
"Tapi tunggu! Mama bilang kalau tuan muda keluarga Prayoga sedang tidak berada di keluarganya. Dia kabur karena tidak ingin dijodohkan dengan aku. Apa .... "
Amelia langsung menatap Anggun dengan tatapan penuh tanda tanya. Bagaimana tidak? Yang ada dalam pikirannya saat ini adalah, Anggun tahu di mana keberadaan Dion. Dion lari dari keluarganya karena Dion gak ingin menikah dengan dia. Karena Dion suka dengan Anggun, dan ingin menikah dengan Anggun.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu, Mel? Aku sama sekali tidak tahu apa-apa soal Dion yang kabur. Tahu Dion kabur aja baru dari kamu ini. Soalnya, aku masih kontak-kontak sama Dion tadi malam. Gak tahu pun kalo dia udah kabur."
"Hah? Masa sih? Dia gak bilang kalo dia kabur. Jangan-jangan, dia kabur karena kamu lagi, Gun. Dia suka kamu, maka dari itu dia kabur."
"Ah, masa sih? Tapi aku rasa nggak begitu ceritanya. Ah, iya udah deh. Nanti aku tanya sama dia soal itu."
"Oh iya, bagaimana soal pertemuan kamu dengan Dirly kemarin? Semuanya berjalan sesuai rencana, kan Mel?"
"Kamu sih, udah ketemuan ama dia main langsung pulang aja. Gak balik lagi ke kantor buat cerita. Aku kan jadinya sangat penasaran. Mana malamnya gak balas chat dari aku lagi. Kan bikin sebel aja deh kamu ini."
Amelia menarik napas panjang. Lalu melepaskan napas itu secara kasar.
"Huh ... bisa gak ngerocos mulu gak sih mbak Anggun Wijaya yang ramah tamah, baik hati, dan suka menabung? Aku mau jawab apa yabg kamu tanyakan itu jadi bingung banget tahu gak?"
"Iya-iya. Maafkan aku kalo gitu. Habisnya, aku merasa sangat penasaran dengan cerita kamu. Maka dari itu, aku nanya panjang lebar."
"Aku gak bertemu dengan Dirly lagi. Dia gak datang kemarin. Gak tahu ke mana perginya dia. Main ngilang gitu aja setelah aku kasi uang yang dia inginkan."
"Ya Tuhan ... jangan-jangan dia bohongin kamu, Mel. Dia bawa kabur uang kamu satu milyar itu buat foya-foya sama wanita lain. Kan, gak ada perjanjian juga gak akan terikat kontrak pernikahan jika bersenang-senang dengan wanita lain."
__ADS_1
"Entahlah. Aku tidak ingin berpikiran buruk dulu tentang dia. Lagian, baru juga gak datang satu hari, kan? Jadi aku masih mikir yang positif tentang dia."
"Ya meskipun hati ini sejujurnya sangat kesal dan marah akibat dia bohongin aku kemarin."
Amelia berucap lagi sambil menyandarkan tubuhnya di kursi empuk kesayangan dia di kantor ini.
"Aku tahu siapa kamu, Mel. Kebohongan sekecil apapun pasti akan terasa besar buat kamu. Dan itu sangat menganggu dan akan merusak kepercayaan yang kamu miliki. Aku sangat berharap kalau Dirly punya alasan yang sangat tepat sehingga dia mampu menutupi kesalahan yang telah dia perbuat."
"Semoga saja."
Obrolan mereka terus berlanjut sampai akhirnya, papa Amelia datang ke ruangan tersebut. Anggun yang kaget, langsung kabur setelah melihat kedatangan si bos besar perusahaan ini.
Sementara Amelia. Ya dia tetap santai. Namanya juga papa kandung sendiri. Meski bos, tetap saja tidak akab membuat dia merasa segan, apa lagi takut.
Kedatangan sang papa ke ruangan Amelia ternyata hanya ingin mengingatkan Amelia soal jamuan makan malam keluarga nanti malam saja. Tidak ada bicara hal lain selain hal itu. Karena setelah mengingatkan Amelia soal jamuan tersebut, sang papa langsung meninggalkan ruangan Amelia kembali.
Seperti yang sudah dijanjikan. Keluarga Prayoga datang bertamu ke rumah keluarga Sutomo tepat jam pada waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.
'Memang keluarga yang sangat ketat ternyata mereka. Datang tepat pada waktunya,' ucap Amelia dalam hati sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya ketika mendengar bunyi mobil yang memasuki halaman rumah mereka.
Amelia kaget ketika melihat Dion juga hadir bersama keluarga tersebut. Sontak, perasaan kacau menghampiri hati Amelia sekarang. Rasa takut akan perjodohan kembali dibicarakan, kini menguasai hati dan pikiran Amelia sekarang.
Hal itu membuat wajah Amelia terlihat dangat gelisah. Namun, sebisa mungkin Amelia terlihat tenang agar tidak merusak semuanya. Karena jika dia memberikan kesan buruk, yang malu bukan hanya dia. Tapi ... kedua orang tua, juga kakeknya yang sekarang sudah sangat tua.
__ADS_1
Sambutan ramah dari keluarga Amelia membuat wajah bahagia terpancar dengan sangat jelas. Keluarga Prayoga yang terkenal dalam dunia bisnis itupun seperti sangat menghargai keluarga Sutomo.
Setelah selesai makan malam dengan penuh kehangatan. Mereka langsung melanjutkan obrolan hangat ke ruang keluarga. Amelia dan Dion hanya diam saja mendengarkan obrolan para orang tua.
"Mm ... kalian berdua sepertinya tidak cocok berada di sini. Apa tidak sebaiknya, kalian berdua pergi ke taman atau tempat lain saja," ucap kakek Dion sambil tersenyum.
"Iya tuh. Apa yang kakek kamu katakan benar adanya, Dion. Amel, ajak Dion jalan-jalan ke taman gih. Gak perlu ada di sini. Ini obrolan orang tua." Kakek Amelia pun membenarkan apa yang temannya ucapkan.
"Ee .... " Amelia terlihat keberatan dengan perintah itu. Sejujurnya, itu perintah yang terasa seperti sinyal untuk mendekatkan mereka berdua.
Ingin membantah, tapi tidak bisa. Amelia benar-benar berada dalam situasi yang cukup sulit saat ini.
"Mel. Tunggu apa lagi sih? Ajak nak Dion pergi ke taman. Kalian bisa ngobrol layaknya orang muda di sana. Biar di sini, kami yang bicara." Mamanya juga ikut serta.
Tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang para orang tua katakan. Amelia hanya bisa pasrah sambil mempertahankan wajah manis yang seakan ingin sekali runtuh akibat sinyal perjodohan yang baru saja dia dapatkan.
"Silahkan, tuan muda ikut saya ke taman." Amelia terdengar bicara sebaik mungkin dengan kata-kata yang terlalu hati-hati. Sampai-sampai, kata-kata itu membuat para tetua, terutama kakek Dion merasa cukup geli mendengarkannya.
"Ha ha ha .... Kenapa begitu formal anak manis? Kamu bicara dengan Dion, bukan dengan rekan bisnis sekarang."
"Ya Tuhan, Hendra. Kau terlalu ketat dalam mendidik cucumu. Maniak kerja sih kamu ini. Jadinya, nular sampai ke cucumu," ucap kakek Dion sambil menahan tawa.
"Kau ini .... Dirimu yang terlalu keras mendidik cucu. Eh, malah membalikkan semua fakta itu padaku. Bisa-bisanya kamu ini ya," ucap kakek Amelia pula.
__ADS_1
Tidak bisa Amelia pahami apa yang sedang dua orang tetua itu bicarakan. Yang jelas, kedekatan kedua keluarga sangat tidak baik buat dirinya selaku cucu satu-satunya keluarga Sutomo.
Setelah menjadi bahan tertawaan para tetua. Akhirnya, Amelia berhasil keluar dari lubang sempit yang membuat dadanya terasa sesak karena tidak bisa bernapas dengan baik. Yah, meskipun sekarang beban yang dia pikul masih ada. Tapi setidaknya, itu lebih baik dari tetap tinggal dan mendengarkan obrolan hangat para orang tua di ruang keluarga.