Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 26


__ADS_3

Silahkan masuk pak, Bu..." Seseorang mempersilahkan Raffi dan Raisa masuk ke suatu ruangan dan membukakan pintu untuk keduanya.


" Terimakasih..." Ucap Raffi sopan.


" Hey... Akhirnya datang juga kamu Fi..."


" Ya kan kita udah janjian masak mau diingkari.."


" Ini siapa...?" Dirga menunjuk pada Raisa


" Kenalin sahabat ku.." Dirga memperkenalkan diri dengan mengulurkan tanganya, disambut Raisa dengan menyambut uluran tangan Dirga.


" Dirga..."


" Raisa..."


" Sya ini Dirga, dia yang akan membantumu mengurus surat perceraian mu.." Raisa mengangguk tanda mengerti.


" Ayo silahkan duduk, mau minum apa..?"


" Gak perlu repot-repot..." Dirga membawa 2 kaleng minuman sari buah untuk tamunya pagi ini, setelah meletakkan dua kaleng itu di atas meja Dirga duduk disebelah sahabat lamanya.


" Ada yang bisa aku bantu Fi..?"


" Seperti yang aku ceritakan kemaren di telepon, untuk lebih detailnya biar Raisa yang bercerita.."


Raisa pun bercerita bagaimana dirinya diperlakukan suami dan mertuanya di rumah itu, kecurigaannya hingga akhirnya ia melihat langsung saat suaminya sedang bermesraan bersama wanita lain di dalam kamar. Kali ini Raisa benar-benar mantap untuk berpisah dari Bram, dan pergi dari rumah bersama putrinya.


" Oke.. Sepertinya akan segera bisa diputuskan kalau kejadiannya seperti itu, dari ceritamu suamimu lebih memilih wanita itu kan. Oia bagaimana dengan hak asuh putrimu..?"


" Elena akan terus bersama saya.." Wajah Raisa menjadi sendu kala mengingat putrinya.


" Kalau suamimu nekat meminta gak asuh Elena bagaimana..?"


" Maaf Elena..." Raisa berat untuk mengatakannya, kata-katanya tertahan.


" Katan Sya, semoga Dirga bisa membantu masalahmu..."


" Elena adalah putri yang saya ambil dari panti asuhan.." Luruh juga air mata Raisa, Raffi yang mendengarnya begitu terkejut. Ia mengambil beberapa lembar tissue dan menyerahkan pada Raisa.


" Surat-surat resmi adopsinya sudah lengkap..?"


" Sudah pak, semua sudah lengkap.."


" Oke berarti masalah putrimu sudah tidak ada masalah, saya akan bantu kamu semaksimal mungkin. Tunggu kabar s lanjutnya dari saya..."


Raffi dan Raisa meninggalkan firma hukum milik sahabat Raffi, keduanya sudah berada di dalam mobil tidak ada yang memulai pembicaraan. Raffi larut dalam pikirannya sendiri begitu juga Raisa, Raffi sangat penasaran dengan cerita Elena tetapi masih belum cukup nyali untuk menanyakannya.


Dari sini Raffi semakin mengagumi sosok wanita cantik yang ada disebelahnya, bagaimana dirinya bisa bekerja mati-matian untuk seorang anak yang bukan darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


" Kita ke kantor ya, ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan.."


" Bagaimana dengan pekerjaan saya mas..?"


" Kamu cuti sampai masalahmu selesai.."


Raisa tiba-tiba meneteskan air mata tanpa sadar ia menangis sesenggukan dalam diam, Raffi yang mendengar tangisan Raisa sontak langsung menatapnya. Dan benar Raisa sedang menangis, Raffi bingung ia pun menepikan mobilnya dan berhenti sebentar.


" Sya kamu kenapa..?"


" Bapak memecat saya, saya butuh sekali pekerjaan ini ada gadis kecil yang harus saya bahagiakan.." Raisa semakin terisak, jika menyangkut Elena ia paling tidak bisa menahan tangis.


" Kamu tidak dipecat, tapi kamu cuti dulu supaya fokus dalam perceraianmu agar cepat selesai.."


" Saya bisa bekerja setelah dari kantor pengadilan pak, saya tidak masalah kerja lembur.." Raffi menggelengkan kepalanya mendengar penuturan raisa.


" Oke kita bicarakan nanti.."


Raffi kembali melajukan mobilnya menuju kantor, hari semakin siang jalanan tidak terlalu padat seperti saat pagi. Setelah menempuh jarak kurang lebih 20 menit mobil Raffi sudah berhenti di lobby gedung kantornya, Raisa berjalan membuntuti Raffi.


Semua pegawai Raffi menatap aneh pada bosnya, bos yang terkenal sangat dingin itu membawa seorang wanita ke kantor. Bahkan keduanya keluar dari mobil yang sama, Raffi yang membawa mobil dan gadis itu duduk disebelahnya siapa sebenarnya wanita yang bersama bosnya itu.


" Selamat siang pak..?"


" Siang.."


" Ya.."


Para pegawai yang berpapasan dengan Raffi menyapa bosnya itu, dan Raffi pun membalas sapaan pegawainya dengan ramah. Joshua merasa sedikit heran bosnya membawa perawat Mama nya ke kantor, keduanya juga datang secara bersamaan.


" Bos selamat siang...?"


" Datang ke ruangan ku Jo.."


" Siap bos..."


Joshua segera mengambil berkas di mejanya dan bergegas ke ruangan bosnya, Raisa menunggu dengan duduk di sofa. Ia memandang sekeliling ruangan Raffi, ruangan yang cukup mewah untuk bekerja. Bahkan ukuran ruangan kerja bosnya 5 kali dari kamarnya dirumah mertuany dulu, Joshua duduk disofa dengan beberapa dokumen dan laptop yang masih menyala.


" Mana Jo..."


" Ini bos.." Raffi membubuhkan tandanya pada beberapa dokumen yang sudah Joshua selesaikan.


" Berkas yang kemaren masih saya kerjakan bos belum selesai, berkas itu masih untuk hari Rabu.."


" Kerjakan nanti, kita meeting dulu.."


" Sya tunggu disini, aku ada pekerjaan sebentar.."


" Baik mas..."

__ADS_1


Lima belas menit berlalu Raisa mulai bosan, ia melihat-lihat apa yang dirinya bisa kerjakan. Raisa membereskan lembaran kertas yang berantakan diatas meja tamu dan meja Raffi, setelah selesai ia masih bingung karena ruangan ini sudah sangat bersih untuk ia bersihkan.


Raisa melirik laptop Joshua yang masih menyala, laptop itu Joshua letakkan diatas meja disamping berkas yang belum rampung ia kerjakan. Raisa mulai mempelajari berkas itu, dan benar masih sedikit yang Joshua kerjakan.


Jiwanya meronta-ronta tangannya terasa gatal, ia pun mengerjakan berkas itu pada laptop hingga rampung. Raisa juga membuat powerpoint untuk presentasi dengan tampilan yang sangat menarik, tanpa dirinya sadari ia tertidur di atas sofa.


" Bos anda mau pulang sekarang.."


" Biarkan nunggu Raisa bangun dulu.." Joshua mendekat ke arah sofa untuk mengambil barang miliknya.


" Eh kamu mau ngapain...?"


" Mau ngambil itu bos..." Joshua menunjuk berkas dan laptop miliknya.


" Nanti aja, biarkan seperti itu. Kamu boleh keluar..."


Joshua pun keluar dari ruangan Raffi tanpa membawa apa-apa, Raffi kembali ke mejanya dan melanjutkan pekerjaannya. Raisa yang sudah puas tidur pun mengerjakan kelopak matanya, ia terkejut karena tidak sedang tidur di kamarnya. Matanya melihat sekeliling ia baru ingat ini di ruangan bosnya, Raisa bergegas bangkit.


" Kamu sudah bangun...?" Suara bariton itu membuat tubuhnya terjingkat.


" Maaf bos saya ketiduran.."


" Ayo kita makan siang.."


Raffi membelokkan mobilnya ke sebuah restoran yang ia lewati dari kantor ke rumahnya, sebelum pulang ia ingin mengisi perutnya terlebih dahulu. Tidak menunggu lama makanan yang tersaji dimeja langsung pindah ke perut Raffi dan Raisa.


" Oia Sya kamu berhutang penjelasan pada ku.."


" Penjelasan apa ya mas..?"


" Tentang Elena, mungkin lain kali saat kamu siap bercerita.."


Raisa hanya mengangguk dan menggunakan menundukkan kepalanya, memang ia merasa belum siap membuka semuanya.


" Ayo kita pulang.."


Tidak ada yang membuka obrolan hingga mobil yang keduanya naiki memasuki halaman rumah Raffi. Kebetulan pak Hasan dan Bik Tumi sedang ada diteras rumah memotong rumput.


" Elena dikamar Bik..?"


" Ia Non sedang tidur.."


" Saya masuk dulu ya.."


" Silahkan Non Raisa..."


" Pak.. Den Raffi dan Non Raisa semakin akrab ya..?"


" Iya buk, Den Raffi juga jadi sering antar jemput non Raisa.." Keduanya larut dalam obrolan singkat hingga pekerjaan merapikan tanaman pun selesai.

__ADS_1


__ADS_2