Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*24


__ADS_3

Anggun langsung memberikan Amelia tatapan penuh selidik. Sementara yang di tatap hanya diam dengan wajah tenang. Sama sekali tidak ada rasa gugup sedikitpun.


"Aku tiba-tiba mencium aroma masalah pribadi dari kejadian ini, Mel." Anggun berucap dengan tatapan tajam.


Sedikit guncangan dalam hati Amelia. Karena kata-kata yang Anggun ucapkan itu adalah kebenaran yang sesungguhnya sedang terjadi. Namun, dia tetap berusaha tenang. Tidak ingin kalau sahabatnya tahu, lalu ikut campur lagi dalam masalah pribadinya kali ini.


"Gak .... "


Belum sempat Amel menyelesaikan kata-kata yang ingin dia ucapkan. Pintu ruangannya langsung terdengar ketukan dari luar. Sontak saja perhatian mereka berdua langsung teralihkan.


"Masuk!" Amelia berucap tegas sambil membenarkan posisi duduknya.


Orang yang ada di luar langsung menampakkan diri dengan membuka pintu secara cepat. Tapi, tetap memperlihatkan sopan santunnya pada Amelia selaku orang pertama yang menduduki jabatan tertinggi di kantor ini.


"Ada apa, Mas?" tanya Amelia tanpa menunggu lama lagi.


"Ada yang ingin bertemu dengan mbak Amel sekarang juga. Katanya ada yang sangat penting yang ingin dia bicarakan."


"Ada yang ingin bertemu dengan, Amel? Siapa? Perempuan atau laki-laki? Muda atau udah tua?"


Pertanyaan Anggun barusan membuat Amelia langsung mendengus kesal. Bagaimana tidak? Sahabat yang menjabat sebagai asisten sekaligus sekretaris pribadinya itu terlalu berlebihan saat bertanya. Terlalu detail dengan wajah yang penuh semangat pula.

__ADS_1


"Laki-laki, mbak Anggun. Orangnya masih muda kok. Tampan, dan terlalu gagah karena punya kharisma sebagai pemimpin."


Amel yang sedari tadi diam, kini langsung memegang kepala bagian dahinya karena merasa pusing. Sudahlah sekretarisnya memang rada bar-bar. Eh, yang datang bawa info juga malahan sama ikut-ikutan bar-bar seperti Anggun.


"Ah ... benarkah apa yang kamu katakan ini? Aku jadi makin penasaran sama orangnya. Kamu suruh aja dia masuk sekarang! Aku yakin, Amel juga tidak keberatan jika langsung bertemu dengan orang itu."


"Anggun! Aku di sini lho ya. Aku gak bilang gitu padamu."


"Ya Tuhan ... makin lama aku semakin tidak yakin dengan posisi aku di kantor ini. Aku bosnya, atau kamu yang bosnya sih sebenarnya, Gun? Ah ... bikin kesal aja."


Kata-kata itu membuat Anggun langsung nyengir kuda. Untungnya, dia tidak merasa tersinggung dengan kata-kata yang Amelia ucapkan.


"Kamu sok tahu. Tidak tahu apa yang aku rasakan, tapi pura-pura ingin tahu saja."


"Aku tahu kok. Sangat tahu .... "


"Mm ... maaf, mbak Amelia. Mbak Anggun. Kalian kok jadi berdebat sih? Jika kalian terus berdebat, bagaimana dengan nasib orang yang sedang menunggu kabar dari aku di luar sana, mbak?"


"Ah ... ya Tuhan aku jadi lupa," ucap Amelia sambil kembali memegang batang hidungnya.


"Suruh dia langsung masuk ke ruangan aku saja. Jika memang ada yang ingin dia bicarakan, maka dia aku bebaskan bicara di ruangan ini."

__ADS_1


Selesai berucap, Amelia langsung duduk kembali ke kursi kebanggaannya. Sementara Anggun ikut keluar dengan orang yang membawa perintah Amel.


Beberapa saat kemudian, pintu ruangan itu kembali diketuk. Amelia yang sudah menunggu kedatangan orang yang ingin bertemu dengan dia, langsung membuka mulut untuk menyuruh orang tersebut masuk ke dalam.


"Silahkan masuk!"


Suara Amelia yang tenang itu langsung menggerakkan tangan orang yang ada di luar untuk memutar kenop pintu agar pintu tersebut terbuka. Dari balik pintu yang terbuka, langsung muncul satu sosok yang sangat tidak asing lagi buat Amelia. Sontak saja, Amelia langsung bangun dari duduknya karena melihat orang yang kini berjalan semakin mendekat menuju meja tempat dia berada.


"Selamat pagi, nona Amelia."


"Untuk apa lagi kamu datang ke sini? Kenapa datang ke kantorku? Mau bicara soal apa? Pekerjaan? Tapi rasa, kita tidak ada urusan pekerjaan yang perlu dibicarakan, bukan?"


"Sambutan yang luar biasa, Nona. Aku datang untuk minta maaf padamu karena kamu pulang dengan mendadak kemarin. Aku .... "


Amelia langsung mengangkat tangan untuk menahan ucapan selanjutnya dari laki-laki yang


ada di hadapannya saat ini.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, pak Dirly. Apalagi kalau kamu sampai mau minta maaf padaku. Maka sangat tidak perlu sedikitpun. Karena antara aku dan kamu, tidak ada masalah sama sekali."


"Jika tidak ada masalah, kenapa kamu harus menghindar dari aku kemarin, Amelia? Kenapa kita tidak langsung melakukan kerja sama saja, ha? Kamu sudah datang jauh-jauh, tapi malah langsung membatalkan niat kamu untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan aku. Bukankah itu karena antara kita ada masalah, bukan?"

__ADS_1


__ADS_2