikin semakin pusing kalo kalian terus berdebat seperti ini."


"Amel! Jelaskan padaku soal laki-laki ini sekarang juga. Jangan bikin kesabaran aku yang tinggal sedikit ini terkuras habis."


"Ya ampun, benar-benar deh kamu ini, mbak. Aku nggak persulit kan kamu kok. Itu juga kemarin aku gak sengaja bikin kamu sulit. Udah impas dong dengan bantuan yang aku berikan."


"Mm ... tapi jika kamu merasa keberatan dengan semua itu. Mungkin kamu merasa masih kesal dengan aku. Aku minta maaf padamu sekarang. Tolong maafkan aku." Dirly berucap dengan nada sangat lembut dengan kedua tangan di taup kan ke dada.


Merasa permintaan maaf yang Dirly ucapkan tulus datang dari hati, Amelia tidak ingin mempermasalahkan semua itu lagi. Karena sebenarnya juga, dia memang tidak merasa kesal sedikitpun dengan Dirly.


Ucapan yang dia keluarkan hanya sebatas ucapan saja. Merasa kalau Dirly suka meladeni apa yang dia ucapkan, maka Amelia juga suka memancing hal itu agar bisa berdebat. Karena perdebatan dengan laki-laki itu membuat hatinya merasa bahagia yang entah kenapa bisa seperti itu, dia juga tidak mengerti.


Amelia tersenyum kecil. Hal itu membuat Dirly terkesima selama beberapa saat. Hingga pada akhirnya dia sadar, kalau dirinya tidak boleh terlalu terbawa susana yang sungguh memukau kan seperti saat ini.


"Kamu tersenyum, mbak. Itu tandanya, aku sudah kamu maafkan. Iyakan?"

__ADS_1


Ucapan itu membuat pipi Amelia merona. Namum, sebisa mungkin dia menutupi apa yang sedang dia rasakan.


"Siapa bilang? Enak aja segampang itu dapat maaf dari aku setelah semua yang kamu lakukan padaku waktu itu."


"Ya Tuhan, mbak. Tolong jangan permasalahkan kesalahan yang telah aku perbuat lagi yah. Karena sebenarnya, aku ke sini tadi akibat mendengar obrolan kalian berdua lho."


"Obrolan kami berdua? Soal apa?" tanya Anggun dengan cepat. Dia bertanya hanya untuk memastikan saja. Kalau laki-laki itu sedang tertarik dengan obrolan mereka soal nikah kontrak yang dia dan Amelia bicarakan barusan.


"Soal nikah kontrak yang kalian bicarakan barusan itu. Kalian sedang mencari orang buat kalian jadikan pasangan bukan? Kalau iya, aku akan menawarkan diri sebagai calon mempelai laki-kakinya. Namun dengan catatan, bayarannya sesuai dengan yang aku minta."


"Benarkah kamu tertarik buat jadi calon pasangan Amelia?" tanya Anggun dengan nada sangat bahagia.


"Hah? Kamu ingin menawarkan diri? Yang benar saja kamu. Siapa yang ingin menikah dengan kamu. Meski pasangan nikah kontrak juga aku gak akan setuju." Amelia berucap dengan nada kesal.


Anggun yang tahu bagaimana sahabatnya, langsung memegang tangan Amelia dengan cepat. Lalu kemudian, dia tersenyum ke arah Dirly dengan senyum nyengir yang dipaksakan.


"He ... tolong jangan dengarkan apa yang Amelia katakan. Dia sebenarnya, memang sedang butuh calon suami ... ya walau buat nikah kontrak. Jika kamu setuju, maka kita akan bicarakan yang lebih serius nantinya. Buat sekarang, biar aku bicara dengan Amelia dulu untuk mencari kesepakatan yang tepat."


"Tapi, Gun .... "


"Kita bicara nanti, Mel."


Dirly tersenyum kecil.


"Ya sudah kalo gitu, kalian panggil aku nanti jika sudah mencapai kesepakatan. Aku ada di sana. Tinggal panggil saja, oke."


"Baiklah. Nanti aku akan cari kamu jika aku sudah selesai bicara dengan Amel ya."

__ADS_1


"Yap."


__ADS_2