Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*30


__ADS_3

Amelia berada di kamarnya. Duduk di atas ranjang sambil memikirkan apa yang sudah dia lewati tadi siang. Tanpa melepaskan tatapan dari cincin yang masih terselip di jari manis tentunya.


"Aduh ... apa yang aku pikirkan sih tadi siang? Kenapa aku malah main terima langsung aja lamaran mendadak dari Dirly? Benar-benar gak habis pikir aku dengan diri ini. Aagggh .... "


Amel ngomel pada dirinya sendiri sambil mengacak-acak pelan rambut panjang miliknya yang dia biarkan lepas dari ikat rambut yang dia pakai. Setelah mengacak-acak rambut, dia langsung bangun dari duduknya. Turun dari ranjang, lalu berjalan munda-mandir di kamar itu dengan wajah cemas dan gelisah.


"Aduh ... apa yang harus aku lakukan sekarang? Masa aku main terima lamaran mendadak dari Dirly begitu saja."


"Tuhan ... apa yang aku pikirkan saat aku tera lamaran Dirly tadi ya? Bisa-bisanya aku terima lamaran laki-laki itu tanpa tahu siapa dia yang sesungguhnya. Juga tidak tahu siapa keluarga laki-laki itu, juga bagaimana kehidupan dia selama ini."


"Agh ... sekarang aku harus apa? Masa aku harus membatalkan apa yang sudah aku terima begitu saja tanpa ada alasan yang jelas. Perempuan seperti apa aku kalau aku melakukan hal itu?"


Belum juga menemukan titik terang dari masalah yang sedang dia hadapi, tiba-tiba saja terdengar ketukan di pintu kamarnya. Sontak saja, pikiran Amelia teralihkan karena hal itu.


"Iya. Tunggu sebentar," ucap Amel sambil berjalan menuju pintu.


Saat pintu terbuka, Amelia melihat mamanya yang ada di depan pintu tersebut. Dia menaikkan satu alis karena pemandangan itu.


"Mama."


"Mel, ayo cepat ganti baju! Ada tamu yang ingin bertemu dengan kamu."

__ADS_1


"Hah? Tamu yang ingin bertemu aku? Siapa? Kenapa harus ganti baju segala?"


"Ah, lama jika harus mama jelaskan. Yang penting, ikuti saja apa yang mama katakan. Ganti baju sekarang juga, atau kamu langsung datang ke ruang tamu untuk bertemu dengan tamunya."


"Tapi ... jika harus bertemu dengan tamu dengan pakaian ini ... mama rasa tidak cocok deh," ucap mamanya lagi sambil memperhatikan Amelia dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Ya Tuhan, Ma. Siapa sih yang harus aku temui? Aku rasa, pakaian ini sudah cukup pantas kok buat bertemu dengan orang. Karena .... "


"Amelia sayang .... Ya ampun. Maafkan aku Tuhan. Kamu itu anak mama satu-satunya. Anak keluarga ternama. Ceo di perusahaan terkenal. Masa iya mau ketemu orang dengan pakai pakaian rumahan kek gini sih? Gak sopan tahu gak?"


"Ma ... siapa yang mikir gak sopan sih? Aku masih berpakaian yang layak kok. Masih .... "


"Maaf, nyonya, nona Amel. Tuan memanggil nyonya dan nona agar segera keruang tamu."


"Ya Tuhan ... sudah mama katakan kalau kita harus bergegas. Kamu sih malah ajak mama ngobrol. Coba aja kamu ganti baju sejak pertama mama panggilkan. Pasti udah selesai sekarang."


"Ya udah kalo gitu. Ke ruang tamu sekarang aja," ucap Amelia sambil beranjak.


Tidak bisa bicara apa-apa selain mengikuti apa yang anaknya katakan. Mama Amelia hanya bisa mendengus untuk menghilangkan perasaan kesal yang ada dalam hatinya.


Saat Amelia tiba di ruang tamu. Betapa kagetnya dia ketika melihat tamu yang ada di ruangan tersebut. Itu adalah keluarga Prayoga. Datang dengan anggota keluarga yang utuh seperti sebelumnya.

__ADS_1


Ada kakek, kedua orang tua Dion, juga Dion yang pastinya. Mereka sontak menatap Amelia yang baru saja datang ke ruangan tersebut.


Amelia yang sedang menggunakan stelan piyama tangan panjang juga celana panjang tersebut memang agak tidak sopan. Tapi, itu terlihat sangat lucu di mata Dion juga yang lainnya.


Amel seperti gadis remaja dengan stelan piyama berwana hijau tua tersebut. Di tambah, bandana pita berwarna senada dengan baju yang dia kenakan. Rambut panjang tergerai yang sedikit berantakan. Dia sangat persis anak remaja yang baru menginjak bangku sekolah menengah atas.


Di antara tatapan kagum itu, Dion yang paling kuat merasakannya. Sangking kuat, dia tidak bisa berkedip karena melihat tampilan Amelia yang begitu lucu dan menggemaskan.


Suasana ruang tamu yang hening membuat papa Amelia segera berpikir untuk mencairkan suasana kembali.


"Ee ... tuan besar, maafkan Amelia yang datang dengan pakaian rumah ini. Dia sungguh tidak tahu kalau kalian akan datang."


"Iya, tuan besar. Rencananya, Amel juga ingin siap-siap tadi Tapi, gak ingin buat kalian menunggu terlalu lama." Mama Amelia ikut bicara.


"Ah, gak papa kok. Pakaian atau tampilan Amelia saat ini itu tidak ada masalah buat kami. Lagipula, dia terlihat sangat cantik dengan tampilan itu," ucap kakek Dion sambil tersenyum.


"Iya. Apa yang papa katakan itu benar. Amelia sangat cantik, seperti gadis remaja saja. Aku yang baru pernah melihat dia dengan tampilan seperti ini sampai pangling dibuatnya." Papa Dion pula berucap.


"Uh ... bagaimana jika anak kami melihat dia dengan penampilan ini ya? Pasti .... "


"Maaf aku sudah membuat kalian menunggu lama," ucap sebuah suara dari arah pintu utama yang tak jauh dari ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2