Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 10


__ADS_3

" Hallo Ma.. Sofi datang.."


" Sayang masuk Nak.."


Sofia segera masuk ke kamar mertuanya, matanya melirik ke arah Raisa dan Elena. mukanya memperlihatkan ketidak sukaan nya pada kedua wanita itu.


raisa yang menyadari hal itu hanya menundukkan kepalanya.


" Mama apa kabar Ma.."


" Ya seperti yang kamu lihat, namanya orang tua ya gini sakit-sakitan."


" Ada yang Sofi mau bicarakan sama mama.."


" Maaf Nyonya saya permisi keluar dulu.."


Sadar keberadaanya tidak diinginkan, Raisa segera pamit keluar dengan membawa serta Elena.


" Suster baru ya Ma..?"


" Iya dari pabrik, Raffi yang bawa kesini..!"


" Ma.. Sofi ingin kembali sama Raffi.."


" Beneran...? Mama setuju aja, Raffi bagaimana..?"


" Justru Raffi kesini mau minta tolong sama Mama, mas Raffi cuekin Sofi terus Ma.."


Obrolan keduanya tidak berlangsung lama, Sofi keluar dari kamar mertuanya dengan perasaan yang bahagia. Senyuman terus mengembang pada kedua pipinya, saat melihat Raisa, Sofi memasang muka masam dan segera berlalu pergi dari sana.


" Ma.. Tante itu siapa...?"


" Mama gak tau sayang, mungkin saudaranya nenek Anita.."


" Apa Tante itu orang jahat..?"


" Enggak sayang, disini semua orang baik sama kita.." Elena mengangguk-angguk mengerti.


Raisa dan Elena kembali masuk ke kamar Nyonya Anita, dilihatnya majikannya Kanya itu sedang berbaring. Perlahan Raisa mendekati ranjang, takut jika keberadaanya mengagetkan Raisa meminta Elena untuk menunggu disofa.


" Nyonya makan siang sekarang..?" Nyonya Anita hanya diam.


" Sayang temani nenek dulu ya, Mama mau ambil makan siang untuk nenek.."


" Iya Mama..."


Raisa berjalan menuruni anak tangga menuju ke dapur, seperti biasa bik Surti selalu berada di sana.


" Baik Surti.. Bu Sofi itu siapa ya..?"


" Non Sofi itu istrinya Den Raffi Ca, kenapa memangnya...?"


" Enggak kok Bik, cuman Icha belum pernah melihat non Sofi sebelumnya di rumah ini.."


" Iya kan enggak tinggal di sini, makanya kamu nggak pernah ketemu.."


" Memangnya dimana Bik..?" Raisa semakin penasaran.


" Dirumahnya Non, Den Raffi kan juga punya rumah selain disini..."


" Oo... Ya udah bik, Icha mau naik dulu ya. Takutnya ditungguin Nyonya.."


Raisa kembali ke kamar majikannya dengan membawa nampan berisi makan siang dan obat yang harus diminum Nyonya Anita setelah makan, Raisa meletakkan nampan itu di atas nakas dan segera menggeser kursi di samping tempat tidur untuknya duduk. Raisa berdiri kembali dan mengambil nampan untuk menyuapi majikannya tersebut.


" Nyonya makan siang dulu.." Nyonya Anita tidak bergeming, pikirannya menerawang ke mana-mana memikirkan apa yang tadi Sofi katakan.


" Nenek ayo makan dulu, nanti keburu dingin gak enak Lo.." Elena memegang tangan Nyonya Anita, suara Elena membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


" Oia sayang .."


Raisa segera bangkit dan membantu majikannya untuk duduk, seperti biasanya Anita makan siang dengan tangannya sendiri. Setelah menunggu 30 menit selesai makan dilanjutkan dengan meminum obat Raisa kembali ke dapur untuk mencuci piring kotor majikannya.


Sekembalinya Raisa dari dapur terlihat Nyonya Anita sudah tertidur, mungkin karena efek obat yang ia minum. Raisa masuk dengan perlahan-lahan dan menghampiri Elena yang sedang bermain boneka.


" Sayang ayo keluar nenek sudah tidur..."


" Mama mau makan sekarang..?"


" Ayuukkk..."


Keduanya berjalan gontai menuju dapur untuk mengambil makan siangnya.


" Baik Surti kami makan duluan.."


" Iya.. Bibik masih kenyang.."


" Makan yang banyak ya Elena.."


" Iya Nenek..."


Seperti biasa Raisa dan Elena makan siang di teras belakang, sepasang mata terus melihat ke arah dua wanita yang sedang menyantap makan siangnya.


" Haii Elena..."


" Om Doktel..."


Elena begitu bahagia melihat kedatangan Reza, dokter Reza yang sangat baik dan juga begitu menyayangi anak-anak membuat Elena juga merasa nyaman di dekatnya.


" Mama tidur ya Sya..?"


" Iya mas, baju aja..."


" Elena harus makan yang banyak ya, biar Cepet besar dan pinter..."


" Udah kenyang Om Doktel, nanti kalau Ena udah besar mau jadi Doktel juga..."


" Aku bener-bener gak tau kalau kamu yang ngerawat mama selama ini Sya.."


" Saya juga gak tau kalau mas Reza anaknya Nyonya Anita adik kandung pak Raffi.."


Reza dan Raisa yang asik mengobrol hingga tanpa sadar Elena sudah tertidur di pangkuan Reza.


" Biar aku yang gendong Sya, kasihan Elena pasti nggak nyaman tidurnya.."


" Maaf ya Mas Reza jadi ngerepotin.."


" Gak apa-apa, Aku suka sama anak kecil dan tidak merasa direpotin.."


Raisa berdiri dengan membawa piring kotornya yang akan melangkahkan kakinya menuju dapur.


" Sya... Elena tak bawa ke kamarku aja ya, sekalian aku juga mau istirahat..."


" Tapi mas nanti Elena nyusahin Mas Reza lagi..."


" Enggak apa-apa, kamarku ada di sebelah sana.." Reza menunjuk ke sebuah pintu yang sedang tertutup, pandangan Raisa mengikuti arah jari telunjuk Reza. Raisa melanjutkan mencuci piring kotornya di dapur, sedangkan Reza sudah membawa Elena untuk masuk ke dalam kamarnya.


" Baik.. Saya kok jadi nggak enak ya sama Mas Reza..."


" Gak apa-apa Ca, dan Reza memang orangnya baik kok."


Raisa kembali ke atas untuk menemui majikannya, Raisa pun tertidur di atas karpet di bawah tempat tidur Nyonya Anita. Saat Nyonya Anita terbangun dan membiarkan Raisa tidur, dirinya mencoba menggerakkan kakinya dan masih belum ada reaksi. Kemudian tangannya digenggam dan buka seperti itu ia lakukan berulang kali agar tidak kaku, tak berapa lama Raisa membuka matanya dan segera bangun.


" Maaf Nyonya saya ketiduran.." Raisa merasa tidak enak karena majikannya sudah bangun lebih dulu.


" Mari Nyonya Kita ke taman belakang.." Raisa membantu Nyonya Anita hendak pindah ke kursi roda dan mendorongnya menuju taman.

__ADS_1


Di taman dengan telaten Raisa mengajari Nyonya Anita melangkah di atas rerumputan, Raisa juga memijat otot-otot kaki majikannya begitu telaten merawat majikannya dengan bercerita banyak hal, walaupun majikannya tidak menanggapi setidaknya ia mendengarkan begitu batin Raisa.


Raffi pulang lebih awal, dilihatnya Raisa sedang membawa ibunya ke taman belakang. Raffi juga melihat bagaimana kabarnya Raisa merawat ibunya. Selesai olahraga sore Raisa membawa Nyonya Anita masuk rumah.


" Biar saya p yang dorong Mama Cha, kamu siapkan mandinya.."


" Baik pak Raffi terimakasih, saya tinggal dulu.." Raffi menatap punggung Raisa yang semakin menjauh.


" Tumben pulang cepet..!"


" Kerjaan Raffi udah selesai kok Ma, ngapain lama-lama di kantor.."


" Nanti setelah mama mandi ada yang Mama mau bicarakan denganmu.."


Raffi membawa ibunya masuk ke dalam kamarnya dan Raisa sudah siap membantu Nyonya Anita mandi, Raffi menatap sekeliling kamar ibunya bersih dan rapi di lantai 3 pun semua tertata rapi mulai dari sofa tamu rak buku vas bunga dan lainnya.


" Sudah Nyonya saya tinggal ke bawah dulu..."


" Panggilkan Raffi kesini.."


" Baik Nyonya.."


Raisa keluar dari kamar dan melihat Raffi duduk di sofa tamu yang ada di depan kamar ibunya.


" Maaf pak Raffi, Nyonya Anita memanggil bapak.."


tanpa menyahut Raffi bergegas masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang ibunya.


" Ada apa Ma..?" Raffi juga bertanya-tanya ada apa gerangan ibunya memanggilnya, karena semenjak perceraiannya dengan Sofi mamanya sedikit mengabaikannya. Mungkin marah atau kecewa terhadap keputusan yang Raffi ambil.


" Tadi Sofi ke sini.."


" Ma... Bisa nggak kita nggak bahas Sofie dulu."


" Gak bisa, ini menyangkut masa depan anak mama. Mama minta kamu kembali sama Sofi.."


" Ma., Raffi belum memikirkan ke sana lagian Raffi dan Sofi sudah beda jalan."


" Itu menurutmu Sofi masih mencintai kamu, dan menginginkanmu kembali lagi seperti dulu.."


" Tolong Ma Raffi belum kepikiran karena lagian Raffi menganggap Sofi hanya teman biasa.."


" Mana bisa seperti itu, atau kamu sudah menyukai wanita lain." Raffi hanya terdiam mendengar perkataan mamanya ini bukan kali pertama mamanya memaksa untuk kembali dengan Sofi.


" Kembali dengan Sofi demi mama.." Nyonya Anita mengatakan dengan nada yang sedikit kesal.


" Rafi sudah 30 tahun hidup demi orang lain Ma, kali ini biarkan Raffi memilih jalan hidup Raffi sendiri.."


" Apa maksud kamu Raffi.." Nyonya Anita berteriak.


" Ma sejak awal Raffi menikahi Shofie itu adalah pilihan mama, Mama nggak tahu betapa batin Rafid tersiksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak pernah rapi cintai.."


Nyonya Anita menatap keluar kamar sama sekali dirinya tidak menatap Raffi, Raffi sangat tahu sifat mamanya ini menandakan mamanya sedang marah terhadapnya.


" Coba Mama pikirkan lagi, saat selfie ketahuan selingkuh di belakangku siapa orang pertama yang Mama salahkan itu Raffi Ma. Bahkan semua orang ikut menyalahkanku tidak seorangpun yang memihakku.."


Mata Raffi berkaca-kaca di samping ibunya begitupun dengan Nyonya Anita.


" Mama hanya ingin yang terbaik buatmu, dan saat itu mama hanya ingin kamu bersabar dulu membuktikan apakah dugaan itu benar atau tidak.."


Rafi beranjak pergi dan meninggalkan ibunya yang menangis dan terus memanggilnya. Melihat masih keluar kamar Nyonya Anita dan majikannya berteriak-teriak Raisa segera berlari masuk ke dalam kamar.


" Nyonya ada apa..? ada yang bisa saya bantu..?" Nyonya Anita memilih tidak menjawab pertanyaan Raisa.


" Saya pamit pulang dulu nyonya.." Raisa keluar kamar dan turun ke lantai bawah, dilihatnya Elena sedang bermain di sofa bersama dokter Reza.


" Sayang ayo pulang, pamit sama Om Reza dulu bilang terima kasih ya.."

__ADS_1


" Sya saya antar pulang ya..?"


" Gak usah Mas kami naik angkot aja.." Raisa menolak tawaran Reza dengan sopan, Reza pun mengalah dan membiarkan Raisa pulang dengan Elena.


__ADS_2