Jodoh yang kedua

Jodoh yang kedua
Episode 20


__ADS_3

" Hallo sayang..."


" Mama..." Elena berlari dan berhambur di pelukan sang Mama.


" Hari ini Elena ngapain aja...?"


" Kasih makan ikan, jalan-jalan di taman sama kakek. Terus bantuin nenek masak.."


" Elena gak nyusahin kakek sama nenek kan..?"


" Enggak kok Ma, iya kan Kek.." Elena menoleh pada pak Hasan yang berdiri tidak jauh dari tempat Elena dan Raisa ngobrol.


" Enggak kok, Elena pinter banget. Sya kamu top deh didik Elena.." Pak Hasan mengacungkan kedua jempol tanganya.


" Terimakasih pak Hasan.."


" Oia Mama mau mandi dulu terus ganti baju, nih udah bau asem.."


" Elena udah mandi Ma tadi sama nenek.."


" Oke, mama mandi dulu ya..."


Raisa masuk ke dalam kamar meletakkan tas dan barang yang ia bawa pada tempatnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi, setengah jam berlalu kini Raisa sudah rapi. Ia berjalan menuju dapur untuk membantu Bik Tumi memasak makan malam.


" Bik masak apa..?"


" Ini Non.." Bik Tumi menunjukkan bahan makanan yang akan dirinya olah untuk makan malam. Ada bahan untuk cap cay dan ayam goreng lengkuas.


" Banyak sekali Bik..?"


" Takutnya kalau Den Raffi mampir Non, gak enak kalau cuman masak dikit.."


" Bibik tadi seharian sudah bantuin Ica jaga Elena, sekarang biar Ica aja yang masak.."


" Jangan Non, ini sudah tugas Bibik.."


" Bik gak apa-apa, Bibik mandi istirahat gih.."


Beberapa kali bik Tumi menolak sebanyak itu pula Ayra memaksanya, dengan perasaan sungkan akhirnya bik Tumi ke kamar untuk membersihkan diri.


Tepat pukul 18:00 semua masakan sudah terhidang di atas meja makan, semua masih mengepulkan uap panasnya.


" Udah selesai Non.." Bik Tumi yang melihat masakan berjejer di meja makan.


" Udah bik, coba di cicipi bik siapa tau kurang apa gitu buat koreksi Ica kedepannya.."


" Gak ah udah pasti enak nie.."


Adzan Maghrib sudah berkumandang semua orang melaksanakan kewajibannya, Raisa dan Elena berjamaah di dalam kamar di akhiri berdoa bersama.


" Sayang mau makan sekarang..?"


" Mau Ma.. Elena sudah lapar..."


" Mama ambilkan ya nanti Elena Cepet nyusul.."


Raisa menyuapi Elena di depan tv ruang tamu, keduanya duduk dibawah yang beralaskan karpet bulu yang lembut. Terdengar suara pintu dibuka kemudian ditutup kembali, Raisa menoleh dan ternyata bosnya.


Raffi mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, melonggarkan dasinya dan memijat-mijat tengkuknya yang terasa lelah.


" Pak Raffi capek banget ya.."

__ADS_1


" Iya Nie.."


" Mandi air hangat pak biar capeknya hilang, habis itu sholat dulu terus kita makan malam.."


Raffi menatap Raisa dalam-dalam.


" Raisa sedang memperhatikanku ya.. Kenapa perasaanku jadi aneh gini..."


" Oia saya mau Maghrib dulu, Elena makan ya banyak ya.."


" Iya Om..."


Raffi naik ke atas untuk membersihkan diri sebentar dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, menunggu adzan isya Raffi merebahkan tubuhnya sebentar di atas ranjang.


Karena lelah bekerja seharian membuatnya malah ketiduran, Raisa, pak Hasan dan Bik Tumi sedang duduk di atas karpet dengan melihat acara televisi di ruang tamu.


" Pak Den Raffi kok lama ya di dalam kamar..?"


" Ya gak apa-apa donk lama, memangnya kenapa..?"


" Mau nawarin makan malam.."


" Non Ica udah lama kenal sama Den Raffi..?"


" Belum Pak, Ica karyawan beliau di pabrik jeans.."


" Beneran Non..?"


" Iya Bik beneran, Ica di pecat karena ketahuan bawa Elena ke pabrik.."


" Kata Bibik pas den Raffi bawa Non Ica kesini dikira Den Raffi bawa istri barunya.."


" Ada-ada aja Bibik mah.."


" Habisnya kan gak ada yang ngira Non Ica perawatnya Nyonya sampai dibawa pulang kesini, terlihat serasi bangettt..."


" Eh tunggu pak, tapi Ica merasa ada yang aneh. Kenapa tempat tidur pak Raffi langsung di ganti ya, apa karena ada bekas Ica dan Elena disana.."


" Bibik Juga...." Kata-kata bik Tumi menggantung kala mendengar deheman dari seseorang yang begitu dikenalnya.


" Ehem...Hem...."


" Den Raffi.. Makan siang dulu Den..."


" Makan dulu ngobrolnya dilanjutkan nanti.."


Raffi mendengar semua apa yang ketiganya tadi bicarakan dengan jelas, tetapi dirinya bersikap biasa saja agar ketiganya tidak merasa canggung.


" Elena dimana...?" Tanyanya untuk memecah suasana.


" Sudah tidur pak, capek seharian bermain jadi jam segini udah tidur.."


" Oh..."


Selesai makan malam Raisa membereskan meja makan dan membawa piring kotor untuk di cuci.


" Bik biar saya saja.."


" Tapi Non..."


" Gak apa-apa Bik, biar saja saja.."

__ADS_1


Raisa segera membereskan peralatan makan yang kotor dan merapikan dapur, kemudian bergegas berjalan melewati ruang tamu akan menuju kamar putrinya.


" Sya...." Raffi yang duduk di sofa langsung memanggilnya saat dirinya melewati ruang tamu.


" Iya pak..."


" Ada yang ingin saya bicarakan, duduklah..."


Raisa segera duduk diatas karpet seperti yang biasanya dirinya lakukan.


" Duduklah di atas, siapa yang nyuruh duduk dibawah.."


" Tapi pak saya sudah terbiasa.."


" Saya tidak suka di bantah.."


Raisa beringsut dan berdiri pindah ke sofa yang tidak terlalu dekat dengan bosnya itu.


" Apa kamu sudah mengurus perceraian..?"


" Belum pak, belum ada waktu.."


" Kalau gitu besok kamu ambil libur dan pergilah mengurusnya.."


" Tidak perlu pak, lain kali saya akan mengurusnya.."


" Kamu masih berat hati mau bercerai dari suamimu itu.."


" Justru saya ingin segera bercerai pak, secepatnya.."


" Nanti hak asuh Elena bagaimana...?"


" Jelas sama saya pak, bukan anak Bram..!"


" Maksud kamu, apa kamu pernah menikah sebelum bersama suamimu sekarang.."


" Ceritanya panjang pak, saya belum siap bercerita pada siapapun untuk saat ini.."


" Bagaimana rencana kamu selanjutnya..."


" Saya akan melanjutkan hidup saya bersama anak saya pak, punya suami juga seperti gak punya suami. Elena juga gak akan kaget, toh kita juga udah terbiasa hidup berdua, rencana saya bukan depan mau pindah ke kost aja pak.."


" Jangan kamu dan Elena disini aja, saya tadi mendengar apa yang kalian bicarakan di ruang tamu.." Raisa mendadak mengerutkan keringnya..


" Mati aku, apa yang pak Raffi dengar ya.."


" Mendengar soal apa ya pak.."


" Semua yang kalian bertiga obrol kan, soal ranjang yang saya ganti. Kamu gak perlu merasa itu semua gara-gara kamu, semenjak saya bercerai dengan mantan istri rumah ini tidak pernah lagi saya tinggali. Karena apa, karena kenangan pahit itu masih teringat jelas dibenak ku. Soal ranjang yang saya ganti karena ingin menghapus bekas wanita itu disana, sekarang dengan nyaman saya bisa tidur di kamar itu tanpa ada jejak mantan istri."


" Bu Sofi ya pak..?"


" Oh... Kamu mengenalnya..!"


" Bu Sofi pernah beberapa kali datang menemui Nyonya Anita, dan sepertinya beliau tidak menyukai saya ada disana dari tatapannya.."


" Memang seperti itu orangnya, hatinya busuk .."


" Bapak tau dari mana..?"


" Untuk sekarang masih firasat saya aja, tadi saya yakin suatu saat kebenaran akan terungkap.." Raisa merasa majikanya ini pernah mengalami peristiwa yang mengguncang Batinya, terlihat jelas dari raut wajahnya saat bercerita. Seperti menyimpan kesakitan yang tidak tau apa.

__ADS_1


__ADS_2