
Kebahagiaan tergambar dengan sangat jelas di wajah mereka semua. Itu terlihat dengan tawa lepas yang terus saja terdengar sambil di selingi obrolan hangat kedua belah keluarga.
Sementara itu, Dion yang tak sabar menunggu untuk mengatakan sesuatu pada Anggun, langsung menarik Anggun dengan cepat menjauh dari kerumunan keluarga. Anggun yang bingung, tentu saja hanya bisa mengikuti tanpa bisa bertanya akibat para tamu undangan yang sibuk.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena sudah menemukan tempat yang pas untuk bicara. Dion langsung melepaskan genggaman tangannya yang melingkar di tangan Anggun sejak tadi.
"Ada apa sih, kak Dion? Kok malah ajak aku ke sini?"
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Maaf jika aku udah bikin kamu merasa penasaran terlalu lama."
"Ya udah kalo gitu, jangan tambah aku semakin penasaran lagi. Katakan saja sekarang apa yang ingin kamu katakan padaku!" Anggun berucap dengan wajah yang pura-pura dia buat kesal.
"Aku ... aku ingin bilang ... kalau aku ... aku suka kamu Anggun. Maukah kamu menikah dengan aku?"
Pertanyaan itu membuat Anggun membulatkan matanya dengan sangat lebar. Sambil menutup mulut dengan tangan, Anggun berusaha menarik napas agar detak jantungnya tidak berdetak dengan kencang sekarang.
"Ka--kak ... Dion. Ini .... "
"Anggap saja aku melamar kamu. Tapi ... aku butuh kepastian berdua sebelum melamar kamu dengan lamaran yang resmi. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Apakah kamu bersedia menikah dengan aku, Anggun?"
__ADS_1
Belum sempat Anggun berucap, tiba-tiba saja, dari arah panggung terdengar suara pembawa acara yang mengatakan kata terima yang diikuti oleh para tamu undangan yang lainnya.
Tidak hanya itu, para keluarga kini sudah berjalan mendekat. Hingga akhirnya mereka selesai membentuk lingkaran sempurna sambil berucap kata terima tentunya.
"Amel ... ini .... " Anggun tidak bisa berucap. Buliran bening yang tumpah tidak bisa dia cegah lagi. Akhirnya, tangis Anggun pecah juga.
"Hei sayang ... tolong jangan menangis gitu. Kasihan kak Dion yang menunggu jawaban dari kamu. Katakan padanya, kamu menerima dia atau tidak. Aku sarankan, ikuti apa yang hatimu katakan, sayangku. Karena apa yang kamu ucapkan hari ini, sangat berpengaruh untuk kelanjutan hidupmu yang selanjutnya."
Kata-kata yang Amelia ucapkan barusan berhasil membentuk keyakinan yang kuat dalam hati Anggun. Dia menarik napas panjang lalu melepaskan napas itu secara perlahan.
"Terima."
"Terima."
"Terima."
Seketika, suasana langsung hening. Anggun yang awalnya deg-degan. Kini malah jadi semakin tak karuan.
"Jawab sesuai yang kamu rasakan, Anggun." Amelia kembali memberikan instruksi.
__ADS_1
Hal itu membuat Anggun semakin bersemangat untuk menjawab. Sekali lagi, dia menarik napas agar bisa menjawab lamaran itu sesuai dengan yang hatinya rasakan.
"Aku ... aku ingin alasan kenapa kamu suka padaku, kak Dion."
"Uuuu .... "
Para tamu yang sudah berharap, kini bersorak kecewa karena pertanyaan Anggun yang barusan itu. Mereka yang sudah tidak sabar lagi, harus menahan rasa itu karena pertanyaan Anggun barusan.
"Haruskah cinta punya syarat, Anggun? Tapi ... untuk menjawab rasa penasaran yang kamu punya. Aku akan mengatakan satu hal. Aku suka kamu. Segalanya tentang kamu tanpa ada satupun yang terlewatkan. Tanpa ada alsan khusus lainnya. Karena aku jatuh cinta. Cinta yang aku punya sepertinya tidak perlu syarat. Karena seperti sudah di katakan sebelumnya. Jika jodoh, pasti bersama."
"Jika begitu ... aku ... aku juga merasakan hal yang sama. Cinta memang tidak bersyarat. Aku terima lamaran kamu, kak Dion."
"Uhu ... iya-iya. Ini luar biasa."
"Nah ... gitu dong."
Semua sorak-sorakan terdengar mengikuti gerakan tangan Dion yang memasang cincin ke jari manis Anggun. Setelah cincin berhasil Dion pasang, sontak saja keduanya langsung saling berpelukan.
Hari bahagia itu terasa sangat lengkap sekarang. Amelia menemukan pasangannya, begitu juga dengan Anggun. Mereka sahabatan sejak kecil, menikmati kebahagiaan juga bersama sekarang.
__ADS_1