
Pagi sekali Raisa bersiap untuk berangkat kerja, Raffi sudah rapi dengan setelan jas kantornya yang membuat pria 35 tahun itu terlihat begitu tampan.
Dengan rambut setengah basah yang menyempurnakan ketampanan pria itu, Raisa menatap sekilas dan mengalihkan pandanganya pada beberapa menu yang ia susun di atas meja makan.
" Silahkan pak Raffi..."
" Ayo makan bareng, Elena mana..?"
" Elena bersama pak Hasan di taman belakang pak.."
" Elena jadi tinggal dirumah..?"
" Jadi pak, katanya mau dirumah sama kakek dan nenek aja.."
" Bik Tumi.. Ayo sarapan.."
" Duluan Non, terlalu pagi Bibik gak terbiasa.."
Raisa dan Raffi menghabiskan makan paginya, Raisa yang sejak tadi memandangi layar ponselnya tidak menyadari tatapan Raffi tertuju padanya sejak tadi.
" Pak saya sudah selesai, saya duluan.."
Raisa bergegas membawa piring kotornya ke belakang dan mencucinya.
" Bareng aku aja, kebetulan mau mampir kerumah Mama dulu.."
" Maaf pak, ojek online saya sudah menunggu di depan permisi..."
Raisa berlari ke arah pintu keluar dengan sedikit tergesa-gesa, Raffi yang melihatnya hanya menggelengkan kepala.
Setelah Raisa berangkat dengan ojek nya, kini giliran Raffi yang melajukan mobilnya di jalanan yang cukup padat. Raffi menuju kediaman orang tuanya, yang mungkin sang bunda masih menunggunya.
" Selamat pagi..."
" Mas Raffi kemana aja sih, sarapan dulu.."
" Udah barusan, Ma..." Raffi mengulurkan tanganya pada Mama Anita, dan disambut uluran tangan Raffi pun mencium punggung tangan ibunya dan meninggalkan ciuman di kening sang Mama.
" Bagaimana kondisi Mama...?"
" Seperti yang kamu lihat, Mama baik-baik aja. Gimana dengan pekerjaanmu Nak..?"
" Raffi baik Ma, ini juga berkat do'a Mama.."
" Ma Reza berangkat dulu.." Reza mencium kening Mama nya.
" Mas duluan..."
" Hati-hati..."
__ADS_1
" Okee..." Jawab Reza sambil berlalu.
" Sayang maafkan Mama, Mama tidak akan lagi memaksamu untuk kembali dengan Sofi.."
" Mama Yakinn..." Raffi memastikan.
" Iya.. " Nyonya Anita menggangguk dan tersenyum.
" Terimakasih Ma, Raffi yakin Mama adalah yang paling mengerti Raffi. Mama gak salah gak perlu meminta maaf.." Raffi berdiri dan bersimpuh di pangkuan sang Mama sambil terisak.
" Mama gak mau anak mama menderita dalam rumah tangganya, baik menurut Mama belum tentu benar menurutmu.."
" Rafi meminta do'a restu Mama untuk langkah Raffi ke depan, Mama juga sehat terus ya sampai Raffi dan Reza memberi Mama cucu.."
" Ayo berdiri, duduk disini.." Mama Anita menepuk-nepuk kursi yang ada disampingnya.
" Ma bagaimana dengan orang tua Nessa, pasti mereka akan memusuhi Mama nantinya.."
" Biarkan saja nanti Mama yang bilang sama mereka.."
" Raffi ke kantor dulu Ma.."
" Iya hati-hati.." Raffi mencium kening sang Mama dan bergetar berangkat ke kantor.
" Bik Surti kenapa nangis..."
" Iya Bik, Ica aja yang udah gak punya orang tua pengen berbakti.."
" Sabar ya..." Bik Surti mencoba memberikan support untuk Raisa.
" Nyonya mau kembali ke atas atau gimana..?"
" Bawa aku ke taman..."
" Mari Nyonya.." Raisa mendorong kursi roda majikanya menuju taman belakang, dan menghentikan di bawah pohon rindang disana.
Nyonya Anita terlihat menghirup udara dalam dan menghembuskan kembali, beberapa kali ia lakukan sambil memejamkan kedua matanya.
" Elena kok gak ikut..."
" Iya Nyonya tadi katanya mau dirumah aja.." Raisa bingung memberikan jawaban, bukan maksud menyembunyikan tetapi Raisa belum siap melihat reaksi majikanya saat tau dirinya tinggal dirumah putranya.
" Ada orang dirumah..?"
" Ada kakek dan neneknya Nyonya.."
" Ohh... Jangan dipaksa tinggal kalau dia tidak mau.."
Raisa hanya tersenyum, ia merasa bahagia setidaknya majikanya sudah banyak mengeluarkan kata-kata padanya.
__ADS_1
Matahari sudah sangat terik Raisa mengantarkan kembali Nyonya Anita ke kamarnya untuk istirahat, dirinya akan melanjutkan beberapa pekerjaanya yang belum selesai.
Di kantor Raffi terlihat lebih fresh dari biasanya bibirnya terus mengulas senyum sejak pertama menginjakkan kakinya di kantor, Joshua yang melihat perubahan pada bosnya menyimpan ribuan pertanyaan di benaknya.
Dirinya yang datang ke ruangan bosnya bermaksud menyerahkan dokumen dan menanyakan perihal wanita dirumah bosnya pun masih urung ia tanyakan, masih menunggu moments yang pas untuk bertanya.
Sejak pagi Bram terus uring-uring an dirumah mencari ibunya yang tidak tau kemana perginya, hingga hampir menjelang siang perutnya sama sekali belum terisi makanan.
Ia mondar-mandir ke dapur dengan maksud mencari sesuatu yang bisa di makan, meja kosong, rice cooker sama sekali tidak ada isinya, kulkas pun hanya ada beberapa sayuran mentah aja.
" Mama ini kemana sih, punya anak gak diurusin malah sibuk dengan aktivitas nya sendiri..."
Mata Bram berbinar kala melihat benda bulat berwarna hijau yang ada dibawah meja dapur, otaknya secepat kilat langsung bekerja.
Segera diambilnya dan segera ia bawa ke warung, dengan perasaan bahagia ia membayangkan akan makan sepuasnya pagi ini.
Tepat pukul 12:00 Ratna sudah tiba dirumah dengan nebeng mobil milik sahabatnya.
" Jeng mampir dulu lah.."
" Lain kali aja jeng, kita juga mau Cepet nyampek rumah istirahat. Capek banget nie.."
" Oh.. Terimakasih kalau gitu udah dianterin.."
" Sampai jumpa lagi Jeng Ratna.." Ucap ibu-ibu lain yang juga ada di dalam mobil.
Ratna melangkahkan kakinya meninggalkan halaman, alangkah kagetnya saat dirinya mendapati pintu rumah yang tidak terkunci dan anaknya tidak ada di dalam rumah.
" Bram...Bram... Kemana sih tu anak. Di kamar juga gak ada.."
Ratna menutup kembali pintu rumah dan masuk ke dalam kamarnya, ia membawa handuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah puas makan dan numpang WiFi di warung kopi Bram melangkahkan kakinya untuk pulang kerumah. Sesekali ia memukul-mukul pelan perutnya yang sesak karena kekenyangan, senyuman terus mengembang sepanjang perjalanan pulang.
Ceklekkkk...
Bram mendongakkan kepalanya ke dalam rumah, dilihatnya ibunya tidak ada diruang tamu. Ia pun segera masuk dan menutup kembali pintu rumah dengan sangat pelan dan segera berjalan cepat masuk ke dalam kamar, Bram duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan tangan yang memegang ponsel bermain game yang sama setiap harinya.
Ratna yang seperti mendengar pintu dibuka pun berjalan ke kamar putranya untuk memastikan.
" Bram.. Kamu itu dari mana aja, pintu gak di kunci kamar terbuka. Kalau ada maling bagaimana...?"
" Memangnya Mama nyimpen harta Karun dirumah..!"
" Tau ah ngomong sama kamu gak ada habisnya, kalau di ajak ngomong itu di lihat jangan mata fokus ke HP terus. Menghargai yang ngomong gak bisa...!"
" Ma ini lagi seru, Mama diem sebentar aja bisa gak sih. Bram mau fokus nih, lagian mama dari mana dirumah gak ada makanan sama sekali.."
" Suka-suka Mama donk..." Ratna pergi meninggalkan kamar putranya dan kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal.
__ADS_1