
"Huh .... Jika itu cara terbaik yang kamu punya. Aku bisa apa, Dirly?" Dedy berucap setelah lama dia memikirkan nasib sahabatnya ini.
"Kamu emang gak bisa apa-apa, Ded. Orang kamu itu sama saja seperti aku sekarang. Hidup pas-pasan. Kerja cuma buat cari makan aja susah," ucap Dirly dengan nada lemah.
Tidak bermaksud menghina. Tapi itulah kenyataan yang sedang sama-sama mereka hadapi. Hidup dengan sederhana, emang sangat sulit buat Dirly yang sudah biasa dengan kehidupan mewah sejak kecil. Tapi demi kekasih hati yang paling dia cintai. Dia sanggup menempuh sesulit apapun hidup ini.
Tiba-tiba, datang seorang rekan kerja yang langsung menghampiri mereka berdua. Pembicaraan keduanya langsung terhenti karena kedatangan karyawan tersebut.
"Kak Dirly. Di panggil tamu tuh. Dua orang gadis cantik yang duduk di meja utama. Mereka ingin bicara dengan kakak katanya," ucap karyawan itu dengan sopan.
Memang, karyawan itu terbilang masih berusia cukup muda. Makanya dia panggil Dirly dengan sebutan kakak. Karena jarak umur mereka mungkin lima atau enam tahun sekarang.
Karena tahun ini, Dirly sudah berusia dua puluh empat tahun. Masih terbilang muda. Hanya saja, seorang tuan muda itu nikah di usia muda sudah biasa.
"Ya baiklah. Aku akan ke sana sekarang juga. Terima kasih banyak kamu sudah bersedia membawa pesan buat aku." Dirly berucap ramah sambil tersenyum manis pada remaja laki-laki yang sudah dia anggap sebagai adiknya itu.
"Sama-sama, kak. Gak perlu sungkan. Mereka itu tamu VIP bar kita. Jadi, kita sudah seharusnya melayani mereka dengan sangat baik. Kepuasan mereka adalah tanggung jawab kita, kak."
"Mengerti banget kamu soal tamu kalangan atas yah."
"Sudah pasti, kak. Karena mereka itu cukup loyal biasanya. Uang tips yang mereka berikan buat kita itu cukup besar lho. Apalagi kakak cantik yang memakai dress hijau tua itu."
Remaja laki-laki itu berucap sambil melihat ke arah Amelia yang sedang duduk di tempat sebelumnya. Mata Dirly mengikuti arah mata remaja tersebut. Karena dia juga merasa penasaran dengan apa yang remaja itu ucapkan.
__ADS_1
"Uh ... dia itu perempuan yang sangat baik. Jika ngasih uang tips, gak nanggung-nanggung, lho kak. Nggak pelit deh pokoknya. Tapi sayangnya, dia itu sangat sulit buat datang ke bar." Remaja itu berucap lagi dengan nada yang bahagia, namun berubah sedih pada akhirnya.
"Mungkin dia jarang datang ke bar kita. Tapi, selalu datang ke bar yang lain kali," ucap Dirly mencoba mengalihkan rasa sedih dari remaja itu.
"Nggak, kak. Dia cuma pernah datang ke bar ini. Karena dia terlalu royal dengan uang, maka aku sampai nyari tahu soal kunjungan dia ke bar-bar yang lain. Sayangnya, semua bilang tidak tahu soal dia. Dari situ aku menyimpulkan, kalau dia hanya pernah datang ke bar kita ini saja. Tidak pernah datang ke klab malam yang lainnya."
"Lagian, kaka cantik itu juga agak istimewa sih menurut aku. Orang datang ke bar pesan minuman beralkohol. Lah dia datang ke bar pesan minuman ringan seperti jus. Kan luar biasa," ucap remaja itu lagi dengan perasaan kagum.
"Ehem ... kalian berdua mau ngobrol terus atau mau kerja sih? Kamu juga Dir, udah dipanggilin pelanggan, bukannya pergi. Eh, malah ngajak ini bocah ngobrol."
"Kamu juga bocah. Bukannya lanjut kerja, eh malah ngajak Dirly ngobrol. Dirly kalo diajak ngobrol ya akan panjang urusannya." Dedy sibuk ngoceh dengan nada kesal.
Hal itu membuat si remaja jadi takut dan memilih langsung pergi. Sementara Dirly, dia malah tersenyum pada Dedy. Lalu kemudian, dia menatap Dedy dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Aku ingat. Aku tahu kalau aku harus pergi sekarang. Tapi, jawab dulu apa yang ingin aku tanyakan padamu."
"Mau tanya apa?"
"Apa benar yang Dito ucapkan barusan? Dia sespesial itu, Ded?"
"Heh ... katanya sih iya. Cuma aku gak tahu kebenaran soal semua itu. Tapi, dia memang pengunjung yang super royal jika ngasih uang tips. Tapi, pada karyawan tertentu saja kek nya."
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Ya contoh, kalo dia datang, dia cuma mau dilayani sama Dito atau mas Rama saja. Katanya, sebelum dia masuk ke bar ini waktu pertama kali, dia bertanya-tanya soal latar belakang pelayan bar ini."
"Itu katanya, aku juga tidak tahu banyak soal dia. Tapi, hal yang dia lakukan itu sungguh ribet menurut aku. Masa datang ke tempat kek gini harus nyari orang yang tepat dulu buat melayani. Kan gak masuk akal itu perempuan." Dedy melanjutkan omelan nya lagi.
Sementara Dirly yang memahami maksud dan tujuan Amelia, merasa semakin tertarik akan perempuan itu. Bukan jatuh cinta, tapi entah kenapa, sejak pertama kali bertemu, dia merasa Amelia sedikit berbeda dari yang lainnya. Membuat hati Dirly selalu ingin tahu lagi dan lagi.
Dan sekarang, dia mendapatkan hal menarik lagi dari pertemuan mereka malam ini. Amelia ternyata cukup peduli dengan orang lain. Memberi tips dengan cara yang royal itu bukan karena tidak punya maksud.
Dirly bisa menyimpulkan hal itu dari penjelasan kedua rekan kerjanya. Bertanya terlebih dahulu soal karyawan sebelum masuk ke bar. Meski terdengar agak tibet dan sedikit berlebihan. Tapi Amelia punya maksud terselubung.
Dito, remaja yang dia sukai buat melayani mejanya ketika datang, lalu memberikan uang tips dalam dalam jumlah besar. Itu karena Amelia tahu, Dito butuh banyak uang buat melanjutkan pendidikan. Sekaligus buat membiayai ibunya yang sedang sakit-sakitan. Maka dari itu, uang tips Amelia berikan dalam jumlah yang besar agar bisa membantu.
Sementara mas Rama. Dia juga punya anak yang harus dia nafkahi. Mas Rama juga punya ibu yang harus dia nafkahi karena sudah tua. Maka dari itu, Amelia juga memberikan uang tips yang besar buat mas Rama.
"Gadis yang lumayan peduli dengan dunia sekitarnya," ucap Dirly dengan nada lirih.
"Apa yang kamu katakan sih, Dir? Ayo cepat pergi ke sana! Kamu ingin bos marah akibat membuat pelanggan kita menunggu lama. Lagipula, mereka pelanggan kelas atas lho, Dir. Jika sedikit saja ada keluhan, maka gaji bulanan kamu akan terpotong. Apa kamu mengerti?"
"Iya aku mengerti. Huh ... andai saja aku masih tuan muda keluarga ternama. Maka aku sudah beli bar ini agar aku bisa sesuka hati bertindak sekarang."
"Jangan banyak omong. Kamu yang sudah memilih jalan ini. Maka terima saja apa yang sedang kamu dapatkan. Jangan banyak membantah."
"Huh ... cuma bicara doang saja. Kenapa jadi ribet sih?"
__ADS_1
"Ah sudah. Laksanakan tugas kamu sekarang juga."