
Dion setuju dengan apa yang Amel katakan. Dia pun pergi meninggalkan Amelia dan Anggun yang sedang sangat bingung tentunya.
"Mel, kencan apaan itu barusan? Main akhiri-akhiri begitu saja. Kamu gak mikir apa? Gimana aku yang susah payah buat merencanakan semua ini?"
"Kamu ini ... ah, bikin kesal aku aja. Jikapun gak suka, ya pikirin aku juga dong. Setidaknya, hargai aku yang udah capek-capek buat mempertemukan kalian berdua."
Amelia dapat omelan habis-habisan dari Anggun setelah Dion pergi. Sementara yang ngomel terlihat cukup kesal, yang dapat omelan malah asik senyum-senyum sendiri. Hal itu sontak saja bikin Anggun semakin naik pitam dan bertambah emosi.
"Ya Tuhan, Mel .... Kamu dengar gak sih apa yabg aku katakan? Aneh ah, malah senyum-senyum sendiri. Bahagia banget kamu barusan gara-gara bisa menyakiti aku? Iya?"
"Eh, ngomong apa sih kamu, Gun? Aku gak bahagia soal rencana kamu yang rusak. Tapi bahagia ... ah, lupakan saja."
"Oh iya, aku rasa ... antara aku dan dia itu sangat gak cocok deh, Gun. Kamu kan tahu bagaimana tipe cowok yang aku sukai. Cowok yang selalu humoris, gak dingin, dan yang paling penting, itu gak cuek seperti tuan muda Prayoga barusan."
"Ya kamu baru kenal dia sekali. Mungkin dia emang bersikap seperti itu karena kamu dan dia baru pertama bertemu. Mungkin jika sudah kenal dekat, dia akan bersikap lebih baik dari yang tadi."
"Mungkin sih. Tapi, aku telanjur gak suka sama dia. Kesan pertemuan pertama yang sudah dia rusak kan. Gak enak banget buat melanjutkan ke pertemuan kedua, Gun."
"Tapi, Mel ... bagaimana jika kamu gak ketemu dengan calon suami nanti? Toh kamu mau tidak mau juga akan menikah dan hidup bersama dengan tuan muda yang cuek itu."
Mendengar kata itu, Amelia jadi semakin galau. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan selama beberapa detik.
"Oh ... ya ampun. Gimana ini, Gun? Tolong aku pikirkan caranya agar aku punya calon cadangan lain. Aku beneran gak mau sama dia, sumpah. Bikin gak mood banget tau gak sih? Jangankan menjalaninya, mikirnya aja aku gak bersemangat. Seakan runtuh hatiku ini."
__ADS_1
"Lebai banget kamu kalo ngomong. Udah aku bantuin, tapi kamu malah gak menghargai. Apes di aku kalo gitu."
"Eh, siapa yang tidak menghargai kamu. Duh ... tolongin aku yah. Waktunya tinggal tiga minggu lagi ini."
"Ya udah, deketin lagi aja tuh tuan muda Prayoga. Siapa tahu akan ada keajaiban buat hati kamu yang lebai itu."
"Anggun .... "
Amelia kesal. Tapi, mau tidak mau dia tetap mendengarkan dan mencoba melakukan apa yang sahabatnya katakan. Mendekati Dion lagi dan lagi dengan pertemuan seperti makan dan nonton bersama beberapa kali.
Sayangnya, semakin dia berusaha buat dekat, hatinya semakin tidak tertarik dengan laki-laki itu. Waktu yang dia habiskan pun terasa terbuang sia-sia.
Malam ini, karena begitu pusing akibat waktu taruhan hanya tinggal menghitung hari saja, dia akhirnya pergi ke klab malam. Klab malam pusat kota yang terdapat banyak pengunjung setiap malamnya.
Datang ke klab malam, tapi tidak memesan minuman beralkohol, itu adalah ciri-ciri Amelia dan Anggun. Mereka akan berdiam diri di sana selama beberapa jam dengan di temani jus atau minuman non alkohol lainnya. Yang jelas, Amelia tidak pernah menyentuh minuman itu selama dia hidup.
"Gun, aku sudah tidak tahu lagi cara apa yang harus aku tempuh. Perjanjian taruhan dengan mama dan papa itu hanya tinggal tiga hari saja lagi. Ya ampun ... serasa pecah kepala ini jika aku pikirkan semua itu."
Keduanya sama-sama terdiam setelah ucapan Amelia barusan. Sambil terus memutar gelas jus yang masih berisi setengah, Anggun tiba-tiba melirik Amel. Sepertinya, ada ide yang muncul dalam benaknya. Namun, wajah ragu jelas terlihat sekarang.
"Mel. Sebenarnya, aku punya satu cara yang bisa menolong kamu. Tapi gak tahu kamu setuju atau tidak."
"Katakan saja jika kamu punya cara. Yang jelas sekarang, aku sungguh tidak ingin menikah dengan tuan muda Prayoga itu bagaimanapun caranya."
__ADS_1
"Kau yakin akan terima saran yang aku berikan untuk yang ke sekian kalinya setelah cara yang lain gagal total?"
"Tentu saja aku yakin. Tapi ... katakan dulu apa ide yang kamu punya. Jika memang aku bisa pakai, maka aku akan pakai cara kamu itu meski terdengar mungkin tidak masuk akan. Karena yang paling penting sekarang adalah, aku tidak ingin dijodohkan."
"Baiklah kalau begitu. Kalau itu yang kamu katakan, aku akan katakan ide yang aku punya. Karena terlalu susah untuk menemukan calon suami yang pas dengan pilihan hati kamu, bagaimana kalau kamu kawin kontrak saja."
"Hah? Kawin kontrak?" Amelia berucap dengan nada yang tinggi.
Membuat beberapa pasang mata yang mendengar sontak menjadikan mereka pusat perhatian. Untungnya tidak lama. Karena detik berikutnya, mata-mata itu langsung tidak ingin peduli lagi dengan Amelia dan Anggun.
"Huh ... bisakah kalau ingin bicara pikirkan dulu kamu sedang ada di mana nona muda?" Anggun berucap dengan nada lega sambil mengelus dadanya.
"Hampir saja aku pingsan akibat kata-kata yang kamu ucapkan. Aku sih awalnya baik-baik saja. Tapi tatapan orang-orang itu bikin aku tidak bisa bernapas saja."
"Ih ... terlalu berlebihan kamu, Gun. Baru aja jadi pusat perhatian selama beberapa detik aja udah sibuk kamu. Belum juga jadi pusat perhatian selamanya. Mungkin .... "
"Oh, tidak-tidak. Aku sungguh tidak ingin jadi pusat perhatian. Maka dari itu, jangan bicara tentang hal itu lagi. Jagan bikin dada ini merasa takut, Amelia."
"Kembali ke pokok pembicaraan kita sebelumnya, Amelia. Bagaimana? Apa kamu setuju dengan gagasan yang aku berikan. Kawin kontrak dengan salah satu cowok. Maka kamu akan aman dari perjodohan orang tuamu."
"Ya ampun, kamu semakin mengada-ada, Gun. Kemarin kamu minta aku deketin calon suami yang mama dan papa pilihkan. Lah sekarang, kamu minta aku kawin kontak. Ya Tuhan ... apa salah aku dengan dunia ini?"
"Hei ... dengarkan aku. Katanya, kamu ingin lolos dari jeratan perjodohan. Ya cara ini yang paling aman. Selain kamu tidak tidak perlu memikirkan calon suami pilihan, jadi kamu juga akan aman dari tuntutan orang tua yang meminta kamu menikah. Bagaimana?"
__ADS_1
Amelia terdiam sesaat. Benak memikirkan setiap kata yang Anggun ucapkan barusan. Dan ... hati juga pikirannya membenarkan semua itu. Semua kata yang mengatakan kalau dia akan lolos dari perjodohan keluarganya.