Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 06


__ADS_3

Tiba didepan sebuah pintu pak Andik segera mengetukkan tanganya.


Tok..Tok...tokkk


"Masuk.." Suara bariton terdengar sampai keluar ruangan.


Pak Andik segera memutar handle pintu dan mendongakkan kepalanya kedalam ruangan.


"Maaf Den, saya sudah membawa sesuai perintah."


"Suruh masuk pak Andik, dan segera tinggalkan ruangan ini."


"Baik Den.." Pak Andik segera memutar tubuhnya menghadap Raisa.


"Kamu silahkan masuk, saya tinggal dulu.."


"Tapi pak saya takut.."


"Raisa.., pak Raffi orangnya gak suka dibantah. Kamu masuk aja, saya tinggal dulu." Pak Andik segera meninggalkan Raisa yang masih mematung didepan pintu.


"Maaf pak Dirut saya Raisa.."


"Mammma..." Mendengar suara ibunya Elena berteriak dan berlari pada Raisa.


Raffi mengenyitkan keningnya, melihat pemandangan yang ada didepanya.


"Silahkan duduk.." Dengan tegas Raffi memintanya untuk duduk.


Raisa yang menggendong Elena segera mendekat pada kursi yang ada didepan Raffi dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Om... Ini mamatu.." Elena dengan polosnya mengenalkan mamaya pada Raffi.


Raffi hanya mengangguk pada Elena.


"Mamma... ini om yang noyongin Ena adi.."


Raisa segera menurunkan Elena dari gendongannya.


"Sayang duduk lagi disana ya, mama mau bicara sama Om.." Raisa menunjuk sofa tempat Elena tadi duduk, Raisa gak mau Elena mendengar bosnya memarahinya.


Elena bisa menganggapnya jahat seperti nenek dan papanya.


"iya Mammma...." Elena berjalan menjauh dari Raffi dan Raisa.


Raisa mendudukkan dirinya dikursi yang berada diseberang tempat Raffi duduk. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia tak ingin bosnya menyadari ketakutannya.


"Maafkan saya pak, saya mengaku salah dengan bekerja membawa anak. Saya menerima semua konsekuensi dari kesalahan saya.." Raisa berbicara dengan terus menundukkan kepalanya.


"Bagus kalau kamu mengerti.." Raffi menatap Raisa dengan perasaan kagum, semua yang ada dalam diri Raisa sangatlah membuatnya tertarik. Kulit putih, postur tubuh yang ramping, tinggi, wajah yang berseri-seri, mata, hidung bibir semuanya indah Sungguh membuatnya tak ingin memalingkan pandanganya.


"Saya sangat mengerti pak, sekali lagi saya minta maaf."


"Kasih saya alasan kenapa kamu melakukan itu..?" Raffi bertanya dengan nada datar.


"Saya harus bekerja pak untuk biaya hidup sehari-hari, anak saya juga tidak ada yang ngurus dirumah. Saya kira dengan saya membawa serta akan bisa selalu mengawasinya saat istirahat bekerja.."

__ADS_1


"Hanya itu..."


"Saya benar-benar minta maaf atas kesalahan yang saya lakukan, saya mohon bapak untuk melepaskan kami berdua. Saya akan meninggalkan pekerjaan ini.." Dengan berat hati Raisa mengatakannya, tak terasa matanya sudah berkaca-kaca. Ia masih terus menunduk, tak ingin bosnya melihatnya menangis.


"Kenapa tidak suamimu bekerja dan kamu ngurus anak.."


"Suami saya di PHK dari tempatnya bekerja dan sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan.." Raffi terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mungkin mengerti.


Raffi mendengar suara parau Raisa, "mungkin ia sedang menahan tangis" Batinya


Raffi telah mengetahui semua kehidupan Raisa dan Elena dari orang kepercayaannya


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya..?"


"Saya akan berhenti bekerja dari pabrik ini pak, saya akan mencari pekerjaan yang bisa dengan membawa anak saya " Ucap nya yakin.


Raffi tampak berfikir, bagaimana ia akan memperkerjakan Raisa dengan membawa serta Elena.


Andai Raisa masih tetap dipabrik rasanya gak mungkin, takut akan menjadi contoh karyawan lain.


Atau dikntornya, tapi dibagian apa ia akan menempatkan Raisa.


Elena yang mendengar ibunya terisak segera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati meja kerja Raffi, Elena segera berdiri disamping Raffi dan memegang tanganya.


"Om maapin mammma Ena, jangan malahi mama.."


Seketika Raffi tersadar dari lamunannya, hatinya terasa perih mendengar permintaan dari bocah kecil disampingnya.


Raffi segera menatap wajah polosnya dan segera ia memundurkan kursi yang didudukinya.


"Sayang om gak marahi mama Elena kok.."


Raffi melihat Raisa yang duduk diseberang mejanya.


"Ena tedih alau mamma Ena dimalahi.."


Seketika bibir Raffi mengembangkan senyumnya, gadis kecil yang begitu menggemaskan.


Gadis yang mampu meluluhkan hatinya, mengikis angkuh dan dinginnya seorang Raffi.


Raffi segera meraih ponselnya dan menyodorkannya pada Raisa.


"Simpan nomor ponselmu disini, nanti akan aku hubungi kelanjutanya.."


Dengan tangan sedikit bergetar Raisa menerima ponsel bosnya, ia segera mengetikkan nomornya dan menyerahkan kembali pada bosnya.


"Terimakasih banyak pak, maaf apa saya dipecat saat ini juga..?"


"Pulanglah.."


"Maksud bapak saya dipecat...?"


"Saya bilang pulang ya pulang." Raffi berbicara dengan nada tinggi.


Elena yang duduk dipangkuannya segera melorot turun dan berlari memeluk kaki ibunya.

__ADS_1


"Mammma ayo kita Puyang, om jahat Ma.."


Raisa yang melihat anaknya ketakutan segera menggendongnya, Elena memeluk erat pundak ibunya.


Melihat reaksi Elena demikian ada perasaan menyesal dihati raffi, karena tidak bisa mengontrol ego nya.


"Maaf pak saya permisi, sekali lagi terima kasih sudah menyelamatkan anak saya."


Raisa segera membalikkan tubuhnya dan segera melangkahkan kakinya keluar ruangan bosnya.


Raffi hanya mematung menatap kepergian Raisa dan Elena, ia tak punya keberanian untuk menahannya.


"sayang maafin mama ya nak.."


Raisa terus mengusap belakang kepala anaknya yang menghadap kebelakang.


"Maapin Ena mammma, Ena gak dengelin kata mamma.."


"Enggak sayang, Elena gak salah. Mama yang seharusnya jagain Elena.."


Raisa bergegas mengemasi barang-barangnya dan Elena. Segera melangkah meninggalkan pabrik, ia menghentikan angkot untuk pulang kerumahnya.


Tatapan tajam mertuanya menyambut kepulanganya, seperti biasa Raisa mengabaikan.


" Kenapa jam segini udah pulang..?" tanyanya ketus."


" Sayang masuk kamar dulu ya, Mama mau ngomong sama nenek.."


Elena segera berlari masuk ke dalam kamarnya dan duduk dipinggir tempat tidur.


" Ica dipecat Ma, ketahuan bos kerja bawa anak..!"


" Terus mau makan apa, lagian ngapain kamu bawa Elena kerja tambah nyusahin kan jadinya."


"Ma... Aku gak pernah ngerasa disusahkan sama anakku.."


" Terus itu namanya apa..?,"


Raisa berlalu pergi ke kamar anaknya, Raisa melihat Elena yang melamun diatas ranjang.


" Sayang..." Raisa mengusap lembut kepala anaknya dan mendaratkan ciuman disana.


" Ma.. Nenek marah ya Ama Ena..?"


" Enggak sayang, nenek sayang kok sama Elena. Sama kaya mama sayangnya ke Elena.."


Raisa memeluk anaknya, Raisa keluar untuk mengambil piring. Raisa akan memakan bekalnya yang masih utuh bersama Elena.


Besok Raisa akan mencoba mencari pekerjaan lagi, mungkin yang bisa dengan membawa anak. Raisa juga bingung bagaimana nasib Elena kalau ditinggal bekerja, mau dititipkan ke orang rumah rasanya sudah gak mungkin.


Di kota ini Raisa gak punya saudara sama sekali, hanya Amel sahabatnya satu-satunya. Sekarang akan lebih jarang bertemu karena sudah gak satu kerjaan sama Amel.


Dengan telaten Raisa menyuapi Elena, tak lama porsi makan siang elena sudah habis pindah ke perut mungilnya.


Elena bukan tipe anak yang susah makan, dan gak pilih-pilih makanan. Apapun yang Mama nya siapkan selalu habis, ini yang membuat pipinya begitu berisi.

__ADS_1


__ADS_2