Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*17


__ADS_3

"Tapi itu akan membuat dia kehilangan cucuku buat selama-lamanya. Karena aku juga tidak akan membiarkan cucunya yang jahat itu datang untuk menikah dengan cucuku lagi nantinya. Enak saja dia mau menikahi Amelia setelah dia bersenang-senang dengan perempuan lain."


Ucapan sang kakek barusan membuat Amel sedikit bahagia. Sebenarnya, antara bahagia dengan kesal juga yang Amel rasakan. Bagaimana tidak? Kakeknya ternyata ingin menggantikan Dion untuk menikahi dia setelah tuan muda yang sah pergi.


Tapi, untunglah takdir masih berpihak pada Amelia saat ini. Karena kakek Damar selalu tetua yang paling berkuasa di keluarga Prayoga tidak setuju dengan usulan itu.


Kini, Amelia bisa bernapas dengan tenang karena semua berjalan seperti yang dia inginkan. Perjodohan gagal, dan ... pernikahan kontrak yang ingin dia lakukan juga gagal karena Dirly hilang lenyap tanpa kabar sedikitpun.


_____


Waktu sangat cepat berjalan. Perjodohan telah pun sirna, karena sekarang, sudah pun lewat dari satu tahun. Amelia masih sama seperti dulu. Masih sibuk dengan pekerjaan sebagai pewaris perusahan Sutomo satu-satunya.


Dengan di dampingi papanya, Amelia sekarang sudah menjabat sebagai ceo perusahan keluarga. Sedangkan kakeknya, orang tua itu telah melepas tanggung jawab sebagai pemimpin pada anak satu-satunya. Yaitu, papa Amelia.


Kedekatan Amelia dengan Dion terbilang hanya sebatas cukup dekat saja. Mereka memang seperti adik dan kakak. Sering bertemu jika punya waktu luang. Tapi tidak ada cinta diantara keduanya.


Karena Amelia sadar, yang sedang mencintai Dion itu adalah Anggun sahabatnya. Dan bahkan sepertinya, Dion juga menaruh perasaan yang sama. Hanya saja, masih belum dia ungkapkan pada Anggun saat ini.


Mungkin, semua itu karena Dion tahu, kalau dia tidak akan pernah bisa memiliki Amel. Karena ada kakek yang akan menentang keinginannya itu. Meski adik angkatnya tidak menikah dengan Amel, tetap saja, orang tua itu keras kepala dan tidak bersedia Dion menggantikan posisi cucu kandungnya untuk mendekati Amelia.


Karena hal itulah, Dion mencoba melabuhkan hati pada orang lain. Dengan begitu, rasa yang dia punya untuk Amelia akan mampu dia kuasai. Bahkan dia hilangkan walau hanya secara perlahan.

__ADS_1


Sementara Anggun yang sekarang sudah menjabat sebagai asisten pribadi Amelia, tentu saja semakin punya kedudukan yang baik. Meskipun keluarga Anggun masih sama seperti dulu, tapi tetap saja, namanya sudah terkenal sebagai orang ternama di dunia orang kaya.


Meskipun sangat sibuk. Tapi persahabatan keduanya masih sama seperti dulu. Masih tetap bersahabat dan tidak ada yang berubah sedikitpun. Anggun masih Anggun yang dulu. Yang selalu menjaga dan sangat tahu apa yang sahabatnya butuhkan.


Sementara Amelia yang kini semakin dewasa juga semakin mapan, sepertinya sudah semakin terlihat anggun dan berwibawa. Namanya cukup terkenal di kalangan para pembisnis.


Ceo muda yang punya bakat luar biasa. Selalu memenangkan setiap rapat tender dengan proyek yang besar. Semua lawan mampu dia singkirkan dengan mudah karena bakat yang dia punya. Karena itulah nama Amelia terkenal di mana-mana. Teruntuk, dunia bisnis kelas atas umunya.


Keberhasilan itu tentunya tidak dia raih sendiri. Ada papa juga sahabat yang selalu mendukung juga menyokong di setiap langkah Amelia. Seperti saat ini, mereka bertiga sedang membahas soal proyek besar dari luar negeri.


Proyek itu katanya, dipimpin oleh ceo muda yang juga tak kalah hebat dari Amelia. Namun, dia terkenal sangat sulit untuk di tangani. Siapa yang bisa bekerja sama dengan mereka, itu tandanya, perusahaan itu memang sangat luar biasa menurut ceo muda tersebut.


"Ya yakinlah, Mel. Kamu gak bisa membayangkan apa seperti apa perusahaan kita nantinya. Jika kita bisa bekerja sama dengan perusahaan itu, maka kita akan ikut terkenal di manca negara, sayang."


"Apa yang papa kamu katakan itu benar lho, Mel. Kita akan terkenal di manca negara. Aku yakin, tidak akan sulit buat kita memasuki perusahaan tersebut. Karena nama perusahaan kita sudah sangat baik di sini. Di tanah air ini, bukan?"


Amelia mendengus pelan. Dia yang awalnya duduk manis sambil memainkan pulpen, sekarang memilih berdiri dan berjalan menuju jendela ruangan tersebut.


"Tapi aku merasa tidak yakin untuk maju, Pa, Gun. Karena perusahaan itu sudah banyak menolak kerja sama dengan perusahaan tanah air yang juga terkenal lainnya."


"Lho, ibu ceo kok udah minder duluan sebelum mencoba. Papa gak yakin deh kalo ini Amelia anak papa. Karena Amelia itu biasanya selalu optimis dan tidak gampang menyerah seperti saat sekarang ini."

__ADS_1


"Ini bukan soal optimis atau gampang menyerah, papa. Hanya saja, aku merasa tidak enak hati. Perusahaan luar negeri itu, kita tidak tahu seperti apa mereka. Bagaimana keadaan mereka, juga seperti apa penyokong di belakang mereka. Jadi, apakah tidak sebaiknya kita tidak ikut campur dengan mereka, pa.?"


"Amelia. Pikirkan satu hal yang luar biasa, Nak. Jika kita mampu bekerja sama dengan perusahaan itu, maka nama perusahaan kita akan terkenal di luar negara. Juga akan sangat terkenal di dalam negeri. Pikirkanlah hal itu, nak."


Amelia sepertinya tidak punya cara untuk menolak. Ambisi sang papa yang sangat besar membuat dia kalah. Bukan kalah karena tidak bisa melawan sang papa akibat terlalu gigih untuk menjalankan ambisi. Tapi, kalah karena rasa kasihan yang Amelia miliki buat papanya.


Amel menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskan napas itu secara perlahan. Selanjutnya, dia memilih kembali duduk ke kursi yang dia tinggalkan beberapa saat yang lalu.


"Baiklah kalau itu yang papa inginkan. Aku akan mencoba menghubungi perusahaan itu untuk bekerja sama. Semoga hasilnya tidak mengecewakan. Tapi papa harus ingat satu hal. Aku tidak akan melakukan kontrak kerja sama dengan perusahaan itu jika aku merasa tidak cocok. Papa tahu siapa aku, bukan?"


"Papa tahu siapa kamu, anak papa satu-satunya. Semoga perusahaan itu tidak membuat hati putri papa tidak suka ya."


Setelah berucap kata-kata itu, papa Amelia langsung pamit untuk meninggalkan ruangan Amelia. Kini, yang tinggal hanya Amelia dan Anggun saja sekarang.


Mereka berdua saling lirik untuk sesaat. Anggun yang mengerti bagaimana perasaan sahabatnya saat ini, mencoba menenangkan hati si sahabat dengan cara mengalihkan pikiran sahabatnya dari apa yang baru saja mereka bahas.


"Mel, makan siang bareng yuk! Ajak kak Dion juga. Mau gak?"


"Nggak ah. Males banget aku buat makan siang bertiga dengan kalian. Bukannya makan enak nanti, tapi malahan gak jadi makan karena napsu makan aku tiba-tiba menghilang."


"Lah ... kok malah ngomong gitu sih? Apa salahnya makan bertiga? Aku rasa, gak ada salahnya deh. Malahan, itu akan menambah keasikan."

__ADS_1


__ADS_2