Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*19


__ADS_3

'Nasib-nasib. Mungkin bos ku sudah berubah jadi orang lain sekarang. Maka dari itu aku merasa dia sangat berbeda. Karena bos yang aku kenal itu tidak seperti ini. Jangankan gugup saat ingin menemui klien, berubah raut wajah saja tidak pernah.'


Asisten tersebut terus saja bicara dalam hati sampai tidak menyadari kalau mereka sudah berada di depan pintu masuk ruang pertemuan. Karena dia terus melamun, dia langsung menabrak tubuh pemimpinya saat ceo tersebut berhenti.


"Ya ampun. Apa kau bisa berjalan dengan baik, Diego? Tidak perlu ikut-ikutan gugup seperti aku. Karena yang akan bertemu dengan dia itu aku, bukan kamu."


"Ya ampun .... Saya gak gugup, kok pak Bos. Hanya gak sadar aja kalo kita udah sampai."


"Kau bisa pilih tetap sadar sekarang, atau kau harus pindah tidur-tiduran di rumah sekarang juga."


"Ya Tuhan ... aku tidak akan melakukannya lagi. Pak bos tenang saja."


"Kalau begitu, lakukan tugas mu dengan baik. Jangan rusak rencana ku jika kamu tidak ingin aku pecat. Paham?"


"Aku paham, pak bos."


Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya, mereka berdua masuk ke dalam ruang pertemuan itu juga. Karena terlalu gugup, Ceo itu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia langsung saja menerobos masuk.


Saat pintu terbuka, dia langsung bisa melihat Amelia yang sedang memperhatikan jalanan dari jendela kaca ruangan tersebut. Jendela kata yang terbuka sedikit membawa angin masuk ke dalam.


Angin sepoi-sepoi itu berhembus perlahan menerbangkan rambut Amelia yang dia biarkan tergerai lurus. Sungguh pemandangan yang luar biasa indah menggangum kan buat si ceo tersebut.


Namun, asisten yang tidak pengertian itu langsung merusak segalanya. Merusak apa yang sangat dinikmati oleh bosnya sendiri.


"Mm ... permisi bu ... eh, maksudku, Nona ceo. Pemimpin kami sekarang sudah ada di sini," ucap asisten yang bernama Diego itu pada Amelia.

__ADS_1


Seketika, Amelia yang sibuk memperhatikan ke arah luar itupun langsung menoleh.


"Oh, maaf karena aku .... "


Seketika, ucapan Amelia langsung tertahan saat mata mereka saling bertemu. Dengan wajah yang benar-benar tak percaya, Amelia menatap tajam wajah pemimpin perusahaan tersebut.


"Dirly!"


"Amel. Kau masih ingat aku ternyata." Dirly berucap sambil tersenyum manis.


Yah, ceo perusahaan luar negeri yang terkenal sangat misterius itu adalah Dirly. Laki-laki yang akan menikah kontrak dengan Amelia satu tahun yang lalu. Tapi sayangnya, dia pergi karena beberapa alasan sehingga membuat pernikahan itu gagal.


"Tentu saja aku ingat dengan kamu. Orang yang sudah menipu dan merusak kepercayaan yang aku miliki. Meskipun itu sudah satu tahun berlalu, tapi tetap saja, aku tidak akan pernah lupa."


"Mel, untuk hal itu aku minta maaf. Aku punya alasan yang kuat pergi tanpa memberitahukan padamu terlebih dahulu. Jadi ... aku akan tebus semuanya kembali. Aku akan kembalikan uang yang kamu berikan kepadaku. Dengan begitu, semua masalah diantara kita akan selesai."


"Pak Dirly. Masalahnya tidak perlu mengatakan apa alasan anda menipu saya satu tahun yang lalu. Karena saya sudah tahu semua alasannya. Anda hanya ingin uang saya saja, bukan? Karena itu, anda setuju untuk bekerja sama dengan saya."


"Kamu salah, Mel. Alasan yang sesungguhnya bukan itu. Tapi .... "


"Oh, bukan itu? Apa alasannya karena perempuan lain?"


Pertanyaan Amelia membuat Dirly membulatkan mata selama beberapa saat. Lalu, dia seperti ingin bicara, tapi Amelia lebih dulu yang mengangkat bibir buat bicara.


"Tidak perlu sekaget itu, pak Dirly. Aku tahu jika kamu mempunyai perempuan lain sebelumnya. Tapi, itu juga tidak ada masalahnya sih buat aku. Karena kita hanya terikat untuk bekerja sama. Tapi sayang, kau malah pergi tanpa kata sepatah pun. Jika saja kamu bilang, kalau kamu akan pergi, aku mungkin tidak akan sebenci ini padamu."

__ADS_1


"Amelia. Aku punya alasan yang tidak kamu ketahui. Aku tahu kamu marah padaku, karena aku pergi tanpa sepatah katapun. Tapi, tidakkah aku bisa menjelaskan semuanya padamu sekarang. Aku sudah berusaha keras selama satu tahun ini supaya aku terlihat pantas saat bertemu dengan kamu, nona Amelia."


"Untuk apa berusaha agar terlihat pantas di mataku? Kita bukan siapa-siapa, bukan? Lagian, aku juga tidak akan mempermasalahkan siapa kamu. Karena kita tidak punya hubungan apapun. Aku tidak kenal kamu, kamu juga tidak tahu siapa aku."


"Siapa bilang aku tidak tahu siapa kamu, Amel? Aku tahu siapa kamu, maka dari itu, aku berusaha untuk bisa sebanding dengan kamu agar aku layak .... "


"Cukup." Amelia berucap sambil mengangkat satu tangannya di depan Dirly.


"Aku tahu kenapa kamu pergi meninggalkan aku tanpa sepatah katapun terlebih dahulu. Tapi ... ah, lupakan saja semuanya. Kita tidak ada hubungan yang spesial selain rekan yang sama-sama ingin mengambil keuntungan satu sama lain."


"Hanya saja, aku menyesal telah menjadikan kamu sebagai rekanku. Kamu seorang penipu, yang mengikis habis kepercayaan yang aku miliki. Untuk itu, aku tidak ingin bekerja sama lagi dengan kamu, Dirly. Sekarang, besok, atau selama-lamanya."


"Tidak akan pernah ada kerja sama lagi diantara kita. Permisi!"


Amelia langsung beranjak setelah mengucapkan kata-kata itu. Namun, langkah kakinya tertahan oleh tangan Dirly yang sangat cepat menahan tangan Amel.


"Tunggu, Amel! Aku tahu kamu kesal dengan kepergian ku. Tapi, bukankah perjodohan yang kamu jalani juga tidak terjadi? Jadi, kehadiran aku sebagai pasangan nikah kontrakmu juga tidak akan kamu butuhkan, bukan?"


Amelia langsung menoleh karena ucapan barusan. Dengan tatapan penuh tanda tanya, dia tatap Dirly selama beberapa detik.


"Kamu bilang apa barusan? Aku tidak jadi menjalani perjodohan? Tahu dari mana kamu soal apa yang terjadi dengan kehidupan aku, hm? Kamu menyelidiki semua tentang aku sampai kamu tahu semuanya?"


"Tidak. Itu ... aku tahu. Aku .... "


Dirly kelihatannya sangat gugup. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari Amelia. Sayangnya, karena rahasia yang dia sembunyikan membuat dia jadi tidak bisa bebas menjelaskan semuanya pada Amelia.

__ADS_1


"Aku punya alasan sendiri yang tidak bisa aku katakan. Maafkan aku, Amelia. Aku akan kembalikan uang yang kamu berikan padaku waktu itu. Tolong berikan aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Aku mohon."


"Dari tadi yang kamu bicarakan soal uang-uang dan uang saja, Dirly. Seperti hanya uang yang jadi masalah diantara kita bagi kamu. Sayangnya, uang bukan penyebab masalah yang terjadi di antara kita saat ini. Karena aku juga tidak kekurangan uang buat saat sekarang."


__ADS_2