Jodoh Pasti Bersama

Jodoh Pasti Bersama
*29


__ADS_3

Amelia dan Anggun langsung kembali ke perusahaan setelah makan siang di rumah makan sambil melakukan pertemuan dengan rekan bisnisnya. Saat dia masuk ke ruangannya. Dia dikagetkan dengan keberadaan Dirly yang sedang duduk di sofa ruangan tersebut.


"Dirly! Kamu ... kok kamu ada di sini sih?"


"Aku baru pulang tadi. Aku pikir, mampir dulu saja sebelum aku pulang ke rumah. Oh ya, aku punya oleh-oleh buat kamu soalnya. Aku harap kamu suka," ucap Dirly sambil merogoh saku jas yang dia kenakan.


"Tidak perlu repot-repot. Aku tidak .... "


Ucapan Amelia langsung tertahan saat tangan Dirly mengeluarkan apa yang dia maksud dengan oleh-oleh. Mata Amelia seakan tidak bisa berkedip ketika dia melihat apa yang Dirly punya untuk dirinya.


Itu sebentuk cincin. Cincin berniat yang berukir kan bentuk hati dengan permata hijau tua. Sungguh sangat indah. Pertama kali dia melihat berlian berwarna hijau. Entah itu berlian, atau batu rubi, atau entah apa jenis yang lainnya. Yang jelas, itu sungguh sangat indah bagi Amelia.


"Ini .... "


Dirly langsung berlutut dengan memegang cincin tersebut. Persis seperti sikap seorang laki-laki yang sedang melamar orang yang dia sayangi.


"Dirly .... "


"Amelia. Aku serius dengan apa yang aku katakan waktu itu. Aku sungguh sangat mencintai kamu. Aku ingin mengubah hubungan yang sedang kita jalani saat ini. Aku ingin kamu menikah dengan aku. Menjadi satu untuk selamanya buat aku, Amelia. Bersediakah kamu menerima aku sebagai pasangan kamu?"


"Ja--jangan bercanda, Dirly. Aku .... "


"Seperti yang kamu katakan sebelumnya, Mel. Tidak ada kata bercanda untuk urusan hati. Dan saat ini, aku sedang sangat serius. Tidak sedang bercanda karena aku memang ingin menikah dengan kamu sebagai pasangan serius."


Amelia terdiam dengan tatapan tajam yang menatap lurus ke mata Dirly. Tatapan mereka beradu. Keduanya saling diam sekarang. Memberikan peluang untuk hati masing-masing menentukan langkah selanjutnya untuk mereka tempuh.

__ADS_1


"Dirly ... aku ... sungguh tidak percaya ini."


"Kamu tidak bisa untuk tidak mempercayainya. Karena ini adalah kenyataan yang sedang terjadi."


"Apakah tidak ada kata yang lebih manis untuk melamar aku? Kamu pikir, ini saja sudah cukup?" tanya Amelia.


Ucapan itu hanya sebatas kata untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kacau. Karena apa yang dia hadapi saat ini sungguh diluar dugaan. Sangat mendadak sampai dia tidak tahu harus berbuat apa.


"Kamu akan tahu apa yang aku punya selanjutnya. Tapi ... maaf. Sungguh, aku memang bukan laki-laki yang romantis. Namun aku sedang berusaha bersikap seromantis mungkin saat ini hanya untuk kamu."


"Jangan bicara seperti itu. Aku bukan yang pertama, kan?"


"Kamu memang bukan yang pertama mengisi hati aku. Tapi kamu akan jadi yang pertama dan satu-satunya yang akab tetap berada di samping aku. Satu untuk selamanya, Amelia."


"Tapi ... bagaimana jika aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang kamu berikan? Karena kamu datang sangat mendadak."


"Aku tidak datang dengan mendadak. Kamu seharusnya ingat jika aku sudah pernah menyatakan cinta seminggu yang lalu. Jadi aku rasa, kamu tidak mungkin jika bilang tidak punya jawaban. Karena yang harus kamu lakukan hanya memilih. Iya, atau tidak. Itu saja."


Amelia terdiam. Bagi dia, ini memang sangat berat. Bukan hanya memilih kata iya atau tidak. Tapi pilihan yang akan dia ambil, itu akan menentukan kelanjutan hidupnya ke depan.


"Mel .... "


"Baik. Aku akan jawab. Aku tahu kamu tidak akan menerima alasan atau pertanyaan. Aku akan jawab .... " Amelia menggantung kalimatnya untuk menarik napas. Dia meyakinkan dirinya satu kali lagi sebelum. memberikan jawaban.


"Heh ... aku menjawab ... ya."

__ADS_1


"Apa? Kamu menjawab apa barusan? Aku tidak mendengarnya." Dirly berucap dengan tatapan penuh dengan kebahagiaan. Matanya berbinar-binar sangking bahagianya dia saat ini.


"Aku tidak suka mengulangi apa yang aku katakan, Dirly."


"Tapi aku tidak mendengar apa yang kamu katakan."


"Aku menjawab. Ya! Apa kamu puas?"


"Apa!"


"Dirly!"


Sontak saja. Dirly langsung bangun dari posisinya. Dia langsung memeluk tubuh Amelia yang sedang berada di hadapannya saat ini.


"Terima kasih untuk jawaban yang kamu berikan buat aku barusan. Aku sangat bahagia."


Dirly berucap sambil memeluk Amelia dengan erat.


Sementara Amelia hanya pasrah menerima pelukan itu. Tentunya, dengan hati yang sama bahagia dengan yang Dirly rasakan.


Selanjutnya, setelah mereka berpelukan selama beberapa saat, akhirnya pelukan itu lepas juga. Dirly langsung memasang cincin yang sedari tadi dia genggam di tangannya ke jari Amelia yang indah.


Cincin tersebut mendarat dengan mulus. Pas tanpa ada masalah sedikitpun. Terasa seperti, cincin itu memang khusus dibuat hanya untuk Amelia.


"Indah," ucap Amelia lirih sambil menatap cincin itu dengan senyum yang terukur indah di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2