Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*16


__ADS_3

"Sebenarnya, tidak seperti yang kamu bayangkan, Amel. Dia itu adalah pewaris sah satu-satunya. Meski dianggap tidak ada sekarang, tapi tetap saja, dia akan menjadi pewaris sah satu-satunya buat selamanya."


"Semua itu hanya masalah waktu saja. Dia juga pasti akan kembali lagi ke keluarga Prayoga. Karena seperti yang kamu tahu, tali darah diantara mereka tidak akan pernah putus. Tidak seperti dengan aku. Meski aku tetap diam di dalam keluarga dan tetap menuruti semua perintah. Aku tidak akan pernah jadi anak kandung mereka. Aku akan tetap jadi anak angkat mereka. Karena di dalam darahku, tidak ada darah mereka."


Amelia terdiam. Mendengar ucapan Dion yang panjang lebar dengan nada sedih, rasanya, dia ikut merasakan kesedihan yang sesungguhnya.


Tangan Amel tiba-tiba saja bergerak dengan sangat ringan. Menyentuh lembut tangan Dion yang di letakkan pemiliknya di atas kursi taman.


"Kak Dion jangan sedihnya. Meski kakak bukan anak kandung keluarga Prayoga, tapi kakak tetap bagian dari keluarga mereka. Persetan dengan tali darah yang tidak kakak miliki. Yang jelas, kakak sudah berada di dalam keluarga mereka paling lama. Lebih lama dari adik kakak, bukan?"


Dion tersenyum.


"Kata-kata hiburan mu itu terdengar sedikit sumbang, Amel. Tapi gak papa. Aku juga merasa sedikit terhibur meski rasanya agak aneh akibat sumbang."


"Sumbang? Enak aja kamu bilang sumbang, kak. Aku sudah susah payah merangkainya, kakak bilang sumbang. Kan bikin aku jadi kesal aja."


"Jangan dianggap serius. Aku hanya bercanda saja kok."


"Aku tahu itu beneran, bukan bercanda."


Keduanya sama-sama tertawa lepas. Menertawakan apa yang mereka debat kan barusan.


Tak terasa, waktu yang mereka habiskan berdua sungguh cepat berlalu. Mereka merasa masih banyak yang ingin mereka bicarakan. Tapi, keluarga Prayoga kini sepertinya sudah selesai bicara. Mereka semua sudah bersiap-siap untuk pulang.


Asisten rumah tangga keluarga Amel datang memberitahukan hal itu pada Dion. Mereka yang masih ngobrol, harus menghentikan obrolan mereka saat itu juga.

__ADS_1


"Semoga ada kesempatan di lain waktu untuk kita ngobrol lagi, Mel. Malam ini, sepertinya harus kandas sampai di sini saja. Aku pamit sekarang. Selamat malam," ucap Dion sambil bangun dari duduknya.


"Iya, kak. Semoga saja. Selamat malam. Hati-hati di jalan ya." Amelia berucap dengan nada sangat ramah sambil mengantarkan kepergian Dion.


Kedekatan keduanya membuat kedua orang tua dan kakek Amel menatap tak percaya. Setelah keluarga Prayoga benar-benar meninggalkan rumah mereka, Amelia mendapatkan tatapan penuh selidik dari kedua orang tuanya.


"Mel. Apa mama gak salah lihat barusan itu? Kamu dengan tuan muda Dion sedekat itulah? Perasaan, tadi pertama berjumpa, kamu gak sedekat itu deh dengan tuh tuan muda. Lah udah mau pulang, kenapa jadi begini. Heran mama."


"Iya, Mel. Kamu bisa dekat dengan itu tuan muda hanya dalam hitungan jam sajakah? Benar-benar bikin papa salut sama kamu, Nak."


"Kalian ini kenapa sih? Dia bersikap ramah pada Dion, kok kalian yang gak percaya. Itu cucu aku, tahu gak? Cucu orang pergaulan. Gampang kalo dengan dengan orang lain. Itukan urusan kecil. Iya gak, sayang?"


"Ya bukan gitu maksud kita, Pa. Kami hanya gak percaya aja dengan perubahan sikap Amel yang sungguh bisa berubah hanya dalam hitungan jam." Papa Amelia bicara pada papanya dengan nada lembut.


"Aduh .... Ya Tuhan ku. Kok pada berdebat lagi sih." Amelia yang sudah tidak tahan, di tambah mendengar kata perjodohan, itu emosi Amel langsung meledak.


"Kakek sayang. Gak ada permainan jodoh-jodohan lain kali ya. Aku gak mau. Kalian kan tahu aku gak suka dengan yang namanya perjodohan. Jadi, gak ada perjodohan lain kali. Gak setuju."


Setelah berucap, Amelia langsung menghempaskan bokong ke salah satu sofa ruang tamu. Hatinya yang bahagia, eh ... mendadak kesal lagi akibat ucapan kakeknya barusan.


Baru juga merasa lega akibat perjodohan yang gagal. Si kakek main mau melanjutkan rencana perjodohan lagi. Gimana gak bikin hati Amel mendadak meledak akibat kesal kalau begini caranya?


"Amelia sayang kakek. Cucu kakek satu-satunya. Kamu gak ngerti ya, nak. Kakek ini ingin lihat kamu menikah, sayang. Kakek ingin lihat kamu punya anak malahan. Ingin sekali kakek gendong cicit. Kamu gak bisa apa, bikin kakek mu yang sudah tua ini bahagia."


Amelia terdiam. Tidak punya kata untuk dia ucapkan. Karena sejujurnya, dia juga ingin membuat kakeknya bahagia dengan memberikan apa yang kakeknya inginkan.

__ADS_1


Tapi ... ya harus bagaimana lagi? Dia tidak tertarik untuk menikah dengan cara perjodohan. Dia juga tidak punya calon suami saat ini. Jangankan calon suami, calon pacar saja dia tidak punya.


"Kakek .... Istirahat sekarang saja yah. Jangan pikirkan soal perjodohan lagi. Amel janji, Amelia akan menikah dan punya anak jika sudah saatnya tiba. Jadi, kakek doakan saja Amel biar cepat bertemu jodoh ya, Kek."


"Kakek selalu berdoa, Amel. Tapi kamu ini lho, udah punya jodoh, tapi malah kamu tolak. Bagaimana mau cepat menikah dan membuat hati kakek bahagia kalo gini caranya?"


"Kek. Ini bukan Amel yang nolak, kan? Tuan muda itu gak suka sama Amel. Makanya dia pergi dari keluarganya."


"Kamu sudah tahu semuanya ya, Mel?" tanya mamanya pula menyela.


"Maksud, mama? Tahu semuanya soal apa?"


"Soal perjodohan kalian yang gagal karena calon kamu yang kabur bareng pacarnya itu? Dan ... soal latar belakang tuan muda Dion yang sebenarnya."


"Iya, Ma. Aku tidak tahu semuanya. Hanya tahu soal kak Dion aja. Dia anak angkat keluarga Prayoga, bukan?"


"Iya. Dia anak angkat keluarga Prayoga. Sayang sekali. Padahal dia anak yang baik dan penurut. Jika saja tuan muda pewaris yang sesungguhnya seperti dia, maka urusannya pasti akan gampang kita selesaikan." Mama Amelia berucap dengan nada penuh sesal.


"Ini semua karena Damar yang terlalu keras kepala. Dia tidak ingin aku menggantikan cucu angkatnya buat menikah dengan Amelia. Padahal aku rasa, tidak ada salahnya kalau anak itu yang menikah dengan Amelia. Toh sama saja, sama-sama dengan cucunya juga."


Kakek Amelia juga merutuk.


"Mana mungkin dia mau, Papa. Orang keluarga mereka itu adalah keluarga yang ketat. Amelia telah lulus seleksi di mata tuan besar Damar. Mana mungkin dia mau menikahkan Amel dengan orang yang tidak punya ikatan darah dengan mereka."


"Tapi itu akan membuat dia kehilangan cucuku buat selama-lamanya. Karena aku juga tidak akan membiarkan cucunya yang jahat itu datang untuk menikah dengan cucuku lagi nantinya. Enak saja dia mau menikahi Amelia setelah dia bersenang-senang dengan perempuan lain."

__ADS_1


__ADS_2