Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*26


__ADS_3

Perempuan itu tersenyum jahat dengan tatapan tajam lurus ke depan. Sepertinya, sebuah ide jahat juga sudah muncul di kepalanya perempuan itu saat ini. Makanya dia bisa tersenyum setelah dia marah-marah beberapa saat yang lalu.


***


Satu minggu setelah kerja sama berjalan. Hubungan keduanya terasa lebih dekat dari sebelumnya. Amelia yang tidak menyadari akan hal itu, tentu saja tidak ambil pusing sama sekali. Karena sekarang, dia sibuk dengan semua masalah pekerjaan yang menghampiri dirinya. Sampai-sampai, dia tidak punya waktu buat makan siang bersama sahabatnya.


Namun, ada yang lebih perhatian dari pada Anggun untuk saat ini. Siapa lagi dia kalau bukan Dirly. Jika Amel tidak punya waktu untuk makan siang keluar. Maka dia akan membawa makan siang ke ruangan Amel agar gadis itu tidak lupa dengan makan walau sedang sibuk bekerja.


"Ngapain sih, Dirl. Kok malah repot-repot bawa makan siang buat aku segala. Aku kan bisa minta staf aku buat beli."


"Iya aku tahu kamu bisa minta staf kamu buat beli. Tapi aku juga lagi gak enak makan sendirian. Sepi gak ada teman. Jadi ... solusinya ya aku bawa makanan ke sini biar ada teman makan."


"Masa sih? Jangan ngada-ngada deh. Makan sendirian atau berteman itukan sama aja, Dir."


"Eh ... siapa bilang sama, Mel? Gak sama tahu gak. Sendiri itu biasanya kurang berselera. Tapi kalo berdua, atau berteman, maka selera makan akan nambah."


"Makin ngada-ngada aja kamu ini kek nya."


Amel berucap sambil menggelengkan kepalanya. Dia juga tersenyum kecil sambil membereskan berkas-berkas yang ada di atas meja.


"Ya sudah. Ayo makan! Aku sedang ngejar deadline nih. Tinggal beberapa hari lagi waktu kejar targetnya. Tapi kerjaan masih banyak. Aduh ... bikin pusing aja," ucap Amelia sambil berjalan menuju sofa.

__ADS_1


"Mau aku bantu menyelesaikannya tidak?"


"Bantu aku?"


"Iya. Bantu kamu. Emangnya bantu siapa lagi? Tetangga sebelah rumah? Ya nggak kan?"


"Ya bukan gitu. Masa iya kamu malah menawarkan diri buat bantu aku, sedangkan kerjaan yang kamu punya aja sama banyaknya kek aku ini. Ya mending kamu kerjakan pekerjaan kamu aja biar gak terjadi masalah sama perusahaan kamu."


"Kalo soal kerjaan aku sih, itu gampang, Mel. Aku punya asisten yang lumayan cekatan dalam mengurus malasah. Aku juga punya kakak yang bisa membantu aku jika ada banyak pekerjaan."


"Kakak? Kamu punya kakak?" tanya Amelia mendadak merasa tertarik.


"Dia bukan kakak kandung kamu? Maksud kamu, dia kakak angkat gitu?"


Dirly langsung menganggukkan kepalanya. Dia tidak menjawab dengan kata-kata karena sekarang, dia sedang fokus dengan makanan yang dia makan.


Ucapan itu membuat Amelia ingat akan orang yang sebelumnya ingin di jodohkan dengan dia. Namun, segera dia singkirkan pemikiran itu dari benaknya secepat mungkin.


Amelia langsung mengajukan pertanyaan yang lain untuk mengubah pokok pembicaraan. Dia juga kembali mengatakan beban berat yang saat ini terasa sedang menindih dirinya.


Tanpa sadar, dia baru saja membagikan kesulitannya dengan Dirly. Orang yang waktu itu dia benci karena telah pergi darinya. Meski hubungan mereka tidak pasti ketika Dirly pergi. Tapi Amelia tetap saja merasa sakit hati.

__ADS_1


Tapi sepertinya, akhir-akhir ini, hubungan mereka terlihat berbeda jauh. Amelia seakan telah melupakan kalau mereka pernah berselisih paham waktu itu.


Selesai makan, Dirly langsung menatap Amelia dengan tatapan penuh arti. Amelia yang di tatap sontak langsung menghentikan kegiatan makannya yang masih belum selesai.


"Lho, kok malah berhenti sih? Masih belum habis tuh makannya," ucap Dirly langsung protes.


"Ya kamu kenapa malah lihat aku yang sedang makan, hm? Kayak gak ada hal lain aja yang bisa kamu lihat. Aku gak suka dilihat orang dengan tatapan serius jika aku sedang makan. Gak nyaman dan bikin sangat grogi." Amelia berucap terus terang tanpa merasa canggung sedikitpun.


"Oo ... maaf kalo gitu. Aku pikir gak akan ada masalah jika aku melihat kamu seperti barusan."


"Mm ... sebenarnya, ada yang ingin aku katakan padamu Mel. Apa kamu bisa mendengarkan apa yang ingin aku katakan? Aku janji, gak akan minta waktu kamu banyak-banyak kok. Dikit aja buat bicara soal masalah pribadi antara aku dan kamu."


"Masalah pribadi?" tanya Amelia serius dengan tatapan penuh tanya tanya pada Dirly.


"Masalah seperti apa? Sepertinya, kita berdua tidak punya masalah pribadi, bukan?"


"Jangan menghindar lagi, Mel. Aku memang salah waktu itu. Karena aku pergi tanpa menghubungi kamu terlebih dahulu. Tapi, aku punya alasan yang kuat kok."


"Aku tahu alasannya, Dir. Dan ... sepertinya tidak perlu dibahas lagi Karena antara kita saat ini, tidak ada hubungan yang lain selain hubungan sebatas rekan kerja. Lagipula ... aku banyak kerjaan. Tidak punya waktu untuk mendengarkan cerita masa lalu yang sudah aku anggap berlalu dan tidak penting."


"Bagaimana kalau aku bilang, aku suka kamu dan aku ingin serius menjalani hubungan dengan kamu, Amelia?"

__ADS_1


__ADS_2