Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*21


__ADS_3

"Jangan sok tahu kamu, Die. Aku bosan dengan semua yang kamu katakan. Kamu seperti orang yang ahli dalam cinta. Padahal kenyataanya, kamu pernah jatuh cinta saja tidak satu kali pun."


"Apa yang pak bos bicarakan itu salah besar sih sebenarnya. Aku bukan tidak pernah jatuh cinta satu kali pun. Hanya saja ... aku tidak pernah mendapatkan orang yang aku cintai satu kali pun."


"Tapi, karena hal itu aku tidak pernah putus asa. Jika tidak mendapatkan orang yang kita cintai sebelumnya, maka kita harus berjuang lagi dengan orang yang berbeda. Karena jodoh pasti bersama, pak bos."


Ucapan Diego barusan membuat Dirly terdiam. Mencoba mencerna satu persatu setiap kata yang asisten pribadi itu ucapkan membuat hatinya merasa malu akan semangat yang si asisten miliki.


Sekaligus, hati dan juga pikiran Dirly langsung setuju dengan membenarkan apa yang Diego katakan barusan. Jodoh, pasti bersama bagaimanapun caranya.


Seketika, kata-kata itu membuat Dirly tersenyum. Kata-kata itu bak cahaya dalam kegelapan yang membuat dirinya bangkit dari keterpurukan akibat patah semangat.


'Iya. Apa yang kamu katakan itu benar, Die. Jika jodoh, pasti bersama. Maka dari itu, aku harus berjuang lagi sekarang. Berusaha mendapatkan jodohku jika memang benar dia orangnya.'


Setelah memikirkan hal itu, Dirly langsung beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Diego yang penasaran hanya bisa mengikuti langkah bos mudanya tanpa bertanya. Karena dia tahu, Dirly pasti akan mengejar orang yang baru saja membuat dia anggap sebagai jodoh yang harus di perjuangkan.


Sementara itu, Amelia yang merasa sangat kecewa dengan apa yang baru saja dia alami, memilih langsung membeli tiket pesawat untuk kembali ke tanah air. Dia akan kembali sekarang juga karena tidak ingin berlama-lama di luar negeri setelah tahu siapa ceo perusahaan tersebut.

__ADS_1


Entah apa yang dia pikirkan sebenarnya. Baru kali ini dia mendadak jadi orang yang sangat berbeda dari Amelia yang biasanya. Karena Amelia yang biasanya itu tidak akan mau menggabungkan urusan pribadi dengan pekerjaan.


Lah dirinya yang sekarang malah sangat bertolak belakang. Hanya gara-gara kesalahan pribadi antara dirinya dengan bos perusahaan tersebut dia langsung tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang sudah ternama itu.


Benar-benar Amelia yang berbeda.


Amelia pun sudah siap untuk keluar dari hotel yang dia tempati sebelumnya. Saat dia keluar dari hotel tersebut, Dirly baru tiba ke halaman hotel. Hanya berjarak hitungan menit saja. Sayang, Dirly terlambat.


Karena tiket pesawat yang akan membawa Amelia kembali berangkat sebentar lagi, maka Amelia langsung meminta sopir taksi yang dia tumpangi bergegas menuju bandara. Saat Dirly tiba di bandara, lagi-lagi dia terlambat hanya dalam hitungan menit saja. Pesawat yang Amelia tumpangi juga sudah berangkat.


"Agggh! Sial ... sial-sial sekali. Kenapa aku selalu kalah cepat sih!" Dirly terlihat begitu kesal sambil menggenggam erat tangannya.


Dirly langsung melirik Diego sekilas. Lirikan maut dengan tatapan tajam membuat Diego merasa seperti berhadapan dengan binatang buas saja. Namun, sepertinya, apa yang dia katakan barusan dianggap benar oleh Dirly. Karena detik berikutnya, Dirly langsung beranjak menuju ke arah mobil mereka kembali.


"Apa yang kamu katakan ada benarnya, Die. Aku mungkin memang harus kembali sekarang. Mungkin ini sudah tiba saatnya aku pulang ke tanah air."


"Nah ... iya pak bos. Ini memang saatnya pak bos pulang ke tanah air. Dan aku .... "

__ADS_1


"Kamu tetap di sini untuk menjalankan tugasmu menggantikan aku."


"Lho ... kok aku gak ikut pulang, pak bos Dirly?" tanya Diego dengan perasaan kecewa.


"Tentu saja kamu tidak akan ikut pulang. Karena jika kamu ikut pulang, maka siapa yang akan mengurus perusahaan aku di sini? Kita tidak bisa pulang bersama-sama. Tapi aku janji, jika aku sudah berhasil mendapatkan apa yang aku kejar di tanah air, maka kamu akan aku berikan libur panjang selama satu bulan."


"Hah? Benarkah apa yang pak bos katakan barusan? Benarkah janji itu, pak bos?" Kali ini, Diego bertanya dengan perasaan yang sangat bahagia dan penuh harap.


"Tentu saja itu benar. Aku mana mungkin bohong. Jangan pernah berpikir kalau aku sama seperti yang Amelia bicarakan. Itu semua hanya salah paham. Tapi Amel tidak ingin mendengarkan apa yang akan aku jelaskan. Sungguh membuat aku merasa sedih dengan semua ini."


Kini giliran Dirly yang berucap dengan nada kecewa. Dia juga memasang wajah yang sangat sedih dihadapan Diego. Wajah yang selama ini tidak pernah Die lihat sedikitpun.


"Mm ... jangan bersedih, pak bos. Jangan pikirkan apa yang nona Ceo cantik itu katakan tadi. Karena seperti yang pak bos katakan tadi, bukan? Dia hanya salah paham. Tugas pak bos hanya harus meyakinkan dia kalau pak bos tidak sama dengan yang dia pikirkan."


Dirly kembali memperlihatkan wajah bahagianya. "Kau benar Die. Terima kasih atas semuanya. Kau akan berikan kamu bonus jika semua yang aku kejar telah berhasil."


"Tidak perlu berterima kasih padaku, pak bos. Cukup ingat dengan janji-janji yang pak bos buat saja. Maka aku akan sangat merasa bahagia."

__ADS_1


"Dasar kamu ... tentu saja aku akan ingat. Kamu tenang saja. Doakan saja aku berhasil. Maka semua yang aku janjikan padamu akan aku berikan."


"Doaku bersamamu, pak bos."


__ADS_2