
"Kamu gak perlu jawab sekarang, aku tunggu sampai kamu siap. Tapi aku gak mau lihat kamu berduaan sama laki-laki lain, termasuk Reza..."
Hari sudah semakin sore Raffi mengajak Elena dan Raisa pulang kerumahnya, Elena yang kelelahan tertidur di kursi penumpang yang ada di belakang. Raisa menoleh dan tersenyum melihat putri kecilnya.
" Elena tidur ya...?"
" Iya mas capek banget kayaknya.."
" Sya besok kamu sudah mulai kerja kan..?"
" Terimakasih ya mas, semoga ada ini peluang rezeki buatku untuk membesarkan Elena..."
" Sya apa sebenarnya Elena sudah tidak memiliki orang tua...?"
" Dulu waktu aku mengambilnya kata pengurus pasti kemungkinan orang tuanya masih ada, tapi aku gak pengen cari tau mas. Aku juga gak pernah melihat siapa orang yang tega menaruh Elena didepan panti asuhan saat hujan, aku hanya tau bahwa Elena itu putriku..." wajah Raisa berubah sendu.
" Boleh gak aku menjadi ayahnya Elena, aku akan berusaha bahagiakan kalian berdua. Sya apa sedikitpun kamu tidak menyukaiku.."
" Rasa suka ada mas, tapi aku takut terlalu jauh dan tenggelam. Aku takut disakiti pria mas.."
" Tapi aku menyukai kamu Sya,.!"
" Kita harus dapatkan restu dari Nyonya Anita mas jika ingin melangkah, supaya tidak menjadi batu sandungan nanti kedepannya.."
Raisa turun dari mobil dengan membawa barang belanjaan sedangkan Raffi mengendong Elena yang masih tertidur, seolah tidak terganggu sedikitpun Raffi meletakkan kepala Elena dipundaknya.
" Elena tidur Den..?"
" Iya Nie pak Hasan, kecapean bermain.."
" Aduh enaknya tidur di peluk terus, jadi tambah pules.."
" Bisa aja Bibik..."
Raffi menidurkan Elena diatas ranjang, Raisa melepas sepatu kaos kaki dan menyelimuti tubuh mungil putrinya. Raffi mengambil remote AC dan menyalakan pendingin ruangan, supaya Elena tidur dengan nyaman.
Raisa bangkit dari atas kasur dan akan berjalan menuju kamar mandi, saat melewati Raffi yang berdiri di ujung ranjang Raffi segera menghentikan langkahnya dan memeluk Raisa dengan erat.
__ADS_1
" Mas..." Beberapa saat Raffi hanya terdiam.
" Mas Raffi..."
" Biarkan seperti ini dulu Sya, aku merasa nyaman selalu ada di dekatmu itu sebabnya aku langsung pindah kesini. Bisa aja aku tinggal di apartemen, tapi aku nyaman disini.."
" Mas Raffi aku belum resmi jadi janda mas.."
" Sudah.. Besok akte cerai mu akan diantarkan Dirga kesini.."
" Aku mau ke kamar mandi dulu mas..." Raffi melepaskan pelukanya dan memegang kedua pundak Raisa.
" Istirahat ya, aku juga mau ke kamar.." Raisa mengangguk.
Ceklek...
Pintu terbuka dan Raffi keluar dari dalam kamar Raisa, pak Hasan dan Bik Tumi kebetulan sedang duduk diteras belakang. Raffi segera menghampiri kedua pasangan ini dan bergabung bersamanya.
" Den Raffi mau Bibik bikinkan kopi..?"
" Gak usah Bik masih kenyang, pak Hasan Bik Tumi saya mau minta pendapat. Raisa itu gimana orangnya..?" pak Hasan dan Bik Tumi saling tatap dan tersenyum.
" Bener Den, bapak kira juga begitu. Malah besoknya Non Raisa memaksa bantuin Bibik menyelesaikan tugas rumah, dia bilang katanya Non Raisa dan Bibik itu sama statusnya.."
" Sampai saat ini penilaian Bibik pada Non raisa gak berubah Den masih sama, semoga kalau berjodoh sama Den Raffi Non Raisa tidak berubah.."
" Maksud Bibik apa..?"
" Maksud Bibik ya masih sama perlakukan Bibik dan bapak kayak gini Den.."
" Bibik itu trauma sama Non Sofi Den.." Bik Tumi langsung melotot menatap suaminya, kenapa harus membuka aib.
" Kenapa Bik.. Cerita aja gak apa-apa..!"
" Waktu itu Den Raffi sedang keluar kota, non Sofi kedatangan teman laki-laki dan meminta Bibik untuk membuatkan jus. Ya mungkin rasa jusnya gak enak Den, Non Sofi menyiramkan jus itu di kepala bibik.." Bik Tumi bercerita sambil meneteskan air mata mengingat peristiwa yang memalukan sekaligus menyakitkan yang menimpa dirinya waktu itu.
" Beneran itu pak Hasan...?" Raffi kaget karena selama dirinya ada dirumah Sofi bersikap lemah lembut pada siapapun.
__ADS_1
" Beneran Den, Bibik nangis dan mengajak bapak untuk pulang kampung aja gak usah kerja. Pengen hidup nyaman di desa Den.."
" Kok Bibik gak cerita sama aku waktu itu.."
" Bibik takut Den, nanti dikira Bibik mengadu lagi. Mungkin Bibik melamun waktu bikin jusnya jadi kurang enak.."
" Bik maafkan aku ya, aku menikahi Sofi atas permintaan Mama. Aku juga gak pernah mencintai Sofi, hingga pas malam aku pulang dari kantor melihat pasangan yang sedang bertengkar dipinggir jalan. Ya itu adalah Sofi dan pria itu, aku langsung pulang kerumah Mama dan meninggalkan bapak dan Bibik disini.." Raffi menggenggam tangan wanita paruh baya itu, matanya satu terlihat ada penyesalan disana.
"Bibik gak tau kalau Den Raffi dan Non Sofi sudah berpisah, bagaimana dengan Nona Ara Den apa Non Sofi merawatnya dengan baik..?"
" Begitu aku talak dia lewat telepon wanita itu langsung pergi keluar negeri membawa Ara Bik, aku menyesal karena sempat menuduh Ara bukan anak kandungku. Hingga Ara sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya diluar negeri.." Raffi menangis sesenggukan, Bik Tumi juga ikut menangis karena tidak pernah tau bagaimana keadaan keluarga Raffi setelah itu.
Pak Hasan menepuk-nepuk lembut punggung Raffi, pak Hasan juga ikut menitikkan air mata. Bagaimanapun Bik Tumi dan Pak Hasan sudah ikut keluarga Raffi sejak Raffi masih anak-anak.
" Langsung naik ke atas Sus...!"
" Baik Nyonya..."
" Ma... Mama ini kenapa. Reza salah ya sampai-sampai Mama mendiamkan Reza sejak tadi.." Reza mulai kesal karena pertanyaannya tidak pernah dijawab Mama nya.
" Mama gak suka kakak Mu berhubungan sama wanita itu, kamu juga.." Mama Anita yang diam pun langsung melontarkan kata-kata dengan kalimat penekanan pada putranya.
" Gak ada yang salah sama Raisa Ma, dia wanita baik-baik..."
" Salah... Salah menurut Mama, salahnya dia karena mengincar anak-anak Mama.." Mama Anita memotong kata-kata Reza dan berteriak.
" Tidak seperti yang Mama kira, justru Reza lah yang mengejar Raisa. Berusaha deketin dia walaupun Raisa terus menghindar.."
" Jadi kamu juga lebih belain wanita itu dari pada Mama, kamu juga mau melawan Mama.."
" Reza gak ada niat melawan Mama, tapi ini kebenaran Ma. Justru Reza sama mas Raffi saling berebut untuk dapetin Raisa, andai mas Raffi menolak Reza siap jadikan Raisa istri Reza Ma..."
" Ayo suster antarkan saya ke kamar, percuma ngomong sama kalian berdua. Gak ada yang bisa ngertiin perasaan Mama..."
" Permisi pak..."
Suster itu segera mendorong kursi roda majikanya ke lantai atas, Nyonya Anita menangis diatas kursi rodanya sepanjang jalan.
__ADS_1
Dua bodyguard dan para pelayan dirumah itu yang melihat pertengkaran majikanya hanya diam mematung tanpa bisa berbuat apa-apa, Reza bergegas masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu cukup keras.
Reza juga merasa kesal dengan sikap Mama yang seolah merasa berhak atas kehidupan anak-anaknya.